Terimakasih..
inilah Hari Indahku
Sinar
matahari mencoba menyelinap masuk ke dalam kamarku, melewati lembaran-lembaran
hijaunya selambu jendela kamarku. Ku
ijinkan kehangatannya memasuki kamarku yang dingin. Bagaikan
dinginnyajam dinding menyapaku dengan pertunjukan detak detik kehidupannya yang
terus berputar, menandakan sudah waktunya aku berbenah diri.
“ouumm..
hari yang cerah diawal minggu ini, hari senin.”, pujiku.
“hai
Coco, pagi Deriz !” aku menyapa teman setiaku yang selalu menemaniku, my lovely
puppet.
“Pio,
ayo mandi !” seru bundaku. Aku yang tadinya menatap cahaya hangat itu, tak
sedikitpun aku ingin membuyarkan tatapan kedalam hangatnya cahaya itu. Namun,
aku hanya menjawab,
“iya,
Bun…”
Dalam hati kecilku mencoba berharap, “hm..
semoga menjadi hari yang menyenangkan bagiku saat ini.”
Oh
ya, aku belum berikan identitasku. Namaku Friza Vioneta Virgaria. Panggil aja
aku Pio (panggilan kecilku). Saat ini aku baru duduk di kelas pertama SMA, ya
kelas 10. Aku punya kakak cewek yang sudah kuliah di UGM, jadi jarang ada
dirumah. Dia itu, kakak yang paling aku sayang, namanya Pipit. Bundaku
memberikan panggilan seperti itu, karena ingin kakakku tidak pendiam. Eh,
ternyata dia pendiem banget.:D
Jiahh,
keenakan cerita-cerita nih. Udah dulu ya, harus cepat-cepat mandi nih takut
kekunci gerbang sekolah. Hehehe…
“Bunda,
aku berangkaat !” seruku dari teras rumah.
“Ayah
udah nungguin nih, Bun..”lanjutku.
“Pio,
minum vitaminnya dulu”
(ooups aku lupa deh)
“Ga’
usah Bun, pulang sekolah aja diminumnya!”
“Tapi…
ini..”
Belum
sempat Bunda menakarkan satu sendok teh vitamin itu, aku sudah menyabet
tangannya untuk salam.
“Aku
berangkat, Assalaamu’alaikum..!”
“Wa..
Wa’alaikum salam, anak itu selalu lupa dengan vitaminnya, semoga baik-baik saja
dia.”
“buat apa sih
minum vitamin, aku kan sudah ABG, masih haruskah minum vitamin ?? enggaklah,
pasti udah kuat kok. Hhaha..” curhatku dalam hati.
Bunda langsung
mengirimkan pesan singkat ketika aku dalam perjalanan,
“Pio, pulang
sekolah minum vitaminnya, ayah nanti ada rapat dan bunda pulang dari kantor
agak telat, jadi jaga makanan dan minum obat serta vitamin ada di mbak Ijah.
Bunda”
Inilah
Bundaku, setiap aku udah nggak minum vitamin sebelum berangkat sekolah pasti
deh always send me a message. Heran deh, hehehe. Ya namanya orang tua ya
pastilah khawatir. Lagian juga jarang dirumah mereka. Tapi, khawatirnya tidak
seperti ini juga, ya nggak…
***
Sampai di gerbang sekolah..
“Makasih
Yah, Assalamu’alaikum !” aku salim dengan Ayah.
“Iya,
Wa’alaikum salam. Pio, nanti Ayah ada rapat jadi pulang agak telat, Bunda
juga.”
“Iya
Yah, Bunda udah SMS tadi.”
Dialah
Ayahku, tegas, keras namun baik dan perhatian. Tapi, sayang, aku gak seberapa
dekat dengannya, meskipun begitu, dia tak kalah dengan Bundaku, dia lebih
mengkhawatirkanku. Hmm, Bunda juga
pernah cerita, dulu Ayah menganakemaskan aku, dikit lebay ya tapi memang seperti
itu kenyataannya. Dulu itu, aku selalu dilarang makan jajanan luar rumahlah,
harus make alas didalam rumah lah. Nggak boleh keluar waktu maghrib tiba lah,
dan apalah. Semuanya adalah pantangan-pantangan yang tidak boleh aku langgar.
Tapi itu dulu, 15 tahun lalu, hhehe..
Gak
nyangka, kebanyakan bernostalgia sendiri. Jadi senyum-senyum sendiri sampai aku
tersandung batu besar di depan kelas.
“Aduhh!”
suaraku menggelegar (haha lebay)
“Assyem nih
batu ko malang di tengah jalan sih, Aissh” terdengar mulutku ngomel-ngomel
sendiri ke batu itu, kayak punya kelainan jiwa deh. Haha.
Tiba-tiba dua
orang didepanku tertawa lebar selebar-lebarnya tanpa bergegas untuk menolongku.
“Hahaha..
mbak, jalan mau ke kelas disebelahnya batu itu, bukan batunya yang ngalangin
jalan Anda.” Teriak sahabatku dengan nada-nada ngeledeknya yang khas.
Nah itu,
dialah sahabatku namanya Nela, aku panggil dia Bundel, selain karena agak
berisi lah dikit dari aku, dia juga dewasa banget orangnya. Hehehe.
“hahaha.. lah
wong ada jalan enak minta yang berbatu. Ish ish ish. Aneh tenan”
Hmm, yang ini ni, sahabatku juga namanya
ica’ yang biasa aku panggil Oma, wakwakwak. Selain karena wajahnya yang
dewasa-dewasa gitu seperti panggilannya, tapi ada cerita tersendiri yang
bersembunyi di balik nama samarannya itu. Gak perlu aku ceritain, ceritanya
tidak mudah dimengerti.:D
“Heh,, kalian
lo sadis (terdengar theme song Afgan, haha) sama aku. Malah ketawa, nggak
cepet-cepet bantuin bangun. Kaki sang putri nanti membiru tahu.”
“Hhehe.. sini
aku bantu bangun. Cup cup cup, jangan nangis gitu donk, kayak anak TK tahu.”
“wee.. mang
aku nangis ?? aku bukan anak TK yoo..”
Bundel yang niat bantuin aku bangun, tapi
niatnya kok gini yaa…
“eh eh eh, hih
Bundel.. kok kaki ku yang di tarik, tangannya tahu ! ich Bundel !” ngomelku
nggak jelas.
Temanku yang satu ini memang jahilnya
kebangetan,
“hehehe, maaf
Noci, bercanda..”
Sementara itu..
“klik..klik..klik
!”
“
ich Oma, hape mulu yang di gebetin, cowok tuh yang harusnya digebet !”
