Statusku saat itu masih remaja yang lulus UN SMP dan mau melanjutkan ke SMA favoritku. Remaja polos dengan perasaan yang labil atau susah ubtuk diatur. Seorang yang respek dalam hal apapun. Menyukai pemandangan laut. Karena hal itu yang dapat membuatnya tenang dikala semua masalah berkumpul dan memenuhi otak gadis manis ini. Seperti masalahnya yang satu ini...
*Flashback on*
Dana, sebut aja dia Dana. Cowok sekelasku yang aku “suka” dari awal masuk kelas VII SMP. Tidak. Aku tidak kenal kata “suka”. Ada apa ini? Dari zaman aku Sekolah Dasar, aku tidak diajarkan ortu buat suka pada orang lain, karena masih ‘bau kencur’ katanya. Ya, namanya anak penurut. Aku takut kalo langgar kata-kata ibuku. Tapi, mungkin karena hukum alam, semua makhluk akan saling suka, tapi bedajenislah, jelas. Aku pun termasuk makhluk yang akan merasakan hukum alam itu. Pandangan pertama pun tak terelakkan *oke, ini berlebihan*.
“maukah kamu jadi pacarku, Pio?”
Yak, kalimat itu yang sukses keluar dari mulutnya yang masih caberawit itu sama kayak aku. Sontak aku terkejut haru. Cowok yang aku sukai juga menyukaiku, oh tidak bahkan lebih dari suka. Dia memintaku buat jadi pacarnya. Bagaimana ini? Hey Dana, ini masih semester awal kelas VII SMP. Gundah.
Tapi, bagaimana pun aku tetap menolaknya, dengan usaha dan tekadku untuk tidak mengenal “pacaran” dulu.
“ma-maaf Dana, aku m-mau tapi semester 2 aja. Gi-gimana?” bodohnya aku. Itukah yang disebut usaha untuk tidak mengenal pacaran? Hah, konyol sekali ini.
Dia hanya tersenyum manis sekali, sangat cool dan tetap terasa tenang. Jadi merasa aneh kenal dia. Ah sudahlah. Karakternya mungkin.
Semester 2 datang. Berpacaranlah kami. Seneng dan bahagia pasti. Namanya juga pacaran. Kebanyakan seneng tapi kalo udah sedih, pasti ngaret banget jadinya. Berbula-bulan deh. 3 tahun sudah kita pacaran. Sampai akhirnya, kita sama-sama lulus UN bareng. Tak dipungkiri juga kita akan satu sekolah lagi di SMA favoritku pula. Haaa, apa ini? Malu sekali diriku mengingat hal-hal yang selalu sama dengan tak sengaja. Namun, dari sinlah kegundahan dan kegelisaan terpampang jelas.
*Flashback off*
“Huff..” aku menghela nafas berat.
Kenapa coba, hal itu terngiang lagi di memoriku. Acara gowesku sambil liat llaut yang menenangkan jadi badmood. Kenapa bisa badmood? Yaa begitulah. Aku lagi gundah.
“besok hari pertama jadi putih abu-abu ini! Senangnya!” aku mencoba merefresh otakku. Hehehe. Puas melihat laut yang berombak tenang dan angin laut yang dingin-dingin sejuk. Aku pulang kerumah.
Keesokan hari...
Sampai di sekolah dengan diantar ayah untuk hari pertama, tambah dobel senengku.
“makasih ayah..”
“makasih ayah..”
“oke Pio”
Nah, ini dia. Aku dikelas X-i. Dan... aku bareng Dana. Waow. Tripple deh senengku. Tapi, Cuma kita berdua yang masuk kelas itu, placement test. Ahh, malunya. Memang, sekolah favoritku itu diluar distrik, jauh dari rumahku pula. Bisa dibilang di kabupatennya.
“Okelah, mencari pengalaman baru ya harus bisa adaptasi dengan baik toh” semangatku dalam hati.
Ternyata, kelas ini sangat menyenangkan. Aku langsung dapat temen baru banyak banget. Lumayan seru, eh, seru banget malah. Sudah seminggu aku disini, tapi ada hal yang mengejutkanku. Tiba-tiba aku dipendah di kelas sebelah yang merupakan unggulan pertama. Otomatis aku berpisah dengan Dana dan juga sahabatku yang baru aku kenal namanya, Nella. Aku sangat benci dengan hal ini. Aku protes dengan segala emosiku, kenapa aku harus dipindah. Kelas ini sudah cukup membuatku nyaman. Aku menangis dalam diam. Aku diam di bangkuku yang sebelahan dengan Nella. Dana, hanya bisa melihatku dengan sendu dari jauh. Sekali lagi aku tidak mau!
