Senin, 03 September 2012

my own short story

Terimakasih.. inilah Hari Indahku
                Sinar matahari mencoba menyelinap masuk ke dalam kamarku, melewati lembaran-lembaran hijaunya selambu jendela kamarku. Ku  ijinkan kehangatannya memasuki kamarku yang dingin. Bagaikan dinginnyajam dinding menyapaku dengan pertunjukan detak detik kehidupannya yang terus berputar, menandakan sudah waktunya aku berbenah diri.
                “ouumm.. hari yang cerah diawal minggu ini, hari senin.”, pujiku.
                “hai Coco, pagi Deriz !” aku menyapa teman setiaku yang selalu menemaniku, my lovely puppet.
                “Pio, ayo mandi !” seru bundaku. Aku yang tadinya menatap cahaya hangat itu, tak sedikitpun aku ingin membuyarkan tatapan kedalam hangatnya cahaya itu. Namun, aku hanya menjawab,
                “iya, Bun…”
Dalam hati kecilku mencoba berharap, “hm.. semoga menjadi hari yang menyenangkan bagiku saat ini.”
                Oh ya, aku belum berikan identitasku. Namaku Friza Vioneta Virgaria. Panggil aja aku Pio (panggilan kecilku). Saat ini aku baru duduk di kelas pertama SMA, ya kelas 10. Aku punya kakak cewek yang sudah kuliah di UGM, jadi jarang ada dirumah. Dia itu, kakak yang paling aku sayang, namanya Pipit. Bundaku memberikan panggilan seperti itu, karena ingin kakakku tidak pendiam. Eh, ternyata dia pendiem banget.:D
                Jiahh, keenakan cerita-cerita nih. Udah dulu ya, harus cepat-cepat mandi nih takut kekunci gerbang sekolah. Hehehe…
                “Bunda, aku berangkaat !” seruku dari teras rumah.
                “Ayah udah nungguin nih, Bun..”lanjutku.
                “Pio, minum vitaminnya dulu”
(ooups aku lupa deh)
                “Ga’ usah Bun, pulang sekolah aja diminumnya!”
                “Tapi… ini..”
                Belum sempat Bunda menakarkan satu sendok teh vitamin itu, aku sudah menyabet tangannya untuk salam.
                “Aku berangkat, Assalaamu’alaikum..!”
“Wa.. Wa’alaikum salam, anak itu selalu lupa dengan vitaminnya, semoga baik-baik saja dia.”
“buat apa sih minum vitamin, aku kan sudah ABG, masih haruskah minum vitamin ?? enggaklah, pasti udah kuat kok. Hhaha..” curhatku dalam hati.
Bunda langsung mengirimkan pesan singkat ketika aku dalam perjalanan,
“Pio, pulang sekolah minum vitaminnya, ayah nanti ada rapat dan bunda pulang dari kantor agak telat, jadi jaga makanan dan minum obat serta vitamin ada di mbak Ijah.
Bunda”
                Inilah Bundaku, setiap aku udah nggak minum vitamin sebelum berangkat sekolah pasti deh always send me a message. Heran deh, hehehe. Ya namanya orang tua ya pastilah khawatir. Lagian juga jarang dirumah mereka. Tapi, khawatirnya tidak seperti ini juga, ya nggak…
***
Sampai di gerbang sekolah..
                “Makasih Yah, Assalamu’alaikum !” aku salim dengan Ayah.
                “Iya, Wa’alaikum salam. Pio, nanti Ayah ada rapat jadi pulang agak telat, Bunda juga.”
                “Iya Yah, Bunda udah SMS tadi.”
                Dialah Ayahku, tegas, keras namun baik dan perhatian. Tapi, sayang, aku gak seberapa dekat dengannya, meskipun begitu, dia tak kalah dengan Bundaku, dia lebih mengkhawatirkanku.     Hmm, Bunda juga pernah cerita, dulu Ayah menganakemaskan aku, dikit lebay ya tapi memang seperti itu kenyataannya. Dulu itu, aku selalu dilarang makan jajanan luar rumahlah, harus make alas didalam rumah lah. Nggak boleh keluar waktu maghrib tiba lah, dan apalah. Semuanya adalah pantangan-pantangan yang tidak boleh aku langgar. Tapi itu  dulu, 15 tahun lalu, hhehe..
                Gak nyangka, kebanyakan bernostalgia sendiri. Jadi senyum-senyum sendiri sampai aku tersandung batu besar di depan kelas.
                “Aduhh!” suaraku menggelegar (haha lebay)
“Assyem nih batu ko malang di tengah jalan sih, Aissh” terdengar mulutku ngomel-ngomel sendiri ke batu itu, kayak punya kelainan jiwa deh. Haha.
Tiba-tiba dua orang didepanku tertawa lebar selebar-lebarnya tanpa bergegas untuk menolongku.
“Hahaha.. mbak, jalan mau ke kelas disebelahnya batu itu, bukan batunya yang ngalangin jalan Anda.” Teriak sahabatku dengan nada-nada ngeledeknya yang khas.
Nah itu, dialah sahabatku namanya Nela, aku panggil dia Bundel, selain karena agak berisi lah dikit dari aku, dia juga dewasa banget orangnya. Hehehe.
“hahaha.. lah wong ada jalan enak minta yang berbatu. Ish ish ish. Aneh tenan”
Hmm, yang ini ni, sahabatku juga namanya ica’ yang biasa aku panggil Oma, wakwakwak. Selain karena wajahnya yang dewasa-dewasa gitu seperti panggilannya, tapi ada cerita tersendiri yang bersembunyi di balik nama samarannya itu. Gak perlu aku ceritain, ceritanya tidak mudah dimengerti.:D
“Heh,, kalian lo sadis (terdengar theme song Afgan, haha) sama aku. Malah ketawa, nggak cepet-cepet bantuin bangun. Kaki sang putri nanti membiru tahu.”
“Hhehe.. sini aku bantu bangun. Cup cup cup, jangan nangis gitu donk, kayak anak TK tahu.”
“wee.. mang aku nangis ?? aku bukan anak TK yoo..”
Bundel yang niat bantuin aku bangun, tapi niatnya kok gini yaa…
“eh eh eh, hih Bundel.. kok kaki ku yang di tarik, tangannya tahu ! ich Bundel !” ngomelku nggak jelas.
Temanku yang satu ini memang jahilnya kebangetan,
“hehehe, maaf Noci, bercanda..”
Sementara itu..
                “klik..klik..klik !”