“ah ini, manja
deh. Bangun sendiri Noci, kayak anak batita yang belajar jalan ajah, jatuh
masih minta dibangunin.”
Dia ini lagi
bicara sama aku, tapi tatapannya terus saja tertuju pada hapenya itu. Hmm, dia
ini Miss Facebook, pasti pagi-pagi udah FB-an ni anak.
“Aisshh, emang
nyuruh itu gampang, tapi sakit tahu, ma !”
“hoo.. yelah
yelah..” produksi ekspresi datarnya sudah keluar.
Hmm, Omaku
yang ini memang pendiem tapi Cuma hape mulu yang dikerjain, nggak waktu
dikelas, atau saat pelajaran, apa kata hati dia ajah.
Ya, inilah
kami, selalu membuat kerusuhan sendiri yang bisa ngocok perut kami. Kayak
iklannya Chitato tuh, live is never flat
(bukan promosi, :D). seperti itulah kami. Geng kita ini aku sebut, chums choki choki sebab, saat break
sekolah kita selalu berburu cokelat pasta di kantin. Hahaha..
Sudah
seperempat jam ribut nggak ada ujungnya. Bel sekolah berbunyi, upacara segera
dimulai. Aku segera mengenakan atribut sekolah. Ketika, lagi sibuk-sibuknya
make topi, ada seseorang yang gak sengaja menyenggolku.
“eh eh, maaf
maaf.” Sahutku.
“santai aja
lagi”
“hehe iya” aku
nggak liat wajahnya, tapi aku kenal suara ini.
“pagi Pio ??”
sapanya dengan senyum.
“eh, iya.
Ternyata kamu tuh ndri’, iya pagi juga ! have a nice day yah !”
“have a nice
monday too ! aku duluan ya..”
“ohh, i..iya”
Dia lantas
meninggalkan aku dengan senyuman hangatnya. Bertemu dengannya sudah membuat
hariku menyenangkan. Hmm, dialah kekaksihku, Adri. Aku biasa panggil dia Ndri’.
Kita berdua beda kelas, dia sekelas dengan
Nela. Tapi, kelas kita bersebelahan. Dia ini, perhatian, penyayang tapi cuek.
Cueknya ini lihat sikon juga sih, kalo marah sih dia cuek banget tapi basicly
dia perhatian kok.
Diawal
upacara, aku merasa telapak tanganku dingin seperti kalau saat musim hujan,
“kayaknya aku
nggak enak badan”
tapi hari ini cuaca cerah banget kok. Aku
nggak menghiraukan itu. Tapi, di tengah upacara, kakiku gemetar tak dapat
dikendalikan. I was so panic. Aku
berusaha mengendalikannya untuk berhenti bergetar,sempat terhenti. Namun saat
aku tidak mengendalikannya kakiku terus saja bergetar lebih parah dari
sebelumnya. Aku bingung harus berbuat apa, lama kelamaan barisan belakang
mengetahui kakiku bergetar. Mereka memaksaku untuk pergi ke UKS. Tapi, aku menolaknya karena aku rasa ini
hanya kecapekan saja. i think I’m ok.
Aku takut, baru kali ini aku merasakannya. Aliran darah yang ku rasa tidak
lancar di peredaran darah kakiku, membuatku merasakan ngilu yang amat sangat.
Tapi. Aku harus tetap menahannya, aku tidak ingin pergi ke UKS.
“I’m OK. pio nggak kenapa-kenapa” aku
selalu berkata seperti itu agar aku bisa bersemangat.
Akhirnya,
upacara selesai. Kekuatanku sudah habis karena menahan rasa sakit kakiku. Aku
tak sanggup berjalan, aku duduk sebentar dibawah pohon dekat barisanku berada.
Aku paksakan untuk berjalan menuju tempat duduk itu dengan tertatih-tatih,
Bundel dan Oma melihatku dengan tatapan aneh dan penasaran apa yang terjadi
denganku. Tapi, aku tidak ingin memberi tahunya akan keadaanku sekarang.
“Noci, kamu
kenapa ? kok kamu pucat gitu ?”
Hah, apa ?? aku pucat ? aku tak mengetahuinya
kalau aku pucat.
“ah ndak.. aku
nggak apa-apa Bundel.” Aku berusaha meyakinkannya.
“kamu lo pucat
banget, bener !” tambah Oma.
“haha, kalian
bercanda, I’m Ok guys.”
“tapi, kenapa
kamu tadi nggak ke Uks aja. Gemetar bangat tubuhmu ?!”
“buat apa,
Bundel. Aku nggak apa-apa. Mungkin, kecapekan saja. biasalah artis dadakan
!”aku berusaha mencairkan suasana dengan sedikit humorku.
“hmm, okelah.
Kalo ada apa-apa lagi bilang ke kita”
“siip daah”,
tapi kenyataannya kakiku masih terasa ngilu.
Tiba-tiba..
“Pio,
kamu nggak apa-apa ??”
“eh
Adri’, nggak. Aku nggak apa-apa”
“ehh,
Noci. Aku ma Oma mau ke kantin dulu ya.”
“hmm,
oke. Ntar aku titip choki-choki yaa..”
“ssiap
Cii”
Adri melanjutkan investigasinya kepadaku,
“ tapi tadi, kamu gemetaran tahu, apakah gitu yang kamu bilang nggak apa-apa
??”
“Adri’, iyah
aku nggak apa-apa”
“kata temenku
juga, kamu pucet banget tadi ?!” dia semakin khawatir.
Aku hanya
tersenyum, “Adri’, aku nggak apa-apa. Lihat, aku nggak pucet lagi kan ?”
“hmm, okelah
kalo gitu. Tapi, kalo ada apa-apa lagi kamu harus ngasih tahu aku !”
“siap pak !”
aku menghiburnya. “kalo sama anaknya TNI aku harus tegas nih, hehe.”
“pio-pio
jangan bercanda, tapi, gimana gemetarnya udah hilang ?”
“iyah lumayan.
Duduk sebentar udah pulih kembali kok, ndri’.”
“Alhamdulillah
kalo gitu, udah bel nih, masuk kelas ya,Pio ..”
“oke Ndri !”
***
Dirumah…
“assalam’alaikum..”
“wa’alaikumsalam..
mbak Pio. Ibu sama Bapak belum pulang.”
“iya
mbak Ijah, Pio tahu. Pio mau ke kamar, ganti baju terus tidur”
“tapi mbak,
kata Ibu, minum obat dan vitamin dulu, mm.. kayaknya mbak Pio kecapekan ya”
“hmm, iya ini.
Tadi habis upacara.”
“tapi, mbak
Pio nggak apa-apa kan ?”