“sudahla, Pio. Aku akan tetap jadi sahabatmu. Selama break sekolah kita akan tetap bersama”
“iya aku tau Nell, tapi...”
“aku tahu, Dana akan baik-baik disini. Aku akan laporkan ke kamu jika dia mgapa-ngapain. Hahahaha, oke?” nella ketawa puas.
“hehehe.. baiklah” aku pun ikut ketawa garing dengan sedikit termehek-mehek.
Siang itu juga aku langsung pindah dengan teman-yeman lainnya ynag disebutkan oleh guru TIK ku. Huh, sungguh menyebalkan. Masih dendam nih. Liat saja, aku akan mencekikmu Pak, sudah membuatku beradaptasi untuk yang kedua kalinya. Ini sungguh merepotkan.
“Suasana yang sangat mencekam. Sungguh membuatku takut. Aura persaingan disini sangat kental. Menyengat hidung lalu ke paru-paru. Sangat menyesakkan. Kelas apaan ini? Unggulan sih iya, tapi gak segininya juga lah. Sambutan macam apa ini? Hahh, konyol. Kelas yang sungguh konyol. Mau membuat aku mati dalam perasaan individualis kelas ini, eh?” aku menggerutu dalam hati.
Semua penghuni kelas ini Cuma bisa menatapku dengan tatapan heran. Ya gimana enggak heran meraka, ingus dan jejak air mata di pipi putih mulusku ini kentara dengan jelas. Kalian berpikir aku cengeng, eh?
“sudahla.. sudah..” aku mengelus dada sambil beristighfar. Tak berapa lama aku sudah kembali senyum. Berpositive thinking itu memang perlu. Sudah tenang rasanya diriku.
Keesokan harinya..
“siapa namamu? Aku Aniq. Salam kenal yah. Sudahlah jangan nangis kayak gitu”
“aku Pio, iya makasih salam kenal juga”
Saat itu juga banyak yang berhambur menujuku. Tapi, ya hanya beberapa juga yang masih tetap di bangkunya masing-masing. Aku bisa memakluminya, namanya juga kelas individualis. Cih! Okelah. Kelas yang selalu bersama. *oke aku berbohong, hahah*
Semester awal sudah ku lalui dengan susah payah. Oke, itu bercanda. Aku hanya melewatinya sesuai sungai jernih yang mengalir pelan tapi pasti. Liburan sekolah. Ya sudah pastilah, aku juga menikmatinya. Sungguh senang terbebas dari kelas yang selalu membuatku suntuk setiap saat.
Liburan sudah usai. Oh ya bagaimana kabarku dengan Dana? Baik baik saja kok. Kita masih lanjut, masih. Tapi ada hal aneh yang terjadi dalam diriku, ahsudahlah...
Senin pagi...
Pelajaran kimia yang sangat menyenangkan, karena gurunya merangkup walikelasku itu sungguh humoris. Kita dibuat ketawa. Tapi adakalanya juga kita harus serius. Sejenak aku dapat menghilangkan suntuk dan bosenku di kelas ini. Walikelasku ini sedang membicarakan koordinasi kelas, karena beliau menganggap kelas ini sangat individualis. Apa?? Walikelasku bilang begitu. KITA SEHATI BU!! Aku menang rasanya. Mereka yang individualis disindir oleh walikelasnya sendiri.
“HAHAHAHAHA!!! Rasain kalian!” aku ketawa sangat besar dalam hatiku yang mungil ini. Puas rasanya.
“ibu akan mengatur letak tempat duduk kalian. Bersiaplah untuk pindah!” seringainya, ah tidak. Senyumnya yang lembut.
Heheheheh, aku bergidik ngeri. Namun ada perasaan senang pula disini. Entah apa itu.
“anis pindah kesana...”
“inka kesana..”
“bla bla bla...”
*flashback on*
“kenapa kelas ini sangat membosankan bagiku!! Setan apa yang ada disini? Hahaha” innerku ngomel dengan abalnya.