                “ ich Oma, hape mulu yang di gebetin, cowok tuh yang harusnya digebet !”
“ah ini, manja deh. Bangun sendiri Noci, kayak anak batita yang belajar jalan ajah, jatuh masih minta dibangunin.”
Dia ini lagi bicara sama aku, tapi tatapannya terus saja tertuju pada hapenya itu. Hmm, dia ini Miss Facebook, pasti pagi-pagi udah FB-an ni anak.
“Aisshh, emang nyuruh itu gampang, tapi sakit tahu, ma !”
“hoo.. yelah yelah..” produksi ekspresi datarnya sudah keluar.
Hmm, Omaku yang ini memang pendiem tapi Cuma hape mulu yang dikerjain, nggak waktu dikelas, atau saat pelajaran, apa kata hati dia ajah.
Ya, inilah kami, selalu membuat kerusuhan sendiri yang bisa ngocok perut kami. Kayak iklannya Chitato tuh, live is never flat (bukan promosi, :D). seperti itulah kami. Geng kita ini aku sebut, chums choki choki sebab,  saat break sekolah kita selalu berburu cokelat pasta di kantin. Hahaha..
Sudah seperempat jam ribut nggak ada ujungnya. Bel sekolah berbunyi, upacara segera dimulai. Aku segera mengenakan atribut sekolah. Ketika, lagi sibuk-sibuknya make topi, ada seseorang yang gak sengaja menyenggolku.
“eh eh, maaf maaf.” Sahutku.
“santai aja lagi”
“hehe iya” aku nggak liat wajahnya, tapi aku kenal suara ini.
“pagi Pio ??” sapanya dengan senyum.
“eh, iya. Ternyata kamu tuh ndri’, iya pagi juga ! have a nice day yah !”
“have a nice monday too ! aku duluan ya..”
“ohh, i..iya”
Dia lantas meninggalkan aku dengan senyuman hangatnya. Bertemu dengannya sudah membuat hariku menyenangkan. Hmm, dialah kekaksihku, Adri. Aku biasa panggil dia Ndri’.
Kita berdua beda kelas, dia sekelas dengan Nela. Tapi, kelas kita bersebelahan. Dia ini, perhatian, penyayang tapi cuek. Cueknya ini lihat sikon juga sih, kalo marah sih dia cuek banget tapi basicly dia perhatian kok.
Diawal upacara, aku merasa telapak tanganku dingin seperti kalau saat musim hujan,
“kayaknya aku nggak enak badan”
 tapi hari ini cuaca cerah banget kok. Aku nggak menghiraukan itu. Tapi, di tengah upacara, kakiku gemetar tak dapat dikendalikan. I was so panic. Aku berusaha mengendalikannya untuk berhenti bergetar,sempat terhenti. Namun saat aku tidak mengendalikannya kakiku terus saja bergetar lebih parah dari sebelumnya. Aku bingung harus berbuat apa, lama kelamaan barisan belakang mengetahui kakiku bergetar. Mereka memaksaku untuk pergi ke  UKS. Tapi, aku menolaknya karena aku rasa ini hanya kecapekan saja. i think I’m ok. Aku takut, baru kali ini aku merasakannya. Aliran darah yang ku rasa tidak lancar di peredaran darah kakiku, membuatku merasakan ngilu yang amat sangat. Tapi. Aku harus tetap menahannya, aku tidak ingin pergi ke UKS.
I’m OK. pio nggak kenapa-kenapa” aku selalu berkata seperti itu agar aku bisa bersemangat.
Akhirnya, upacara selesai. Kekuatanku sudah habis karena menahan rasa sakit kakiku. Aku tak sanggup berjalan, aku duduk sebentar dibawah pohon dekat barisanku berada. Aku paksakan untuk berjalan menuju tempat duduk itu dengan tertatih-tatih, Bundel dan Oma melihatku dengan tatapan aneh dan penasaran apa yang terjadi denganku. Tapi, aku tidak ingin memberi tahunya akan keadaanku sekarang.
“Noci, kamu kenapa ? kok kamu pucat gitu ?”
Hah, apa ?? aku pucat ? aku tak mengetahuinya kalau aku pucat.
“ah ndak.. aku nggak apa-apa Bundel.” Aku berusaha meyakinkannya.
“kamu lo pucat banget, bener !” tambah Oma.
“haha, kalian bercanda, I’m Ok guys.”
“tapi, kenapa kamu tadi nggak ke Uks aja. Gemetar bangat tubuhmu ?!”
“buat apa, Bundel. Aku nggak apa-apa. Mungkin, kecapekan saja. biasalah artis dadakan !”aku berusaha mencairkan suasana dengan sedikit humorku.
“hmm, okelah. Kalo ada apa-apa lagi bilang ke kita”
“siip daah”, tapi kenyataannya kakiku masih terasa ngilu.
Tiba-tiba..
                “Pio, kamu nggak apa-apa ??”
                “eh Adri’, nggak. Aku nggak apa-apa”
                “ehh, Noci. Aku ma Oma mau ke kantin dulu ya.”
                “hmm, oke. Ntar aku titip choki-choki yaa..”
                “ssiap Cii”
Adri melanjutkan investigasinya kepadaku, “ tapi tadi, kamu gemetaran tahu, apakah gitu yang kamu bilang nggak apa-apa ??”
“Adri’, iyah aku nggak apa-apa”
“kata temenku juga, kamu pucet banget tadi ?!” dia semakin khawatir.
Aku hanya tersenyum, “Adri’, aku nggak apa-apa. Lihat, aku nggak pucet lagi kan ?”
“hmm, okelah kalo gitu. Tapi, kalo ada apa-apa lagi kamu harus ngasih tahu aku !”
“siap pak !” aku menghiburnya. “kalo sama anaknya TNI aku harus tegas nih, hehe.”
“pio-pio jangan bercanda, tapi, gimana gemetarnya udah hilang ?”
“iyah lumayan. Duduk sebentar udah pulih kembali kok, ndri’.”
“Alhamdulillah kalo gitu, udah bel nih, masuk kelas ya,Pio ..”
“oke Ndri !”
***
Dirumah…
                “assalam’alaikum..”
                “wa’alaikumsalam.. mbak Pio. Ibu sama Bapak belum pulang.”
                “iya mbak Ijah, Pio tahu. Pio mau ke kamar, ganti baju terus tidur”
“tapi mbak, kata Ibu, minum obat dan vitamin dulu, mm.. kayaknya mbak Pio kecapekan ya”
“hmm, iya ini. Tadi habis upacara.”