“nggak kok,
aku biasa aja. Udah mbak Jah, nanti aja minum vitaminnya, aku mau istirahat
dulu”
“o.. o iya
tapi mbak pio.”
“udah nanti
aja mbak Jah”
Aku
meninggalkan mbak ijah tanpa mendengarkan kata apa yang akan dia ucapkan. Kenapa
mbak Ijah mengkhawatirkan aku seperti Bunda ma Ayah. wajarlah. Udah ahh, tidur
aja hilangkan sakit kepalaku.
Ketika bangun tidur dan ingin mengambil air wudhu..
Loh,
obat sama vitamin sudah siap di meja kecil kamarku. Dan Bunda tiba-tiba masuk kamarku,
terlihat wajah Bunda yang sepertinya sudah sangat khawatir akan keadaanku.
Tapi, aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Pio,
udah bangun ?”
“iyah
Bund, loh kok Bunda sudah pulang ? katanya pulang telat ?”
“nggak
apa-apa, Bunda Cuma pengen nemenin Pio.”
“hahaha,
Bunda. Pio bukan anak kecil lagi, jadi Bunda nggak usah repot nemenin Pio”
“tapi,
kata Mbak Ijah, Pio kecapekan ?”
“iya, tadi
habis upacara Bunda, ya tapi Pio nggak kenapa-kenapa kok Bun. Hmm, jadi
penasaran kenapa Bunda khawatir gitu ?”
“ya Bunda
khawatir aja sama Pio, kan Cuma Pio yang selalu nemenin Bunda”
“ah Bunda, kan
ada kak Pipit juga”
“iyah tapi Pio
yang ada di deket Bunda kan saat ini ?”
“he’em, Bunda.
J ya sudah Pio mau ambil wudhu dulu”
“iyah nak.”
Senyum keibuannya menghiasi wajahnya. “hmm, semoga tidak terjadi apa-apa dengan
Pio”
Aku heran dan jadi penasaran sendiri kok
Bunda segitunya yang khawatir denganku. Padahal aku nggak kenapa-kenapa. Cuma
kecapekan habis upacara saja, Bunda sudah mengkhawatirkanku, sampai-sampai
kerjaan kantor pun ditinggalkan hanya untuk menemaniku dirumah. Ahh, sudahlah.
Begitulah seorang Ibu terhadap anaknya.
***
jumat malam sabtu…
Selama
seminggu terakhir ini, aku merasa lelah. Malam ini, aku ingin mengistirahatkan
tubuhku yang sepertinya meronta ingin merebahkan diri diatas tempat tidur.
Tapi, rasa lelahku terbayar oleh adanya SMS
dari Adri’. Aku sangat senang, sampai hilang rasa lelahku karena saking
kangennya dengan kekasihku.
Tapi, memang
rasa sakit dan lelah tidak dapat diganti oleh apapun. Tetap rasa lelah memaksa
tubuhku untuk beristirahat sejenak. Tak seperti biasanya, aku tidak pernah
merasakan hal ini. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit, sangat sangat sangat
sakit. Seperti tertusuk benda tajam berkali-kali tanpa henti. Aku berusaha
menahannya, tapi semakin aku tahan semakin sakit rasanya tusukan-tusukan itu.tak
ada seorang pun dirumah yang mengetahui keadaanku saat ini. Tiba-tiba, Aku
merasakan badanku lemas tak bertenaga. Aku tertidur sejenak.
Ketika terbangun,
Adri mengirimkan pesannya sangat banyak kepadaku tadi, saat aku tertidur. Detik
jam dinding memberitahukan bahwa aku masih harus tidur karena pukul 01.25 ayam
jantan pun belum terdengar berkokok membangunkan setiap orang. Dan aku ingat,
hari ini aku berolahraga, jadi harus berangkat pagi-pagi banget. Tapi aku
menyempatkan untuk shalat tahajud sebentar. Aku berdoa..
“ Ya Allah,
semoga hari ini hari yang menyenangkan untukku dan hari baik bagiku, amiin”
Aku kembali
melanjutkan tidur. Ketika bangun tidur aku merasakan ada yang berbeda dari
diriku. Hidungku tiba-tiba mampat dan tak bisa bernafas dengan lega. Selama ini
aku tidak pernah merasakan hidungku mampat tiba-tiba, seperti orang asma.
Padahal aku tidak sedang sakit flu ataupun pilek dan setahuku aku tidak punya
penyakit asma. Tapi, Aku tidak menghiraukannya, mungkin memang aku lagi sakit
sinus. Tapi lama kelamaan, rasa mampat dan susah bernafas itu hilang juga dengan
sendirinya.
Pagi hari di sekolah..
Karena
Bunda ingin ikut mengantarkan aku, jadi Ayah mengantarkan aku dengan mobil.
Meskipun di dalam mobil, Bunda masih menyuruhku untuk memakai jaket dan membawa
jaket tebal itu saat disekolah. Karena olahraga kami jam 5 pagi jadi menurut
Bunda, udara sangat dingin dia takut aku akan sakit jika terkena udara dingin.
Padahal kan bagus ya, udara pagi itu. Hmm, Bunda Bunda..
Aku
menyampaikan salam kepada Ayah Bundaku,
dan mereka menjawabnya dengan senyuman yang dapat menghangatkan pagi ini yang
sebenarnya tidak terlalu dingin. Namun, bagiku entah mengapa pagi ini sangatlah
dingin. Tapi, aku tak menceritakannnya kepada mereka. Takutnya mereka malah melarangku
untuk berolahraga.
Aku
sedikit menggigil ketika sampai disekolah.
But, I don’t care about it. Ketika stretching, tiba-tiba hidungku mampat
kembali tapi disertai juga rasa kepalaku yang sangat sakit seperti yang
sebelumnya pernah aku rasakan itu.
“aduuh
!” aku meluapkan rasa sakitku dengan teriakan kecil yang aku pikir tak ada yang
mendengarnya. Tapi, Bundel yang berbaris disebelahku mendengar teriakanku yang
memang terlihat menahan sakit yang sangat itu.
“loh,
Noci. Kamu kenapa ? kok tiba-tiba pucet gitu wajahmu ?”
Aku hanya menggeleng karena aku tidak bisa berkata apa-apa, sakit itu
membuatku tak bisa membicarakannya. Dengan wajah yang berusaha kubuat
meyakinkan, akhirnya Bundel percaya juga.
Aku
membiarkannya dan sambil terus beristighfar. Agak mendingan. Namun ketika
guruku menyuruh kami semua berlari seperti jogging. Sakit kepala, hidung yang
mampat dan nafasku yang cepat kembali lagi. Menjadi tak terkendali. Sangat
berat.