Aku hanya memandang kelas ini dengan berpangku dagu di telapak tangan kananku. Bosan. Eh tapi, siapa dia? Aku memandangnya tanpa henti. Siapa dia itu? Siapa? Isshh! Innerku cerewet sekali. Bisakah kau rubah innerku ini yang satu ini Kami-sama??
Aku terus saja bertanya pada diriku sendiri. Ya tidak akan ada yang jawablah. Bodoh kan? Memang. Hehehe. Aku melihatnya dengan tatapan kagum. Gimana gak kagum cowok yang aku tatap ini sangat keren, gayanya kayak anak metropolitan, seperti remaja surabaya *oke ini berlebihan*. Tapi, aku kagum. Setauku, dia ini alim. Tatt agama bangat sampe-sampe jomblo. Iyah! Jomblo readers. Oh Kami-sama, siapakah malaikatmu yang sungguh kerennya minta ampun ini? Jawablah kumohon...
Aku tidak gila, terus-terusan bertanya pada diriku sendiri. Aku langsung aja ngibrit ke temen sebangku ku namanya, Icha. Aku kepoin dia tentang cowok terkeren menurutku itu. Di sampe sweatdrop readers. Hehehe. Hey, tapi ini salah innerku yang nyuruh aku buat cerewet. Dan akhirnya aku dapet info.
Dia itu namanya.......Qiqi. Wahh nama yang unyu. *maaf ini alay* pas ama karakternya yang cuek-cuek dingin. Entah kenapa aku langsung melting ama ni anak. Kenapa harus begini coba? Gak sadar, semenjak aku keliatannya suka ama tu anak, aku jadi mandang-mandang dia dari jauh. Suka banget ama kebiasaan kayak gitu. Entah kenapa lagi-lagi gitu. Apa ini suka pada pandangan pertama ?? ahh tidak tidak. Terus kalo bukan suka, apaan? Kagum? Kan hampir sama maksudnya. Terus ini perasaan apa?
Tersirat dipikiranku, apa ini seperti saat dimana dulu aku pertama kelas VII SMPA dan ketemu pandang ama Dana. Jadi, ini bagaikan de javu.
*Flashback off*
“Friza.. Frizaa... Frizaaaa...!” sang walikelas humoris itu ternyata membuyarkan lamunanku. Yampun jadi pasang muka bego nih. Malu banget.
“i-iya, Bu.. Maaf, ada apa Bu?”
“Friza, kamu pindah ke bangku sebelahnya Haqiqi!”
“w-what the hell, Bu??” *eh-eh, aku jadi gagap gini*
“sekarang nak!” ibu walkes itu malah segera menyuruhku dengan nada tinggi. Mungkin, geram kali ya, dipanggil berkali-kali gada sautan, eh disuruh pindah malah diem masih duduk anteng.
“ohh ibu, andaikan kau tau, aku duduk diam ini sedang berfikir apakah aku harus pindah atau tidak. Malu bu, sebelahan dengan cowok yang aku sukai. Pengertianlah bu..” innerku mencoba manja.
“ba-baik bu, saya akan pindah.”
Dan saat itu juga, semua temen yang duduk dibangku lamaku bersorak sorai ria. Seakan menyambut kedatangan pangeran William dan Kate Willson *oke ini terlalu dibuat-buat*. Jadi, mereka semua ini tau kalo aku ngecengin si Qiqi keren itu. Dasar!
“Pio, good luck ya duduk disana?!” mereka semua kompak nyorakinnya.
“Hey, jangan seperti itu, kalian terlalu berlebihan. Kalo semua tahu gimana? Hey. Aku malu.” Innerku mengomel di isyaratkan dengan tatapan mataku yang ingin membunuh telak mereka semua. Mampus aku di skakmat. Kulirik Qiqi sekilas, ternyata dia mendengarkan. Tapi apakah dia budeg? Temen-temen disini teriaknya bagaikan pake toa masjid. Hadu, apa dia itu ngalihkan pendengarannya dengan menatap buku yang ada di bangku bergaya anak kuliahan itu. Cih, dasar gak respek. Eh, tapi tapi, untung juga kalo dia gak denger teriakan mereka yang seperti melihat artis kesayangannya tampil sedetik di iklan. Oh Kami-sama bantulah aku.
Akhirnya dengan berat hati, malu, gugup, takut dan sebagainya aku beranikan diri meninggalkan mereka yang tetap masih heboh dengan teriakan masing-masing menuju bangku yang baru dengan surga dunia, malaikat tanpa sayap disebelah kiriku. Oh kami-sama, ini sungguh berlebihan.aku dudukkan pantatku di kursi bergaya kuliahan itu dengan hati-hati, sekilas melirik si cowok keren itu disampingku.