“tapi, mbak Pio nggak apa-apa kan ?”
“nggak kok, aku biasa aja. Udah mbak Jah, nanti aja minum vitaminnya, aku mau istirahat dulu”
“o.. o iya tapi mbak pio.”
“udah nanti aja mbak Jah”
Aku meninggalkan mbak ijah tanpa mendengarkan kata apa yang akan dia ucapkan. Kenapa mbak Ijah mengkhawatirkan aku seperti Bunda ma Ayah. wajarlah. Udah ahh, tidur aja hilangkan sakit kepalaku.
Ketika bangun tidur dan ingin mengambil air wudhu..
                Loh, obat sama vitamin sudah siap di meja kecil kamarku. Dan Bunda tiba-tiba masuk kamarku, terlihat wajah Bunda yang sepertinya sudah sangat khawatir akan keadaanku. Tapi, aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
                “Pio, udah bangun ?”
                “iyah Bund, loh kok Bunda sudah pulang ? katanya pulang telat ?”
                “nggak apa-apa, Bunda Cuma pengen nemenin Pio.”
                “hahaha, Bunda. Pio bukan anak kecil lagi, jadi Bunda nggak usah repot nemenin Pio”
                “tapi, kata Mbak Ijah, Pio kecapekan ?”
“iya, tadi habis upacara Bunda, ya tapi Pio nggak kenapa-kenapa kok Bun. Hmm, jadi penasaran kenapa Bunda khawatir gitu ?”
“ya Bunda khawatir aja sama Pio, kan Cuma Pio yang selalu nemenin Bunda”
“ah Bunda, kan ada kak Pipit juga”
“iyah tapi Pio yang ada di deket Bunda kan saat ini ?”
“he’em, Bunda. J ya sudah Pio mau ambil wudhu dulu”
“iyah nak.” Senyum keibuannya menghiasi wajahnya. “hmm, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Pio”
Aku heran dan jadi penasaran sendiri kok Bunda segitunya yang khawatir denganku. Padahal aku nggak kenapa-kenapa. Cuma kecapekan habis upacara saja, Bunda sudah mengkhawatirkanku, sampai-sampai kerjaan kantor pun ditinggalkan hanya untuk menemaniku dirumah. Ahh, sudahlah. Begitulah seorang Ibu terhadap anaknya.
***
jumat malam sabtu…
                Selama seminggu terakhir ini, aku merasa lelah. Malam ini, aku ingin mengistirahatkan tubuhku yang sepertinya meronta ingin merebahkan diri diatas tempat tidur. Tapi, rasa lelahku terbayar oleh adanya SMS dari Adri’. Aku sangat senang, sampai hilang rasa lelahku karena saking kangennya dengan kekasihku.
Tapi, memang rasa sakit dan lelah tidak dapat diganti oleh apapun. Tetap rasa lelah memaksa tubuhku untuk beristirahat sejenak. Tak seperti biasanya, aku tidak pernah merasakan hal ini. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit, sangat sangat sangat sakit. Seperti tertusuk benda tajam berkali-kali tanpa henti. Aku berusaha menahannya, tapi semakin aku tahan semakin sakit rasanya tusukan-tusukan itu.tak ada seorang pun dirumah yang mengetahui keadaanku saat ini. Tiba-tiba, Aku merasakan badanku lemas tak bertenaga. Aku tertidur sejenak.
Ketika terbangun, Adri mengirimkan pesannya sangat banyak kepadaku tadi, saat aku tertidur. Detik jam dinding memberitahukan bahwa aku masih harus tidur karena pukul 01.25 ayam jantan pun belum terdengar berkokok membangunkan setiap orang. Dan aku ingat, hari ini aku berolahraga, jadi harus berangkat pagi-pagi banget. Tapi aku menyempatkan untuk shalat tahajud sebentar. Aku berdoa..
“ Ya Allah, semoga hari ini hari yang menyenangkan untukku dan hari baik bagiku, amiin”
Aku kembali melanjutkan tidur. Ketika bangun tidur aku merasakan ada yang berbeda dari diriku. Hidungku tiba-tiba mampat dan tak bisa bernafas dengan lega. Selama ini aku tidak pernah merasakan hidungku mampat tiba-tiba, seperti orang asma. Padahal aku tidak sedang sakit flu ataupun pilek dan setahuku aku tidak punya penyakit asma. Tapi, Aku tidak menghiraukannya, mungkin memang aku lagi sakit sinus. Tapi lama kelamaan, rasa mampat dan susah bernafas itu hilang juga dengan sendirinya.
Pagi hari di sekolah..
                Karena Bunda ingin ikut mengantarkan aku, jadi Ayah mengantarkan aku dengan mobil. Meskipun di dalam mobil, Bunda masih menyuruhku untuk memakai jaket dan membawa jaket tebal itu saat disekolah. Karena olahraga kami jam 5 pagi jadi menurut Bunda, udara sangat dingin dia takut aku akan sakit jika terkena udara dingin. Padahal kan bagus ya, udara pagi itu. Hmm, Bunda Bunda..
                Aku menyampaikan salam kepada Ayah  Bundaku, dan mereka menjawabnya dengan senyuman yang dapat menghangatkan pagi ini yang sebenarnya tidak terlalu dingin. Namun, bagiku entah mengapa pagi ini sangatlah dingin. Tapi, aku tak menceritakannnya kepada mereka. Takutnya mereka malah melarangku untuk berolahraga.
                Aku sedikit menggigil ketika sampai disekolah. But, I don’t care about it. Ketika stretching, tiba-tiba hidungku mampat kembali tapi disertai juga rasa kepalaku yang sangat sakit seperti yang sebelumnya pernah aku rasakan itu.
                “aduuh !” aku meluapkan rasa sakitku dengan teriakan kecil yang aku pikir tak ada yang mendengarnya. Tapi, Bundel yang berbaris disebelahku mendengar teriakanku yang memang terlihat menahan sakit yang sangat itu.
                “loh, Noci. Kamu kenapa ? kok tiba-tiba pucet gitu wajahmu ?”
Aku hanya menggeleng karena aku tidak bisa berkata apa-apa, sakit itu membuatku tak bisa membicarakannya. Dengan wajah yang berusaha kubuat meyakinkan, akhirnya Bundel percaya juga.
Aku membiarkannya dan sambil terus beristighfar. Agak mendingan. Namun ketika guruku menyuruh kami semua berlari seperti jogging. Sakit kepala, hidung yang mampat dan nafasku yang cepat kembali lagi. Menjadi tak terkendali. Sangat berat.