“sekarang kita coba latihan
bermain volley ya ?” ajak guru olahragaku.
“ayo pak !!” serentak semua menjawab.
Aku pun terpilih menjadi anggota untuk memainkan permainan ini. Bundel
yang tidak ikut, ternyata memperhatikanku sepertinya dia cemas, karena sejak
jogging tadi kelihatannya Bundel sudah memperhatikanku. Hmm, tapi, tak apalah
lagian aku sudah agak nyaman.
Selama
pemanasan sebelum bermain, aku merasakan ada yang berbeda dariku. Kepalaku
terasa sangat sakit kembali. Aku sebenarnya tidak kuat untuk menahannya, tapi
apa mau dikata, waktu pemanasan sudah habis dan saatnya bertanding.
Karena serunya
bermain, sampai-sampai aku lupa dengan rasa sakit kepalaku. Aku menjadi bersemangat
untuk bermain. Selama permainan, salah seorang yang aku kenal suaranya
berteriak kepadaku.
“Nociiiii …
berhenti main !!!”
Aku menoleh,
saat menoleh aku melihat ceceran darah segar berceceran di kerudungku dan di
atas tanah permainan. Aku terkejut dan seketika aku lemas hingga membuatku
ingin merebahkan diri sejenak. Aku jatuh pingsan…
30 menit kemudian…
Ketika
aku terbangun, kedua sahabatku dan kekasihku sudah berada disampingku sedang
membersihkan darah yang masih memerahkan bagian hidungku.
“oughh..
sakit kepalaku..”
“pio,
jangan bangun istirahat saja !” adri’ melarangku untuk bangun.
“ada
apa ini ? apakah ini darahku ?”
“pio
tadi kamu mimisan, banyak darah yang terjatuh dimana-mana.”
“aku tadi
sudah bolak-balik memperingatkanmu untuk berhenti bermain, tapi kamu tidak
mendengarnya. Saat kamu menoleh, kamu langsung jatuh pingsan.” Jelas Bundel.
“benarkah
begitu ?”
“Pio, kamu ini
kenapa ? akhir-akhir ini aku perhatikan tubuhmu tidak terlihat sehat. Ada apa
sebenarnya ?” Tanya Adri penasaran.
“ aku pun
nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan diriku”
Tiba-tiba..
Suara
itu,
“Pio,
Pio, nak kamu kenapa ?” Bundaku datang menghampiriku yang jelas terlihat sangat
khawatir.
“hmm, Pio
nggak apa-apa Bunda. Kok Ayah ma Bunda kesini kan mestinya ada di kantor?”
“udah
pio nggak usah tanyakan soal itu, Pio kenapa bisa mimisan ?”sahut ayah
“ich
Ayah, Pio nggak apa-apa lagi. Hanya kecapekan mungkin,Yah.”
“udah
Pio sekarang Ayah antarkan ke Rumah Sakit, ayah sudah minta ijin buat Pio”
“ich Ayah, Pio
nggak mau pulang. Percaya deh sama Pio, ini Cuma kecapekan ajaJ Ayah dan Bunda jangan terlalu mengkhawatirkan Pio ya, disini Pio ada
sahabat-sahabat dan kekasih Pio yang selalu nemenin Pio, Pio masih mau sekolah”
“hmm, apa
boleh buat kalo Pio maksa kami, baiklah. Tapi, kalo ada apa-apa lagi Pio
cepet-cepet telpon Ayah atau Bunda. Janji ??”
“janji ayah ! J ”
Sempat
terfikir olehku, akankah aku mempunyai penyakit yang kronis ? hmm, tidak
,tidak. Aku hanya kecapekan. Aku berusaha berpositive thinking.
“Ya..ya..ya..Pio gak papa”
***
Malam hari
ini, aku langsung disuruh beristirahat oleh Ayah dan Bunda. Tapi, aku
menyempatkan untuk menulis kejadian hari ini di Diary kecilku, Bookey.
sabtu ,18 Januari 2012
Apa yang telah terjadi pada diriku ? aku mimisan tiba-tiba. Aku takut.
Aku sempat bernegative thinking, tapi aku tidak berani bilang kepada siapapun.
Aku tak ingin membuat khawatir. Aku memang merasakan ada yang berbeda hidup dalam
diriku. Jadi, aku mohon rahasiakanlah !
Sempat
terfikir olehku, kenapa Bunda dan Ayah selalu mengkhawatirkan keadaanku.
Mimisan sedikit saja kekhawatiran mereka semakin menjadi-jadi. Ada yang mereka
sembunyikan. Aku juga merasa, dari dulu aku tidak pernah sakit-sakitan. Dan
baru kali ini saja aku sangat sering mengalami pendarahan di hidung.
“astaghfirullahal’adzim..”
Tanpa aku
sadari, darah segar itu mengucur dengan sendirinya. Aku cepat-cepat
membersihkannya. Kehilangan darah membuatku lemas, aku langsung minum obat penambah
darah agar aku tidak kehilangan banyak darah. Dan, membuatku mengistirahatkan
sejenak mataku dan tubuhku. Sembari Aku selalu memikirkan rahasia apa yang
mereka sembunyikan dariku.
Minggu malam senin…
Sempat terbawa
mimpi, mimpiku disitu mata bagian kananku memerah dan semakin memerah hingga
membesar dan membengkak. Aku terkejut sehingga membuatku terbangun. Dan saat
itu juga, hidungku yang bagian kanan menjadi mampet. Aku melirik jam dinding
sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Aku bergegas menuju kamar mandi. Dan
setelah itu langsung cepat-cepat berlari menuju kamar.
Ketika ganti
baju dan menatap kacaku. Aku terkejut mataku memerah sangat merah.
“astaghfirullah..
apakah ini mimpi semalam ? benarkah ini ?? kenapa cepat sekali mimpi itu
terjadi padaku”
Aku gemetar
dan sangat ketakutan. Aku khawatir dan terus menatap mata kananku yang merah
seketika terasa ngilu juga dalam mataku. Aku hanya duduk termenung dan
memikirkan apakah ini sebenarnya. Tanpa berfikir panjang, aku cepat-cepat
berbenah dan memakai kacamata agak buram untuk mengecoh Bunda dan Ayah agar tidak
mengetahui mataku.
“Pio, ayo
makan !” suara bunda mengagetkanku.
“i..iya Bun..”
aku langsung berlari ke meja makan sambil membetulkan kerudungku.
“maaf Pio
telat, kerudung Pio susah banget diajak kompromi nih. :D”
“hehe,
Pio-Pio, ada ada aja kamu, terus kenapa kok pake kacamata buram segala, ada
fashion show disekolah ?”