Kriieett~
Wodehell!! Bunyi apa ini? Kursi sialan, memalukan. Sontak semua pandangan mata tertuju padaku. Salah paham. Oke, aku dibuat malu untuk kedua kalinya. Oh tidak imejku rusak. *gigit-gigit kursi*
“HAHAHAAHAHAH KAMU KENTUT PIO??” salah seorang temen memprovokatori diriku ini. Cih! Aku akan membunuhmu nanti.
“eh-eh, endak endak! Ini kursinya yang udah reyot tau!”
Aku mengelak, sekilas kulirik lagi si cowok keren itu, masih dengan tampang datar dan keren, menurutku. Sungguh aku tak bermaksud mengganggumu, Qi.
Setelah ribut dengan suasana yang sangat gaduh dan ribut itu. Bell pulang sekolah berbunyi. Sungguh aku merasa tertolong dengan bunyinya bel itu. Terimakasih banyak. Akhirnya, hari ini aku lalui dengan warna cerah yang berarti banyak tawa disana. Aku yakin, kau juga tertawa, namun kau tahan tawamu itu. Dasar jaim kau si cowok keren!
hari ini pun berlalu, dengan tergantinya matahari menjadi bulan yang memantulkan cahayanya. Terang terang redup. Hmm, bagaikan pertemananku denganmu. Sungguh penuh dengan misteri, apakah kau menerima pertemananku atau tidak. Jawabannya hanya waktu yang terus berjalan, tak pernah menampakkan waktu itu akan berhenti berdetak, kecuali battere jam dindingnya udah habis energinya *oke ini gaje*. Aku tidur malam ini dengan sebuah senyuman, karena berkat walikelasku aku semakin bisa mengenalmu dan membuatmu menjadi temanku. Itu dulu.
Keesokan hari..
Seperti biasa aku ke sekolah dengan giat dan semangat, ya kan ada moodboosternya. Jadi aku bisa pergi dan masuk gerbang sekolah dengan berseri-seri dan raut wajah segar bagai bunga mawar yang berbalut embun pagi di mahkotanya.
Kriiinggg.. kriing..
Bel awal pelajaran berbunyi, hari ini tempat dudukku berpindah. Yap, disebelah cowok kecenganku itu. Ketika dia deteng dengan raut wajah yang datar dan semi monoton itu, membutnya tampak eren. Apalagi, rambutnya yang...err kusut bagai baju kusut yang belum disetrika. Wah, semacam ngejudge tapi itu semua bentuk pujianku ke dia. Dia tetep keren!
Aku diam seribu kata di tempat itu. Diam, seakan hanya suara lantang guru-guru yang menjelaskan pelajaran. Aku berusaha cuek, tapi tak bisa. Memang diproduksi oleh Kami-sama untuk bersikap hiperaktif, cerewet dan gak bisa diem, bahkan untuk menemukan posisi wenak buat duduk di kursi pun tak mampu. Susah sekali. Aku memulai percakapan.
“hehehe, ma-maaf keganggu. A-aku memang kayak gini” kataku gugup
Dan..
Oke seandainya aku bawa kamera yang siselipkan dimanapun asal dia tak tau dan kameraku menangkap siluetnya dengan jelas, aku akan sangat senang dan akan melihatnya kapanpun.
Dia tersenyum tipis sekali. Aku menganga dibuatnya. Aku melting di tempat ini. Sudahlah, hentikan senyumanmu yang tipis tak terlihat jika dari jauh itu. Kau membuatku salah tingkah.
“ee-eehehehehee....” aku tersenyum kecut. Cepat cepat, ku tundukkan kepalaku untuk menghalangi dia menatap wajahku yang semerah merona delima ini. Aku tersenyum lepas. Rasanya ini awal aku bisa berteman dengannya, dia tidak buruk untuk diajak berteman, meski dia akan selalu dan selalu dengan karakter khasnya, cuek.
Akhirnya, kita bisa bercanda sedikit demi sedikit. Dari kejadian itu, aku juga semakin akrab dengannya. Semakin hari, aku dan dia juga tertawa kecil-kecilan bareng. Seakan merayakan suatu hal yang hanya kita berdua saja yang tau. Ternyata, meskipun kelihatannya dia itu cuek dan penuh aura es (baca : dingin), tak aku sangka dia itu humoris banget. Memang sungguh susah ketebak.