 “sekarang kita coba latihan bermain volley ya ?” ajak guru olahragaku.
“ayo pak !!” serentak semua menjawab.
Aku pun terpilih menjadi anggota untuk memainkan permainan ini. Bundel yang tidak ikut, ternyata memperhatikanku sepertinya dia cemas, karena sejak jogging tadi kelihatannya Bundel sudah memperhatikanku. Hmm, tapi, tak apalah lagian aku sudah agak nyaman.
Selama pemanasan sebelum bermain, aku merasakan ada yang berbeda dariku. Kepalaku terasa sangat sakit kembali. Aku sebenarnya tidak kuat untuk menahannya, tapi apa mau dikata, waktu pemanasan sudah habis dan saatnya bertanding.
Karena serunya bermain, sampai-sampai aku lupa dengan rasa sakit kepalaku. Aku menjadi bersemangat untuk bermain. Selama permainan, salah seorang yang aku kenal suaranya berteriak kepadaku.
“Nociiiii … berhenti main !!!”
Aku menoleh, saat menoleh aku melihat ceceran darah segar berceceran di kerudungku dan di atas tanah permainan. Aku terkejut dan seketika aku lemas hingga membuatku ingin merebahkan diri sejenak. Aku jatuh pingsan…
30 menit kemudian…
                Ketika aku terbangun, kedua sahabatku dan kekasihku sudah berada disampingku sedang membersihkan darah yang masih memerahkan bagian hidungku.
                “oughh.. sakit kepalaku..”
                “pio, jangan bangun istirahat saja !” adri’ melarangku untuk bangun.
                “ada apa ini ? apakah ini darahku ?”
                “pio tadi kamu mimisan, banyak darah yang terjatuh dimana-mana.”
“aku tadi sudah bolak-balik memperingatkanmu untuk berhenti bermain, tapi kamu tidak mendengarnya. Saat kamu menoleh, kamu langsung jatuh pingsan.” Jelas Bundel.
“benarkah begitu ?”
“Pio, kamu ini kenapa ? akhir-akhir ini aku perhatikan tubuhmu tidak terlihat sehat. Ada apa sebenarnya ?” Tanya Adri penasaran.
“ aku pun nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan diriku”
Tiba-tiba..
                Suara itu,
                “Pio, Pio, nak kamu kenapa ?” Bundaku datang menghampiriku yang jelas terlihat sangat khawatir.
“hmm, Pio nggak apa-apa Bunda. Kok Ayah ma Bunda kesini kan mestinya ada di kantor?”
                “udah pio nggak usah tanyakan soal itu, Pio kenapa bisa mimisan ?”sahut ayah
                “ich Ayah, Pio nggak apa-apa lagi. Hanya kecapekan mungkin,Yah.”
                “udah Pio sekarang Ayah antarkan ke Rumah Sakit, ayah sudah minta ijin buat Pio”
“ich Ayah, Pio nggak mau pulang. Percaya deh sama Pio, ini Cuma kecapekan ajaJ Ayah dan Bunda jangan terlalu mengkhawatirkan Pio ya, disini Pio ada sahabat-sahabat dan kekasih Pio yang selalu nemenin Pio, Pio masih mau sekolah”
“hmm, apa boleh buat kalo Pio maksa kami, baiklah. Tapi, kalo ada apa-apa lagi Pio cepet-cepet telpon Ayah atau Bunda. Janji ??”
“janji ayah ! J
Sempat terfikir olehku, akankah aku mempunyai penyakit yang kronis ? hmm, tidak ,tidak. Aku hanya kecapekan. Aku berusaha berpositive thinking. “Ya..ya..ya..Pio gak papa”
***
Malam hari ini, aku langsung disuruh beristirahat oleh Ayah dan Bunda. Tapi, aku menyempatkan untuk menulis kejadian hari ini di Diary kecilku, Bookey.
sabtu ,18 Januari 2012
Apa yang telah terjadi pada diriku ? aku mimisan tiba-tiba. Aku takut. Aku sempat bernegative thinking, tapi aku tidak berani bilang kepada siapapun. Aku tak ingin membuat khawatir. Aku memang merasakan ada yang berbeda hidup dalam diriku. Jadi, aku mohon rahasiakanlah !
Sempat terfikir olehku, kenapa Bunda dan Ayah selalu mengkhawatirkan keadaanku. Mimisan sedikit saja kekhawatiran mereka semakin menjadi-jadi. Ada yang mereka sembunyikan. Aku juga merasa, dari dulu aku tidak pernah sakit-sakitan. Dan baru kali ini saja aku sangat sering mengalami pendarahan di hidung.
“astaghfirullahal’adzim..”
Tanpa aku sadari, darah segar itu mengucur dengan sendirinya. Aku cepat-cepat membersihkannya. Kehilangan darah membuatku lemas, aku langsung minum obat penambah darah agar aku tidak kehilangan banyak darah. Dan, membuatku mengistirahatkan sejenak mataku dan tubuhku. Sembari Aku selalu memikirkan rahasia apa yang mereka sembunyikan dariku.
Minggu malam senin…
Sempat terbawa mimpi, mimpiku disitu mata bagian kananku memerah dan semakin memerah hingga membesar dan membengkak. Aku terkejut sehingga membuatku terbangun. Dan saat itu juga, hidungku yang bagian kanan menjadi mampet. Aku melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Aku bergegas menuju kamar mandi. Dan setelah itu langsung cepat-cepat berlari menuju kamar.
Ketika ganti baju dan menatap kacaku. Aku terkejut mataku memerah sangat merah.
“astaghfirullah.. apakah ini mimpi semalam ? benarkah ini ?? kenapa cepat sekali mimpi itu terjadi padaku”
Aku gemetar dan sangat ketakutan. Aku khawatir dan terus menatap mata kananku yang merah seketika terasa ngilu juga dalam mataku. Aku hanya duduk termenung dan memikirkan apakah ini sebenarnya. Tanpa berfikir panjang, aku cepat-cepat berbenah dan memakai kacamata agak buram untuk mengecoh Bunda dan Ayah agar tidak mengetahui mataku.
“Pio, ayo makan !” suara bunda mengagetkanku.
“i..iya Bun..” aku langsung berlari ke meja makan sambil membetulkan kerudungku.
“maaf Pio telat, kerudung Pio susah banget diajak kompromi nih. :D”
“hehe, Pio-Pio, ada ada aja kamu, terus kenapa kok pake kacamata buram segala, ada fashion show disekolah ?”