“haha Ayah
bisa aja, Pio janjian aja sama Nela dan Ica buat make kacamata, keren kan aku
Yah”
“ahaha ada-ada
saja kamu Pio. Ayo cepat makan yang banyak agar tidak lemas saat sekolah nanti”
“iya Ayah”
senyum kebohongan itu harus muncul agar Ayah tidak mengetahuinya.
Pagi itu diperjalanan menuju sekolah..
Pagi
ini kabut menyelimuti seluruh jalanan. Kabut itu membuat sinarnya cahaya
matahari sangat susah untuk menembus kabut tebal itu, sama dengan diriku yang
tidak mendapatkan seberkas cahaya dalam alam penasaran ini. Aku terus saja
memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Hmm, aku menjadi sakit
kepala jika terlalu memikirkan itu.
Ketika
pelajaran berlangsung, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran. Aku
terus saja memikirkan penyakit apa yang sebenarnya ada ditubuhku.
“ough..”
aku berteriak kecil. Tiba-tiba kepalaku sangat sakit. Aku menahannya, tapi
sayang tetesan darah dari hidung itu tak bisa ku tahan. Oh tidak aku mimisan
lagi. Aku cepat-cepat menghapusnya dari hidungku dengan tissyu.
“Pak,
saya ijin ke kamar mandi” sambil memegang hidung yang penuh darah, aku belum
sempat mendengarkan ijin guruku aku sudah meninggalkan kelas dengan segera.
Semua teman sekelasku heran melihatku, Ica pun mengikutiku. Ketika menuju pintu
kamar mandi dengan jalan yang menghadap ke lantai, aku tak sengaja menabrak
orang.
“oh
maaf mbak!”
“Nocii..
kamu kah itu ? ada apa denganmu ?”
Hah, ternyata Bundel yang tak sengaja aku
tabrak. “aku mimisan lagi Bund”
“apa
?” Ica pun juga kaget mendengarnya yang sudah sejak tadi berada di sebelah
Bundel.
“Udah,
kalian jangan telpon Ayahku dan jangan bilang ke sapa-sapa termasuk Adri”
“tapi
Noci kamu itu mimisan lagi matamu itu juga merah kan tapi kamu menutupinya
dengan kacamata hitam itu kan!!”
“UDAH,
nggak usah bilang sapa-sapa” aku sedikit membentak agar mereka tak bercerita
kesiapapun. Setelah selesai membersihkan darah itu aku langsung berlari
meninggalkan mereka dan menuju ke kelas. Aku tak ingin mereka tahu jika aku
sering sekali mimisan lagi akhir-akhir ini. Aku ingin menyendiri. Keegoisanku
tumbuh karena aku sangat takut dengan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini.
Jam
istirahat aku habiskan di ruang computer, disana aku berusaha mencari apa yang
menimpa diriku sebenarnya dengan gejala yang aku miliki. Mataku sangat merah
dan kali ini membengkak perlahan-lahan. Sangat sakit. Aku berusaha mencarinya,
dengan sedikit terkaget.
“Apa ? apa itu
? penyakit yang aku alami itu sudah kronis dan sudah memuncak saat ini ??! Rhabdomiosarcoma. Penyakit apa ini ? apa
? apa ini ?”
Aku berlari
menuju perpustakaan sekolah, dan menuju rak buku tentang macam-macam kanker
untuk meyakinkan hal itu. Penyakitku itu termasuk kanker jaringan lunak. Apa
yang terjadi. Ada apa ini. Aku menangis ketika membaca artikel itu. Aku terkena
kanker. Tidak terfikir olehku, penyakit kronisku selama ini adalah kanker itu.
Aku banyak beristighfar. Aku takut. Aku terkejut. Seketika lemas badanku. Aku
menuju ruang kelas tanpa menggunakan kacamata itu. Dan terlihat jelas mataku membengkak
sangat besar. Semua temanku terkejut. Tetapi untung, aku tidak menemui Adri
seharian ini. Semoga dia tidak mengetahuinya. Tak kusangka, Ica diam-diam
menelpon Ayahku dan sudah menyimpan nomornya seminggu yang lalu. Alhasil, ayah
langsung menjemputku.
Sampai dirumah..
“Pio..
nak kamu tidak apa-apa ? Matamu membengkak nak ?”
Ocehan Ayah tidak kugubris sama sekali.
Aku marah, kenapa Ayah dan Bunda tidak bercerita dari awal tentang penyakitku
yang kronis ini dan sekarang sudah menajdi akut. Aku terdiam duduk manis di
sofa. Namun akhirnya..
“Ayah
kenapa ayah tidak bercerita bahwa aku mempunyai penyakit ini, penyakit ini
sebenarnya sudah lama ku derita kan ? tapi kenapa Ayah dan Bunda tidak
menceritakannya padaku dari awal, kenapa Ayah? Selama ini aku menahan rasa
sakit yang menjalar di wajah kanan ku, aku susah bernafas dan seringkali
mimisan Ayah!” aku membentak sembari menahan sakit mataku itu. Air mataku pun
terjatuh.
“maafkan
Ayah dan Bunda, Pio. Ayah gak ingin anak Ayah jadi pemurung karena penyakit
ini. Aku ingin melihat anak Ayah ceria bersama teman-teman Pio”
“ayah
salah, bukannya selama ini Pio ceria, tapi sebenarnya Ayah tidak tahu, aku
menahan sakit di mataku yang membengkak ini Ayaah.” Aku menangis
sejadi-jadinya.
“Pio,
pio maafkan Ayah nak. Ayah sangat menyesal tidak memberi tahu. Ayah takut Pio
tidak ingin bersekolah dan selalu murung, tapi ayah salah ternyata anak Ayah
ini adalah anak yang tangguh. Maafkan Ayah, pio”
Aku
tak bisa menjawab pernyataan ayah itu, tapi dalam lubuk hatiku yang paling
dalam aku sudah memaafkan ayah.
“ayah
sangat menyayangi Pio. Ayah tidak ingin kehilangan Pio” ayah meminta maaf
sembari menangis dan memeluk aku. Tapi, apa yang dirasakan Ayah. Aku malah
lemas tak bertenaga, karena aku kembali mimisan. Darahku berkucuran sangat
banyak. Kemeja Ayah memerah karena darahku. Aku jatuh pingsan.
“tiit..
tiiit.. tiit..”
Suara itu membuatku terbangun yang
mengganggu tidurku. Dan, bau alcohol yang sangat menyengat menusuk hidungku.
“Pio
nak kamu sudah bangun ??”
“Bunda,
pio dimana.. kok Pio diinfus”
“Pio
dirumah sakit nak, tapi Pio udah enakan ?”