3 bulan berlalu...
Saat itu jam terakhir kelas X-h, diisi dengan Bu Juz yang sangat penyabar dan sangat menyenangkan, guru matematika. Gimana gak nyaman cara ngajarnya kalo buktinya aku bisa lulusin ulangan harian matematika itu. Dan senengnya aku bisa duduk disitu, ternyata dia bisa pelajaran yang kaintannya dengan eksak. Matematika apalagi, pelajaran yang aku belum bisa kuasai itu, dia sangat suka. Satu lagi, ulangan harian kimia aja dia dapet perfect, satu nol nol, seratus.
Bertambah kekagumanku. Saat itu, Bu Juz membahas bangun ruang. Aku sih suka bangun ruang, tapi ada yag gak aku ngerti juga. Bu Juz berkeliling deret per deret bangku untuk memberitahuka contoh bangun ruang itu dan macam-macamnya.
Disitu juga, kita saling kasih penjelasan kalo salah satu diantara kami gak ada yang ngerti. Kegiatann positiv kan? Ketika disaat seperti itu, aku mengesampingkan perasaan dan mengutamakan pelajaran. Kita seakan berteman, tak lebih. Mungkin, akunya aja yang terlau berlebihan nanggepinnya dan jauh harapannya.
“kalo kayak gini, gimana itungnya??” aku nanya dengan penuh kepolosan (baca : keoonan).
“humm, kalo kayak gini, itungnya harus kayak gini.. bla..bla..dan bla..”
“wooh kereen, iya iya aku ngerti. Hohoho makasi,eh?” senyum lebar penuh arti kejelasan dalam otakku terpahat di wajah.
“Hn..” oke, selalu seperti itu, atau bisa jadi gak jawab sama sekali. Cuma, tersenyum ikhlas sekali.
Ketika ibu maematika itu membahas di buku paket. Nah, semua pada gelabakan, jarang-jarang sih ada yang punya. Kecuali gueh *readers : si author songong pek! Kita timpukin tomat aja—author : eeee :P masalabuatkalian*. Kebetulan atau keberuntungan aku yang punya buku, si cowok keren itu nebeng *plakk, nebeng??* buku aku, yaa aku kasih aja. Baik hati kan. Tapi aku sih yang nawarin. Cih~
“mau buku?” tanyaku.
“silahkan” tetap tampang flat. Cihh~ bilang iya boleh gitu kek sekali-sekali, innerku ngebacot.
“okey nih!” akhirnya aku bagi buku itu. Karena kursi kami yang bergaya ala kursi kuliahan, mau gak mau aku yang megang buku itu ditangan kiriku. Tentu saja gak capek, malahan seneng *oke itu bohong*. Aku langsung angkat bicara,
“kenapa cewek yang harus megang buku? Respek kek. Capek ini ya” aku ngomel diselingi ketawa, pastinya.
“ya ya ya oke, mana.” Hoh akhirnya dia berkata lebih dari satu kata. Fufufufu. Aku menang. Dan, akhirnya dia yang megang buku paket sialan itu, baginya.
Entah saat apa, tiba-tiba aja kami ketawa lepas. Asyik dengan dunia kita sendiri. Kita mengabaikan dunia luar kita, sungguh saat itu aku ketawa sangat lepas. Mungkin ada sesuatu yang membuat kita ketawa bareng. Tanpa sadar, tawa kita disanggah oleh Bu Juz yang penyabar itu.
“loh..loh..Pio dan Qiqi ketawa-ketawa terus” ibu nyindir sambil ketawa kecil.
“ciyeee cinlok Bu!” semua temen nyorakin kita, seketika itu juga kelas ini seakan pasar hewan yang riuh dengan suara hewan ternak yang tega akan dijual majikannya untuk korban Idul Adha. Miris sekali.
Eh? Apa? Enggak. Kita lagi belajar bu, tapi sedikit ketawa lah bu.” Kataku mencoba membuat alasan. Tapi sayang, suara gaduh dikelas, tak dapat kusaingi kehebatan volume bass yang sudah maksimum*oke ini ngarang*.
“eh! Apa bu. Belajar kok” cowok keren ini bisa mengelak juga, eh?