“haha Ayah bisa aja, Pio janjian aja sama Nela dan Ica buat make kacamata, keren kan aku Yah”
“ahaha ada-ada saja kamu Pio. Ayo cepat makan yang banyak agar tidak lemas saat sekolah nanti”
“iya Ayah” senyum kebohongan itu harus muncul agar Ayah tidak mengetahuinya.
Pagi itu diperjalanan menuju sekolah..
                Pagi ini kabut menyelimuti seluruh jalanan. Kabut itu membuat sinarnya cahaya matahari sangat susah untuk menembus kabut tebal itu, sama dengan diriku yang tidak mendapatkan seberkas cahaya dalam alam penasaran ini. Aku terus saja memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Hmm, aku menjadi sakit kepala jika terlalu memikirkan itu.
                Ketika pelajaran berlangsung, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran. Aku terus saja memikirkan penyakit apa yang sebenarnya ada ditubuhku.
                “ough..” aku berteriak kecil. Tiba-tiba kepalaku sangat sakit. Aku menahannya, tapi sayang tetesan darah dari hidung itu tak bisa ku tahan. Oh tidak aku mimisan lagi. Aku cepat-cepat menghapusnya dari hidungku dengan tissyu.
                “Pak, saya ijin ke kamar mandi” sambil memegang hidung yang penuh darah, aku belum sempat mendengarkan ijin guruku aku sudah meninggalkan kelas dengan segera. Semua teman sekelasku heran melihatku, Ica pun mengikutiku. Ketika menuju pintu kamar mandi dengan jalan yang menghadap ke lantai, aku tak sengaja menabrak orang.
                “oh maaf mbak!”
                “Nocii.. kamu kah itu ? ada apa denganmu ?”
Hah, ternyata Bundel yang tak sengaja aku tabrak. “aku mimisan lagi Bund”
                “apa ?” Ica pun juga kaget mendengarnya yang sudah sejak tadi berada di sebelah Bundel.
                “Udah, kalian jangan telpon Ayahku dan jangan bilang ke sapa-sapa termasuk Adri”
                “tapi Noci kamu itu mimisan lagi matamu itu juga merah kan tapi kamu menutupinya dengan kacamata hitam itu kan!!”
                “UDAH, nggak usah bilang sapa-sapa” aku sedikit membentak agar mereka tak bercerita kesiapapun. Setelah selesai membersihkan darah itu aku langsung berlari meninggalkan mereka dan menuju ke kelas. Aku tak ingin mereka tahu jika aku sering sekali mimisan lagi akhir-akhir ini. Aku ingin menyendiri. Keegoisanku tumbuh karena aku sangat takut dengan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini.
                Jam istirahat aku habiskan di ruang computer, disana aku berusaha mencari apa yang menimpa diriku sebenarnya dengan gejala yang aku miliki. Mataku sangat merah dan kali ini membengkak perlahan-lahan. Sangat sakit. Aku berusaha mencarinya, dengan sedikit terkaget.
“Apa ? apa itu ? penyakit yang aku alami itu sudah kronis dan sudah memuncak saat ini ??! Rhabdomiosarcoma. Penyakit apa ini ? apa ? apa ini ?
Aku berlari menuju perpustakaan sekolah, dan menuju rak buku tentang macam-macam kanker untuk meyakinkan hal itu. Penyakitku itu termasuk kanker jaringan lunak. Apa yang terjadi. Ada apa ini. Aku menangis ketika membaca artikel itu. Aku terkena kanker. Tidak terfikir olehku, penyakit kronisku selama ini adalah kanker itu. Aku banyak beristighfar. Aku takut. Aku terkejut. Seketika lemas badanku. Aku menuju ruang kelas tanpa menggunakan kacamata itu. Dan terlihat jelas mataku membengkak sangat besar. Semua temanku terkejut. Tetapi untung, aku tidak menemui Adri seharian ini. Semoga dia tidak mengetahuinya. Tak kusangka, Ica diam-diam menelpon Ayahku dan sudah menyimpan nomornya seminggu yang lalu. Alhasil, ayah langsung menjemputku.
Sampai dirumah..
                “Pio.. nak kamu tidak apa-apa ? Matamu membengkak nak ?”
Ocehan Ayah tidak kugubris sama sekali. Aku marah, kenapa Ayah dan Bunda tidak bercerita dari awal tentang penyakitku yang kronis ini dan sekarang sudah menajdi akut. Aku terdiam duduk manis di sofa. Namun akhirnya..
                “Ayah kenapa ayah tidak bercerita bahwa aku mempunyai penyakit ini, penyakit ini sebenarnya sudah lama ku derita kan ? tapi kenapa Ayah dan Bunda tidak menceritakannya padaku dari awal, kenapa Ayah? Selama ini aku menahan rasa sakit yang menjalar di wajah kanan ku, aku susah bernafas dan seringkali mimisan Ayah!” aku membentak sembari menahan sakit mataku itu. Air mataku pun terjatuh.
                “maafkan Ayah dan Bunda, Pio. Ayah gak ingin anak Ayah jadi pemurung karena penyakit ini. Aku ingin melihat anak Ayah ceria bersama teman-teman Pio”
                “ayah salah, bukannya selama ini Pio ceria, tapi sebenarnya Ayah tidak tahu, aku menahan sakit di mataku yang membengkak ini Ayaah.” Aku menangis sejadi-jadinya.
                “Pio, pio maafkan Ayah nak. Ayah sangat menyesal tidak memberi tahu. Ayah takut Pio tidak ingin bersekolah dan selalu murung, tapi ayah salah ternyata anak Ayah ini adalah anak yang tangguh. Maafkan Ayah, pio”
                Aku tak bisa menjawab pernyataan ayah itu, tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sudah memaafkan ayah.
                “ayah sangat menyayangi Pio. Ayah tidak ingin kehilangan Pio” ayah meminta maaf sembari menangis dan memeluk aku. Tapi, apa yang dirasakan Ayah. Aku malah lemas tak bertenaga, karena aku kembali mimisan. Darahku berkucuran sangat banyak. Kemeja Ayah memerah karena darahku. Aku jatuh pingsan.
                “tiit.. tiiit.. tiit..”
Suara itu membuatku terbangun yang mengganggu tidurku. Dan, bau alcohol yang sangat menyengat menusuk hidungku.
                “Pio nak kamu sudah bangun ??”