“mata
Pio sakit sekali Bund.”
“sabar
ya sayang, dokter berusaha untuk mengecilkan dan mengembalikan mata Pio seperti
dulu lagi. Sabar ya nak. Pio harus kuat.”
ketika itu..
“Bunda, Ayah mau bicara sebentar dengan Bunda”
“iya
Yah.” “Pio tunggu sebentar ya, ayah manggil Bunda”
“iya
Bund”
Wajah ayah kok
kelihatan lesu begitu, dan ketika membuka pintu ayah hanya melihatku dengan
mata yang sayu dan tatapan yang terlihat tidak tega melihat keadaanku. Aku
membalas senyuman kepada Ayah. Ketika mereka bicara berdua, terdengar tangisan
Bunda yang sedikit ditahan agar tidak mengeluarkan suara yang keras. Tapi aku
tetap mendengar tangisan itu. Tak berapa lama, Bunda masuk ruanganku dengan
mata yang sedikit sembab karena tangisan itu mungkin.
“ada
apa Bunda ko nangis ?”
“ha,
emangnya Bunda terlihat habis menangis ? ah ndak, Bunda nggak nangis.”
“oh
aku kira kenapa” aku tahu, sebenarnya mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi sudahlah,
tidak ada yang perlu aku tahu, toh sekarang aku terkena penyakit yang ganas.
Senin pagi di rumah sakit..
“Pio
ayo makan bubur ayam kesukaan Pio” tawar Bundaku.
“tapi
ayah mana ? ayah sedang masuk kantor jadi nggak bisa nemenin Pio.”
Tiba-tiba..
“aduh,, mata Pio sangat sakit Bunda.. dan Pio
juga mimisan lagi”
Bundaku
terkejut ketika sedang menuangkan air minum. Sekejap, Bunda langsung memanggil
Dokter Ilham. Sakit itu memuatku tidak bisa menahannya, aku terus berteriak
kesakitan. Tak lama Dokter pun datang dan membawaku keruangan yang tidak aku
tahu. Aku terus berteriak kesakitan. Tak lama kemudian, suntikan jarum menusuk
lengan atasku dan aku mulai tenang. Tapi tak lama, aku pun merasa menggigil dan
menjadi sangat kedinginan. Aku berkata “dingiin.. dingiin..” tapi dalam keadaan
tidak sadarkan diri. Lama kelamaan rasa dingin itu, bertambah menjadi sangat dingin
dan aku semakin menggigil. Namun beberaa saat kemudian aku mulai tenang kembali.
Dan tak lama aku tersadar. Dan aku sudah berada kembali di ruangan inapku.
Ternyata disana, sudah ada Adri, Nela, Ica dan teman sekelasku yang lain.
“hmm..’” aku
perlahan membuka mataku.
“Pio udah
sadar ?” tanyak Adri dengan senyumannya.
“adri, sejak
kapan ?”
“baru aja,
kamu nggak apa-apa kan ?”
“iya, aku agak
baikan.”
Ternyata
teman-temanku sedang menjengukku. Aku sangat senang mereka hadir menemaniku.
Aku tidak ingin berada disini aku ingin belajar disekolah bertemu setiap hari
dengan teman-temanku. Tapi apa daya, aku harus menjalani rawat inap disini.
Keesokan harinya..
Tak
kusangka, benjolan di mata kananku
bertambah besar dan tidak mengempis, rasa sakit mulai mendera. Aku kembali
merasakan sakit yang kemarin masih tersimpan di memoriku. Bundaku
mengetahuinya, serentak aku dibawa kembali untuk menjalankan proses kemoterapi
yang memang harus dilakukan untuk menghilangkan kanker-kanker itu. Sangat
kesakitan, namun ketika aku di kemo, rasa sakit itu hilang kembali dan aku
merasa agak enakan.
Pada
saat itu juga, dokter sedang membicarakan sesuatu tentang kondisiku yang memang
sudah sangat akut dan berada di stadium akhir. Sehingga harus dijalankan oprasi
untuk menghilangkan sel-sel kanker itu. Tapi, Ayahku menolak dengan keras.
Karena, ayah tidak tega membiarkan wajah anaknya yang harus diambil setengahnya
dan akan menjadi cacat permanen, kecuali dilakukan oprasi plastic. Meskipun
tawaran oprasi plastic, Ayahku bersikeras untuk tidak melakukan cara
alternative itu untuk membunuh sel-sel kanker yang semakin ganas menyerang
wajah kananku.
Aku
tak menyadarinya, bahwa rambutku berada diatas bantal. Rambutku rontok ? aku
memegang kepalaku, ternyata sudah tidak ada lagi rambut yang tersisa di
kepalaku. Aku terkejut. Aku menangis terisak. Bundaku mendengarnya. Membujukku
dan meyakinkanku bahwa rambutku yang panjang lurus itu akan tumbuh lagi. Aku
sebenarnya agak tenang, tapi aku tau rambut indah itu gak akan tumbuh lagi. Aku
rasa karena obat keras saat kemoterapi itu yang membuat rambutku rontok tak
bersisa.
Selama
seminggu aku harus menjalankan kemoterapi itu karena tidak ada jalan lagi untuk
membunuh sel kanker itu selain dengan jalan oprasi yang tentu sangat ditolak
keras oleh ayahku. Tapi perubahan yang signifikan sudah terjadi dalam hidupku,
ternyata Allah masih memberiku kesempatan untuk bertemu dengan semua orang yang
sangat aku sayangi. Kemoterapi yang rutin aku jalani hingga Kamis, ternyata
berbuah manis. Dokter sudah menyatakan sel-sel kanker itu sudah lenyap. Dan
hari Jumat, aku sudah berada di kamarku yang sanga aku rindukan. Tak lupa aku
bersyukur kepada Tuhanku yang sangat aku sayangi.
“Ya
Allah, Alhamdulillah terimakasih ya Allah. Engkau masih memberiku kesempatan
untuk berkumpul dengan orang yang aku sayangi. Alhamdulillah terima kasih Ya
Allah ! J”
Hari Sabtu di sekolah..
Semua
teman menyambutku saat aku kembali kesekolah, termasuk Adri. Aku sangat
merindukan dia dan teman-temanku. Tapi sayang, aku kembali kepada Adri dengan
kepala yang tidak dihiasi rambut lurusku yang sangat disukai oleh Adri, namun
Adri belum mengetahui hal itu aku harus menuembunyikannya karena aku tak ingin
membuat Adri tambah bersedih karena rambutku yang hilang itu. Seharian itu, aku
selalu bersama dengannya, dia bercerita banyak dan isinya cerita yang sangat
lucu dan membuat aku tertawa. Seharian aku menjadi sangat bahagia bersamanya.