Tapi, ibu matematika itu tetap saja menyorakin kita. Tentu saja dengan sindiran humornya. Tapi, kumohon. Hentikanlah. Aku seketika terdiam dalam pikiran dan keramaian kelas. Aku terhanyut dalam kesibukan pikiranku sendiri. Aku berfikir keras untuk berusaha menerawang apakah yang akan terjadi kedepannya. Aku merasakan hal yang tak nyaman nanti. Apakah dengan adanya kegaduhan ini dapat menyebabkan sesuatu yang tak aku inginkan terjadi nanti? Tidak. Ku mohon. Tetaplah seperti ini. Penuh dengan tawa yang lepas. Aku harap begitu.
Tapi untunglah, kejadian heboh dikelas itu tidak menyusutkan sikap respeknya buat “menjelaskan” pelajaran yang aku tak tahu. Tidak cuek lagi. Syukurlah, Kami-sama! Setidaknya dia tak langsung merubah sikap menjadi badmood gegara kehebohan tadi.
Namun, sebulan berlalu..
Apa yang aku takutkan ternyata memang terjadi, sebulan setelah itu. Dia kembali....cuek. keramahan yang dulu dia beri buat aku sebagai “teman sebangkunya” sudah hilang. Gak terlihat sama sekali. Humoris dalam dirinya juga sudah sirna, berganti tampang gak peduli lagi. Aku sangat ingin bertanya, tapi seakan terkunci rapat dan menyuruhku untuk tidak ajak bicara lagi.
“ada apa? Apa yang udah terjadi?” innerku berkata bingung dan risau. Kalimat kalimat pertanyaan itu terus saja di print out oleh otakku. Seketika itu, aku menjadi drop dan bingung menghadapi situasi yang sungguh menyesakkan bagi seorang perempuan jika menghadapii masalah yang datang tiba-tiba. Aku hanya mengurung diri dalam diam.
*flashback on*
“Pio, kalo dia udah berubah sikap tanpa ada sebab yang jelas, pasti dia tau kalo kamu suka dia. Jadi, pelan tapi pasti dia akan jaga jarak denganmu” salah satu temen karibnya, dan temenku juga memberikan wangsit *heleh opo tho* yang mungkin akan terjadi padaku.
Semua yang akan kita sembunyikan, sedalam apapun itu kau membenamkannya, pasti akan terlihat jejak-jejak pembenaman rahasia itu. Karena, waktulah yang menjawab.
*flashbak off*
Seketika itu juga aku lemas, aku sudah sangat takut melihat wajahnya kembali saat itu. Aku juga sudah mulai membiasakan diri dengan perubahan sikap yang bisa dibilang sangat tiba-tiba itu. Aku juga sudah sedikit demi sedikit menghindarkan percakapan dengannya, kecuali terpaksa. Aku membenamkan wajah di persilangan tangan dimeja. Aku rubuhkan kepalaku kearah sebaliknya dia duduk. Sangat sakit. Kenapa dia tahu? Apa salah kalo aku berperasaan lain,eh? Tapi, aku kira itu perasaan yang biasa, sangat biasa. Suka dan kagum. Salahkah?
Aku mencoba mengalihkan aliran otakku untuk tidak membahasnya.
“aaaaaahahahahaahahahahah... hiks” aku tertawa dalam pemikiranku yang...sedih.
aku hanya ingin meyakinkan kalo aku hanya niat berteman baik, seperti dia yang berteman baik sangat baik dan seru dengan temen yang lainnya. Memang, perasaanlah yang menghalangi semuanya menjadi tidak mulus. Tapi, siapa yang meminta perasaan itu ada? Perasaan itu ada dan datang dengan sendirinya. Aku pun tak memintanya. Hanya untuk berteman baik pun, aku harus memndam dalam-dalam perasaan sukaku ini. Ahahaha sangat konyol, aku masih satu SMA, sudah sebegini downnya perasaanku terhadap seseorang yang sepertinya “menolak” dengan halus itu. Tapi, tetap saja itu seperti ribuan jarum yang menusuk keluar dari dalam hatiku sendiri. Artinya, perasaanku lah yang merusak hubungan pertemananku sendiri.
Mungkin aku terlihat ceria saat berjalan pulang kerumah, tapi semua itu aku bisa menyembunyikannya. Karena aku bisa beracting. Hahaha. Semua yang dilakukan dengan mengandalkan akting kita, pasti akan menyakitkan diri kita sendiri.