                “Bunda, pio dimana.. kok Pio diinfus”
                “Pio dirumah sakit nak, tapi Pio udah enakan ?”
                “mata Pio sakit sekali Bund.”
                “sabar ya sayang, dokter berusaha untuk mengecilkan dan mengembalikan mata Pio seperti dulu lagi. Sabar ya nak. Pio harus kuat.”
ketika itu..
                “Bunda, Ayah mau bicara sebentar dengan Bunda”
                “iya Yah.” “Pio tunggu sebentar ya, ayah manggil Bunda”
                “iya Bund”
Wajah ayah kok kelihatan lesu begitu, dan ketika membuka pintu ayah hanya melihatku dengan mata yang sayu dan tatapan yang terlihat tidak tega melihat keadaanku. Aku membalas senyuman kepada Ayah. Ketika mereka bicara berdua, terdengar tangisan Bunda yang sedikit ditahan agar tidak mengeluarkan suara yang keras. Tapi aku tetap mendengar tangisan itu. Tak berapa lama, Bunda masuk ruanganku dengan mata yang sedikit sembab karena tangisan itu mungkin.
                “ada apa Bunda ko nangis ?”
                “ha, emangnya Bunda terlihat habis menangis ? ah ndak, Bunda nggak nangis.”
                “oh aku kira kenapa” aku tahu, sebenarnya mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi sudahlah, tidak ada yang perlu aku tahu, toh sekarang aku terkena penyakit yang ganas.
Senin pagi di rumah sakit..
                “Pio ayo makan bubur ayam kesukaan Pio” tawar Bundaku.
                “tapi ayah mana ? ayah sedang masuk kantor jadi nggak bisa nemenin Pio.”
Tiba-tiba..
 “aduh,, mata Pio sangat sakit Bunda.. dan Pio juga mimisan lagi”
Bundaku terkejut ketika sedang menuangkan air minum. Sekejap, Bunda langsung memanggil Dokter Ilham. Sakit itu memuatku tidak bisa menahannya, aku terus berteriak kesakitan. Tak lama Dokter pun datang dan membawaku keruangan yang tidak aku tahu. Aku terus berteriak kesakitan. Tak lama kemudian, suntikan jarum menusuk lengan atasku dan aku mulai tenang. Tapi tak lama, aku pun merasa menggigil dan menjadi sangat kedinginan. Aku berkata “dingiin.. dingiin..” tapi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Lama kelamaan rasa dingin itu, bertambah menjadi sangat dingin dan aku semakin menggigil. Namun beberaa saat kemudian aku mulai tenang kembali. Dan tak lama aku tersadar. Dan aku sudah berada kembali di ruangan inapku. Ternyata disana, sudah ada Adri, Nela, Ica dan teman sekelasku yang lain.

“hmm..’” aku perlahan membuka mataku.
“Pio udah sadar ?” tanyak Adri dengan senyumannya.
“adri, sejak kapan ?”
“baru aja, kamu nggak apa-apa kan ?”
“iya, aku agak baikan.”
Ternyata teman-temanku sedang menjengukku. Aku sangat senang mereka hadir menemaniku. Aku tidak ingin berada disini aku ingin belajar disekolah bertemu setiap hari dengan teman-temanku. Tapi apa daya, aku harus menjalani rawat inap disini.
Keesokan harinya..
                Tak kusangka, benjolan di mata  kananku bertambah besar dan tidak mengempis, rasa sakit mulai mendera. Aku kembali merasakan sakit yang kemarin masih tersimpan di memoriku. Bundaku mengetahuinya, serentak aku dibawa kembali untuk menjalankan proses kemoterapi yang memang harus dilakukan untuk menghilangkan kanker-kanker itu. Sangat kesakitan, namun ketika aku di kemo, rasa sakit itu hilang kembali dan aku merasa agak enakan.
                Pada saat itu juga, dokter sedang membicarakan sesuatu tentang kondisiku yang memang sudah sangat akut dan berada di stadium akhir. Sehingga harus dijalankan oprasi untuk menghilangkan sel-sel kanker itu. Tapi, Ayahku menolak dengan keras. Karena, ayah tidak tega membiarkan wajah anaknya yang harus diambil setengahnya dan akan menjadi cacat permanen, kecuali dilakukan oprasi plastic. Meskipun tawaran oprasi plastic, Ayahku bersikeras untuk tidak melakukan cara alternative itu untuk membunuh sel-sel kanker yang semakin ganas menyerang wajah kananku.
                Aku tak menyadarinya, bahwa rambutku berada diatas bantal. Rambutku rontok ? aku memegang kepalaku, ternyata sudah tidak ada lagi rambut yang tersisa di kepalaku. Aku terkejut. Aku menangis terisak. Bundaku mendengarnya. Membujukku dan meyakinkanku bahwa rambutku yang panjang lurus itu akan tumbuh lagi. Aku sebenarnya agak tenang, tapi aku tau rambut indah itu gak akan tumbuh lagi. Aku rasa karena obat keras saat kemoterapi itu yang membuat rambutku rontok tak bersisa.
                Selama seminggu aku harus menjalankan kemoterapi itu karena tidak ada jalan lagi untuk membunuh sel kanker itu selain dengan jalan oprasi yang tentu sangat ditolak keras oleh ayahku. Tapi perubahan yang signifikan sudah terjadi dalam hidupku, ternyata Allah masih memberiku kesempatan untuk bertemu dengan semua orang yang sangat aku sayangi. Kemoterapi yang rutin aku jalani hingga Kamis, ternyata berbuah manis. Dokter sudah menyatakan sel-sel kanker itu sudah lenyap. Dan hari Jumat, aku sudah berada di kamarku yang sanga aku rindukan. Tak lupa aku bersyukur kepada Tuhanku yang sangat aku sayangi.
                “Ya Allah, Alhamdulillah terimakasih ya Allah. Engkau masih memberiku kesempatan untuk berkumpul dengan orang yang aku sayangi. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah ! J
Hari Sabtu di sekolah..
                Semua teman menyambutku saat aku kembali kesekolah, termasuk Adri. Aku sangat merindukan dia dan teman-temanku. Tapi sayang, aku kembali kepada Adri dengan kepala yang tidak dihiasi rambut lurusku yang sangat disukai oleh Adri, namun Adri belum mengetahui hal itu aku harus menuembunyikannya karena aku tak ingin membuat Adri tambah bersedih karena rambutku yang hilang itu. Seharian itu, aku selalu bersama dengannya, dia bercerita banyak dan isinya cerita yang sangat lucu dan membuat aku tertawa. Seharian aku menjadi sangat bahagia bersamanya.