Hari
Minggu dia mengajakku untuk berjalan-jalan dan sebelumnya aku sudah meminta
ijin kepada Ayah dan Bundaku. Ternyata mereka mengijinkanku. Aku sungguh senang
seharian aku menghabiskan waktu dengannya, bercerita, bercengkrama dibawah
pohon yang rindang. Dia membisikkanku sesuatu,
“Pio,
besok hari jadi kita”
“apa
? benarkah itu ?” aku pura-pura terkejut. Sehingga dia mengira aku lupa dengan
hari yang tentu sangat spesial untukku dan Adri yang tak mungkin aku
melupakannya. Aku mulai mengguraunya.
“benarkah
itu Adri ? aku kayaknya lupa tuh. Sepertinya aku amnesia mendadak deh. hahaha”
“ah
Pio, masak kamu lupa sih ?” wajahnya tiba-tiba cuek dan kusut.
“hehehe..
Adri- adri, mana mungkin sih aku lupa dengan hal itu ?”
“ternyata
kamu nggak lupa, Pio ?? waah kamu ngerjain aku nih, ntar aku balas kamu!”
“waiissh,
tenang Bray.. santai. Haha,, sayang sayang..”
“emm,
besok kita jalan-jalan lagi yuk Pio. Aku ajak kamu ketempat yang kamu suka.”
“oh
ya, beneran ? wah surprise nih. Oke deh.. siap Pak TNI !” aku meledeknya.
“Ich
Pio, yang TNI itu Ayahku bukannya aku tahu.”
“hehehe,
bercandaaa. Week !”
Malam hari ini, aku tidak bisa tidur,
karena teringat hari ini yang sangat menyenangkan untukku. Waah.. aku sangat
senang hidup normal kembali. Hmm, karena aku tidak boleh teralu capek, akhirnya
aku tertidur.
Tapi,
aku tak menyangka akan bermimpi seperti yang pernah aku mimpikan. Sekarang
dalam mimpiku, mata kiriku memerah dan membengkak seperi mata kananku. Tak kusangka,
aku bermimpi sambil mengigau. Karena terkejut, aku pun terbangun.
“tidak-tidak
aku tidak sakit lagi.”
Aku mengeluarkan keringat dingin dan
bergemetar seperti menggigil dan sangat ketakutan. Bundaku yang mendengarnya,
lansung membuka kamarku dan melihat aku sedang menggigil.
“kamu
kenapa Pio ?”
“Pio
merasa sangat kedinginan Bunda. Gak tahan. Sangat dingin!”
Bunda
langsung memelukku erat dan menyelimuti aku agar tidak kedinginan dan
menggigil. Tak lama, aku pun tertidur dalam pelukan hangatnya seorang Ibu.
Pagi
menyapaku dengan bunyi alarm. Aku capat-cepat melihat kekaca, ternyata mata kiriku memerah lagi. Oh tidak…
apa lagi ini, setelah mata kananku yang menonjol seperti monster, dan rambutku
yang sudah meninggalkan kepalaku, ternyata sekarang, mataku kembali memerah dan
parahnya lagi sel itu berpindah ke mata kiriku. Ya Allah cobaan apa lagi ini.
Ayah
dan Bundaku, mengetahuinya, lagi-lagi. Masih pagi, aku sudah dibawa kerumah
sakit. Selama perjalanan kesana, ternyata aku mimisan lagi, cepat-cepat aku
meminta tissyu yang berada di mobil.
“Pio
kamu mimisan lagi nak ?”
‘”iya
Yah, tapi ayah setir saja dengan benar dan Bunda temani Ayah, Pio udah biasa,
nggak apa-apa”
“sabar
ya Pio, sebentar lagi sampai”
Aku
hanya membalasnya dengan senyuman yang menahan sakit. Sampai di rumah sakit,
aku langsung dibawa oleh suster ke ruangan dimana aku dikemoterapi. Aku
menjalankan prose situ, dingin menjalar disekujur tubuhku. Menggigil, itu pula
yang aku rasakan. Tak lama, aku pun merasa tenang dan kembali keruangan inapku
yang dulu. Ternyata, sel-sel kanker itu muncul lagi dan menggerogoti wajah
bagian kiriku, tepatnya di mata kiri.
Ya
Allah, pa lagi ini. Saat ini aku punya janji untuk bersama dengan Adri
merayakan Hari Jadi kami, 24 Januari 2012. Tapi, Allah berkehendak lain. Aku
harus menjalankan proses ini untuk menghilangkan sel kanker ini dan berjuang
meawan kematian. Karena, kanker ku saat ini sudah langsung mencapai tahap akhir
atau stadium akhir. Aku haru berusaha untuk menghilangkannya dari dalam tubuhku
ini. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan penyakit ini. Pakiranku tertuju lagi
pada tanggal, 25 Januari karena hari itu
adalah hari Ulang tahu Adri. Aku ingin mengucapkan selamat secara langsung dan
memberikan hadiah yang sudah aku siapkan saat aku kembali kerumah kemarin. Aku
tidak akan melupakan semua hari tentang kita.
Aku
tak sadarkan diri, dan mengalami koma setelah menjalani kemoterapi. Karena,
tubuhku tidak kuat lagi menahan obat-obat keras yang masuk kedalam tubuhku dan
akhirnya aku koma. Adri pun tahu bahwa aku sedang koma, karena Bundaku
menelponnya. Dia cepat-cepat datang kepadaku. Dia rela, tidak masuk sekolah
demi aku. Tapi sayang, apa yang dibuatnya itu percuma, aku tidak tahu kapan aku
sadar.
Malam
ini, adalah malam dimana besok Adri berulangtahun. Tapi, ternyata, dia tidak
pulang, dan terus menunggui ku di rumah sakit. Aku tidak tega dengannya. Aku
merasa kasian kepadanya, karena dia tidak beristirahat sekali demi menjagaku.
Aku pun merasa disuruh untuk bangun dari istirahatku.
“hmm
J Adri kenapa kamu ada disini ??”
“hah..
Pio kamu banguun ?? pio kamu kenapa ? jangn tidur lagi, aku ingin sama kamu.
Aku mohon kamu jangan tidur dan pergi ninggalin aku, pio. Aku nggak bisa !” dia
menagis sambil memelukku.
“adri,
tenanglah.. aku disini, aku nggak kemana-mana kok”
“janji
yaa..??”
“iya
aku janji. Kamu sudah makan belum, ini udah jam 10 malam”
“halah,
udah jangan pikirka aku. Aku baik-baik saja”
“jangn
gitu, kamu harus maem, jangan sampai sakit, Ndri.”