Sampai dirumah..
“kenapa dengannya? Apakah salahku?” dengan langkah gontai aku membuka laptop yang sudah tersambung dengan layanan internet. Ku buka opera, mataku tertuju panggilan cepat Twitter.
“wahh, semua orang banyak yang membuat tweet hari ini!” aku tersenyum sayu.
.
.
.
DEGG!
A-H-A said
—sorry girl, i haven’t permitted with my mom until 18 years old—
“ohh... gitu” aku tersenyum miris melihatnya. Ahahaha. Apa-apaan aku ini, cengeng banget. ‘Pio, harapanmu itu terlalu jauh. Tidak usah memaksakan dirimu untuk sakit karena menunggu yang belum pasti.’ Innerku menyemangatiku dengan tegar.
Aku berfikir, agar tidak terjadi kesalahpahaman dia sehingga membuat hubungan pertemanan kita renggang. Aku segera mengirim pesan singkat ke nomornya.
“aku Cuma ingin berteman baik denganmu, gak lebih” kia-kira isi pesan singkatku seperti itu. Aku Cuma ingin menjaga pertemanan dari perasaan. Aku tidak mau menjadi seorang yang egois tumbuh dalm diriku. Aku pun, akan memendamnya dalam-dalam. Lupakan. Lupakan dia.
Keesokan harinya disekolah, seperti biasa kita tatap muka. Dan hanya tatapan datar dan tersirat sedikit keinginan untuk bisa menghindar dariku. *oke aku negative thinking sekarang* tapi, baiklah tetaplah seperti itu. Karena, aku juga akan melupakanmu sebagai seorang yang aku kagumin. Tapi, kita masih bisa sedikit bercanda, sedikit. Karena, sebatas teman sebangku.
“selamat tinggal buatmu, temen keren! Maaf jika aku akan melupakanmu.”
Kurasa itu yang aku ucapkan ketika penerimaan raport kenaikan kelas usai. Aku menatapnya dari kejauhan. Mungkin aku sempat bersyukur, banyak kejadian lucu yang membuatku senang.
“dan, terimakasih untukmu sudah membuat hari-hariku dalam kelas yang aku tempati ini menjadi ramai untukku, meskipun kalo kau tidak ada aku akan merasa sendiri, karena humormu tak terdengar di telingaku. Kau yang mengubah suasana yang menurutku sangat membosankan karena ini kelas unggulan, menjadi betah untukku. Semoga kita masih bisa berteman”
Itulah ucapanku dari kejauhan. Aku hanya bisa menatap punggungmu yang sepertinya perlahan menjauh dan menjauh dariku. Kaulah moodbooster-ku *bahasa kerennya di twitter rek*.
.
.
.
Kembali kesekolah setelah liburan panjang ini, membuatku sangat bosan lama-lama dirumah. Kesibukan seorang anak perempuan yang sungguh melelahkan. Sungguh semua terlalu sibuk untuk dibayangkan, sangat penat.
“Hey Pio, gimana liburanmu?” tanya Nella membuyarkan betapa penatnya kiburanku.
“aihhh, sangat melelahkan. Biasa perempuan, tapi habis itu ayah dan ibu ngajak aku jalan-jalan ke Malang, bosen ama kerjaan rumah”
“wahahahaha kamu mah mending bisa jalan-jalan, aku stay at home” katanya sambil menunduk.
“hey, aku itu tau kamu yah, meski kamu gak jalan-jalan ama orang rumah. Kamu pasti keluar ama temen-temenmu” kataku menjulurkan lidah, mengejeknya.
“hahahaha kamu tau ajah Pio”
“aku kan sayang kamu sahabat!” dan kami tertawa berbarengan.
“eh Pio, gimana ama itu?”
“ahh Nella, kamu ingetin aku lagi. Yah sepertinya, kita akan sekelas lagi. Dan aku tetap berpisah denganmu” aku mencubit pipinya dan berlari meninggalkannya. Kita seakan bermain kejar-kejaran. Tak apalah, lebih baik aku mengalihkan pembicaraan dari pada harus mengingat itu lagi.
Namun, status twittermu masih tertempel jelas di data otakku untuk aku jadikan pertimbangan jika berteman denganmu. Semoga tak ada kejadian seperti dulu di kelas kita yang baru. Semoga...
.
.
.
FINE
Lanjut chapter selanjutnya................!!!!!!!!!!!!!!!