                Hari Minggu dia mengajakku untuk berjalan-jalan dan sebelumnya aku sudah meminta ijin kepada Ayah dan Bundaku. Ternyata mereka mengijinkanku. Aku sungguh senang seharian aku menghabiskan waktu dengannya, bercerita, bercengkrama dibawah pohon yang rindang. Dia membisikkanku sesuatu,
                “Pio, besok hari jadi kita”
                “apa ? benarkah itu ?” aku pura-pura terkejut. Sehingga dia mengira aku lupa dengan hari yang tentu sangat spesial untukku dan Adri yang tak mungkin aku melupakannya. Aku mulai mengguraunya.
                “benarkah itu Adri ? aku kayaknya lupa tuh. Sepertinya aku amnesia mendadak deh. hahaha”
                “ah Pio, masak kamu lupa sih ?” wajahnya tiba-tiba cuek dan kusut.
                “hehehe.. Adri- adri, mana mungkin sih aku lupa dengan hal itu ?”
                “ternyata kamu nggak lupa, Pio ?? waah kamu ngerjain aku nih, ntar aku balas kamu!”
                “waiissh, tenang Bray.. santai. Haha,, sayang sayang..”
                “emm, besok kita jalan-jalan lagi yuk Pio. Aku ajak kamu ketempat yang kamu suka.”
                “oh ya, beneran ? wah surprise nih. Oke deh.. siap Pak TNI !” aku meledeknya.
                “Ich Pio, yang TNI itu Ayahku bukannya aku tahu.”
                “hehehe, bercandaaa. Week !”
Malam hari ini, aku tidak bisa tidur, karena teringat hari ini yang sangat menyenangkan untukku. Waah.. aku sangat senang hidup normal kembali. Hmm, karena aku tidak boleh teralu capek, akhirnya aku tertidur.
                Tapi, aku tak menyangka akan bermimpi seperti yang pernah aku mimpikan. Sekarang dalam mimpiku, mata kiriku memerah dan membengkak seperi mata kananku. Tak kusangka, aku bermimpi sambil mengigau. Karena terkejut, aku pun terbangun.
                “tidak-tidak aku tidak sakit lagi.”
Aku mengeluarkan keringat dingin dan bergemetar seperti menggigil dan sangat ketakutan. Bundaku yang mendengarnya, lansung membuka kamarku dan melihat aku sedang menggigil.
                “kamu kenapa Pio ?”
                “Pio merasa sangat kedinginan Bunda. Gak tahan. Sangat dingin!”
                Bunda langsung memelukku erat dan menyelimuti aku agar tidak kedinginan dan menggigil. Tak lama, aku pun tertidur dalam pelukan hangatnya seorang Ibu.
                Pagi menyapaku dengan bunyi alarm. Aku capat-cepat melihat kekaca,  ternyata mata kiriku memerah lagi. Oh tidak… apa lagi ini, setelah mata kananku yang menonjol seperti monster, dan rambutku yang sudah meninggalkan kepalaku, ternyata sekarang, mataku kembali memerah dan parahnya lagi sel itu berpindah ke mata kiriku. Ya Allah cobaan apa lagi ini.
                Ayah dan Bundaku, mengetahuinya, lagi-lagi. Masih pagi, aku sudah dibawa kerumah sakit. Selama perjalanan kesana, ternyata aku mimisan lagi, cepat-cepat aku meminta tissyu yang berada di mobil.
                “Pio kamu mimisan lagi nak ?”
                ‘”iya Yah, tapi ayah setir saja dengan benar dan Bunda temani Ayah, Pio udah biasa, nggak apa-apa”
                “sabar ya Pio, sebentar lagi sampai”
                Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang menahan sakit. Sampai di rumah sakit, aku langsung dibawa oleh suster ke ruangan dimana aku dikemoterapi. Aku menjalankan prose situ, dingin menjalar disekujur tubuhku. Menggigil, itu pula yang aku rasakan. Tak lama, aku pun merasa tenang dan kembali keruangan inapku yang dulu. Ternyata, sel-sel kanker itu muncul lagi dan menggerogoti wajah bagian kiriku, tepatnya di mata kiri.
                Ya Allah, pa lagi ini. Saat ini aku punya janji untuk bersama dengan Adri merayakan Hari Jadi kami, 24 Januari 2012. Tapi, Allah berkehendak lain. Aku harus menjalankan proses ini untuk menghilangkan sel kanker ini dan berjuang meawan kematian. Karena, kanker ku saat ini sudah langsung mencapai tahap akhir atau stadium akhir. Aku haru berusaha untuk menghilangkannya dari dalam tubuhku ini. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan penyakit ini. Pakiranku tertuju lagi pada tanggal, 25 Januari  karena hari itu adalah hari Ulang tahu Adri. Aku ingin mengucapkan selamat secara langsung dan memberikan hadiah yang sudah aku siapkan saat aku kembali kerumah kemarin. Aku tidak akan melupakan semua hari tentang kita.
                Aku tak sadarkan diri, dan mengalami koma setelah menjalani kemoterapi. Karena, tubuhku tidak kuat lagi menahan obat-obat keras yang masuk kedalam tubuhku dan akhirnya aku koma. Adri pun tahu bahwa aku sedang koma, karena Bundaku menelponnya. Dia cepat-cepat datang kepadaku. Dia rela, tidak masuk sekolah demi aku. Tapi sayang, apa yang dibuatnya itu percuma, aku tidak tahu kapan aku sadar.
                Malam ini, adalah malam dimana besok Adri berulangtahun. Tapi, ternyata, dia tidak pulang, dan terus menunggui ku di rumah sakit. Aku tidak tega dengannya. Aku merasa kasian kepadanya, karena dia tidak beristirahat sekali demi menjagaku. Aku pun merasa disuruh untuk bangun dari istirahatku.
                “hmm J Adri kenapa kamu ada disini ??”
                “hah.. Pio kamu banguun ?? pio kamu kenapa ? jangn tidur lagi, aku ingin sama kamu. Aku mohon kamu jangan tidur dan pergi ninggalin aku, pio. Aku nggak bisa !” dia menagis sambil memelukku.
                “adri, tenanglah.. aku disini, aku nggak kemana-mana kok”
                “janji yaa..??”
                “iya aku janji. Kamu sudah makan belum, ini udah jam 10 malam”
                “halah, udah jangan pikirka aku. Aku baik-baik saja”
                “jangn gitu, kamu harus maem, jangan sampai sakit, Ndri.”