“iya
Pio sayang J aku menyayangimu.”
“aku
pun sayang juga denganmu”
Aku
tersenyum untuk memberitahu bahwa aku tidak kenapa-kenapa. Tapi, sebenarnya,
aku sangat merasa kesakitan sebab sel-sel kanker itu mulai dengan ganasnya
menggerogoti mataku. Sebenarnya tubuhku sangat lemas, tapi akumemaksanya untuk
tidak tidur. Aku ingin bersama mereka.
“pio
kamu sudah sadar nak ?”
“sudah
Yah, ayah dan bunda sudah maem belum, jangan sampai nggak maem ya gara-gara
Pio.”
“iya
nak, Bunda dan Ayah nggak akan lupa makan asal Pio sembuh kembali, Bunda
sayaang pio”
“ayah
juga sayang Pio, makanya Pio harus kuat”
“iya
Ayah, Bunda.. J”
“Pio,
kamu cepat sembuh ya..” mamanya Adri juga datang menjengukku.
“iya
tante makasih”
“Piyooo…”
suara itu tak terdengar asing di telingku.
“kak
Pipiit ! akhirnya kakak pulang juga. Piyo kangen ama Kakak tahu.”
“Pio,
kakak juga kangen banget ma Pio. Pio yang kuat ya. Harus sembuh demi Ayah,
Bunda ma Kakak.”
“iya
kakak… aku juga harus sembuh!”
“Nocii…
aku kangen kamu”
“haa,
Bundel aku juga kangen kamu. Ko malem-malem kesini, jangan kayak gitu yaa, aku
jadi repotin Bundel jauh-jauh dateng”
“ah
Nocii.. jangan gitu. Cepet sembuh ya”
Hmm,
aku tenang wajah mereka senang melihatku tersadar dari koma. Tapi, aku heran,
kenapa mereka terlihat senang dan ceria. Aku tahu pasti agar aku tigak putus
asa dan terus membuatku agar berusaha untuk sembuh. Namun, dokter berkata pada
Ayahku yang sempat terdengar dari luar ruangan.
“pak,
ini suatu keajaiban. Masih sempat dia terbangun dari komanya. Sangat signifikan
untuk terbangun dari komanya, tapi Pio
ini berbeda dia punya ambisi untuk sembuh dan membuat orang disekelilingnya
merasa senang. Tapi, saya rasa dia hanya hidu untuk hari ini saja. karena, saya
sudah mengecek bahwa, sel kankernya tidak bisa dibunuh dan tetap menggerogoti
mata kiri, Pio. Pio sangat hebat dapat menahan rasa sakit yang sangat luar biasa
itu.”
“Iya
Dokter, kami sekeluarga sudah mengikhlaskan Pio, kami tidak tega tetap
membiarkan Pio tetap hdup, namu harus menahan rasa sakit yang amat sangat yang
hanya bisa dirasakan oleh dirinya. Saya menyayanginya”
“baik
Pak Akbar, sabar dan ikhlaskan diaJ”
Di dalam ruangan..
Aku pun
juga menyangka, aku terbangun dari tidurku hanya untuk berpamitan dengan
mereka, terutama dengan Adri, kekasihku.
“semuanya,
boleh nggak Pio minta waktu sebentar buat bersama dengan Adri’ ?”
“hmm,
iya sayang, nggak apa-apa” dengan halusnya Bunda mengijinkanku.
Akhirnya
semua orang meninggalkan ruanganku, tinggal aku dan Adri yang berada dalam
ruangan putih bersih itu.
“Adri’,
sekarang jam 11.30 malam, apa kamu nggak ngantuk ?”
“
ndak Pio, aku nggak ngantuk sama sekali. Pio, kamu nggak apa-apa kan?”
“nggak
Adri, aku nggak apa-apa. Adri, maaf ya, tadi aku nggak bisa jalan-jalan sama
kamu, sebenernya aku ingin banget rayain hari jadi kita. Tapi, aku membatalkan
semuanya.”
“Pio,
udahlah, aku nggak apa kok, lagian uda aku seharian udah sama kamu kan ?”
“iya
Ndri’, makasih banyak yaa”
Tiba-tiba,
hidung kiriku mampat dan mataku terasa sangat sakit. Tapi, aku tidak ingin
menampakkannya didepan Adri’. Aku mencoba bangun untuk mengambil sesuatu di
dalam laci.
“eh
Pio kamu ngapain jangan bangun dari tempat tidur.”
“apaan
sih, aku tuh nggak apa-apa tahu” sedikit bercanda. “Emm, ini kado ultahmu
Adri’, Met Ultah ya.. maaf ngucapin duluan sebelum waktunya, besok.”
“ya
Allah, Pio, aku nggak butuh kadomu, aku butuh kamu buat selalu bersamaku”
“Adri’,
panjang umur ya, sehat selalu, jangan telat maem dan selalu inget sama Allah,
percaya deh, Allah selalu menjaga kita, aku dan kamu, Ndri’.”aku tidak
menghiraukan perkataannya. Aku tau sebentar lagi aku akan meninggalkannya.
Tiba-tiba
aku tak bisa menahan sakitnya mataku yang sudah sangat membesar dan sakit yang
tak tertahan. Sakit sangat sakit, aku berteriak kesakitan.
“Pio
kamu kenapa ?”
“nggak
gak apa-apa. Adri aku sangat sayang dengan mu. Dan, Terimakasih.. inilah hari
Indahku bersamamu Ndri’...”
“Pio,
Pio.. banguun..”
Aku
sudah tak bisa menahan rasa sakit yang amat sangat ini. Aku ingin menyudahi
perangku dengan sel kanker ganas itu. Akhirnya aku pun tak sadarkan diri dan
saat itu tangan Adri menggenggam erat tanganku.
“aku
pun juga menyayangimu, Pio. J”
Semua
orang, Ayah, Bunda, Kak Pipit, Dokter Ilham dan yang lainnya hanya dapat
melihat dari luar ruangan. Sel ganas ini sudah terlalu ganas dan kebal terhadap
obat kemoterapi. Dan, Dokter Ilham tak bisa berbuat banyak. Ayah dan Bunda
sudah ikhlas melepaskan kepergianku.
Akhirnya,
usailah sudah perjuanganku melawan sel kanker ganas ini. Aku pun tidak ingin
meninggalkan sedikit kesedihan diwajah mereka yang menyayangiku. Karena, aku
tak ingin melihat wajah sedih mereka saat ku tinggal pergi.
Hari
yang indah untukku…
J
***
TAMAT
ganti ukuran font setelah di postkan bagaimana ?
BalasHapus