                “iya Pio sayang J aku menyayangimu.”
                “aku pun sayang juga denganmu”
                Aku tersenyum untuk memberitahu bahwa aku tidak kenapa-kenapa. Tapi, sebenarnya, aku sangat merasa kesakitan sebab sel-sel kanker itu mulai dengan ganasnya menggerogoti mataku. Sebenarnya tubuhku sangat lemas, tapi akumemaksanya untuk tidak tidur. Aku ingin bersama mereka.
                “pio kamu sudah sadar nak ?”
                “sudah Yah, ayah dan bunda sudah maem belum, jangan sampai nggak maem ya gara-gara Pio.”
                “iya nak, Bunda dan Ayah nggak akan lupa makan asal Pio sembuh kembali, Bunda sayaang pio”
                “ayah juga sayang Pio, makanya Pio harus kuat”
                “iya Ayah, Bunda.. J
                “Pio, kamu cepat sembuh ya..” mamanya Adri juga datang menjengukku.
                “iya tante makasih”
                “Piyooo…” suara itu tak terdengar asing di telingku.
                “kak Pipiit ! akhirnya kakak pulang juga. Piyo kangen ama Kakak tahu.”
                “Pio, kakak juga kangen banget ma Pio. Pio yang kuat ya. Harus sembuh demi Ayah, Bunda ma Kakak.”
                “iya kakak… aku juga harus sembuh!”
                “Nocii… aku kangen kamu”
                “haa, Bundel aku juga kangen kamu. Ko malem-malem kesini, jangan kayak gitu yaa, aku jadi repotin Bundel jauh-jauh dateng”
                “ah Nocii.. jangan gitu. Cepet sembuh ya”
                Hmm, aku tenang wajah mereka senang melihatku tersadar dari koma. Tapi, aku heran, kenapa mereka terlihat senang dan ceria. Aku tahu pasti agar aku tigak putus asa dan terus membuatku agar berusaha untuk sembuh. Namun, dokter berkata pada Ayahku yang sempat terdengar dari luar ruangan.
                “pak, ini suatu keajaiban. Masih sempat dia terbangun dari komanya. Sangat signifikan untuk terbangun dari komanya, tapi  Pio ini berbeda dia punya ambisi untuk sembuh dan membuat orang disekelilingnya merasa senang. Tapi, saya rasa dia hanya hidu untuk hari ini saja. karena, saya sudah mengecek bahwa, sel kankernya tidak bisa dibunuh dan tetap menggerogoti mata kiri, Pio. Pio sangat hebat dapat menahan rasa sakit yang sangat luar biasa itu.”
                “Iya Dokter, kami sekeluarga sudah mengikhlaskan Pio, kami tidak tega tetap membiarkan Pio tetap hdup, namu harus menahan rasa sakit yang amat sangat yang hanya bisa dirasakan oleh dirinya. Saya menyayanginya”
                “baik Pak Akbar, sabar dan ikhlaskan diaJ
Di dalam ruangan..
                 Aku pun  juga menyangka, aku terbangun dari tidurku hanya untuk berpamitan dengan mereka, terutama dengan Adri, kekasihku.
                “semuanya, boleh nggak Pio minta waktu sebentar buat bersama dengan Adri’ ?”
                “hmm, iya sayang, nggak apa-apa” dengan halusnya Bunda mengijinkanku.
                Akhirnya semua orang meninggalkan ruanganku, tinggal aku dan Adri yang berada dalam ruangan putih bersih itu.
                “Adri’, sekarang jam 11.30 malam, apa kamu nggak ngantuk ?”
                “ ndak Pio, aku nggak ngantuk sama sekali. Pio, kamu nggak apa-apa kan?”
                “nggak Adri, aku nggak apa-apa. Adri, maaf ya, tadi aku nggak bisa jalan-jalan sama kamu, sebenernya aku ingin banget rayain hari jadi kita. Tapi, aku membatalkan semuanya.”
                “Pio, udahlah, aku nggak apa kok, lagian uda aku seharian udah sama kamu kan ?”
                “iya Ndri’, makasih banyak yaa”
                Tiba-tiba, hidung kiriku mampat dan mataku terasa sangat sakit. Tapi, aku tidak ingin menampakkannya didepan Adri’. Aku mencoba bangun untuk mengambil sesuatu di dalam laci.
                “eh Pio kamu ngapain jangan bangun dari tempat tidur.”
                “apaan sih, aku tuh nggak apa-apa tahu” sedikit bercanda. “Emm, ini kado ultahmu Adri’, Met Ultah ya.. maaf ngucapin duluan sebelum waktunya, besok.”
                “ya Allah, Pio, aku nggak butuh kadomu, aku butuh kamu buat selalu bersamaku”
                “Adri’, panjang umur ya, sehat selalu, jangan telat maem dan selalu inget sama Allah, percaya deh, Allah selalu menjaga kita, aku dan kamu, Ndri’.”aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku tau sebentar lagi aku akan meninggalkannya.
                Tiba-tiba aku tak bisa menahan sakitnya mataku yang sudah sangat membesar dan sakit yang tak tertahan. Sakit sangat sakit, aku berteriak kesakitan.
                “Pio kamu kenapa ?”
                “nggak gak apa-apa. Adri aku sangat sayang dengan mu. Dan, Terimakasih.. inilah hari Indahku bersamamu Ndri’...”
                “Pio, Pio.. banguun..”
                Aku sudah tak bisa menahan rasa sakit yang amat sangat ini. Aku ingin menyudahi perangku dengan sel kanker ganas itu. Akhirnya aku pun tak sadarkan diri dan saat itu tangan Adri menggenggam erat tanganku.
                “aku pun juga menyayangimu, Pio. J
                Semua orang, Ayah, Bunda, Kak Pipit, Dokter Ilham dan yang lainnya hanya dapat melihat dari luar ruangan. Sel ganas ini sudah terlalu ganas dan kebal terhadap obat kemoterapi. Dan, Dokter Ilham tak bisa berbuat banyak. Ayah dan Bunda sudah ikhlas melepaskan kepergianku.
                Akhirnya, usailah sudah perjuanganku melawan sel kanker ganas ini. Aku pun tidak ingin meninggalkan sedikit kesedihan diwajah mereka yang menyayangiku. Karena, aku tak ingin melihat wajah sedih mereka saat ku tinggal pergi.
                Hari yang indah untukku…
                J
***
                 







TAMAT

1 komentar: