Rabu, 19 Juni 2013

Suka (Just My Idea)

0 komentar
          
Statusku saat itu masih remaja yang lulus UN SMP dan mau melanjutkan ke SMA favoritku. Remaja polos dengan perasaan yang labil atau susah ubtuk diatur. Seorang yang respek dalam hal apapun. Menyukai pemandangan laut. Karena hal itu yang dapat membuatnya tenang dikala semua masalah berkumpul dan memenuhi otak gadis manis ini. Seperti masalahnya yang satu ini...

*Flashback on*
Dana, sebut aja dia Dana. Cowok sekelasku yang aku “suka” dari awal masuk kelas VII SMP. Tidak. Aku tidak kenal kata “suka”. Ada apa ini? Dari zaman aku Sekolah Dasar, aku tidak diajarkan ortu buat suka pada orang lain, karena masih ‘bau kencur’ katanya. Ya, namanya anak penurut. Aku takut kalo langgar kata-kata ibuku. Tapi, mungkin karena hukum alam, semua makhluk akan saling suka,  tapi bedajenislah, jelas. Aku pun termasuk makhluk yang akan merasakan hukum alam itu. Pandangan pertama pun tak terelakkan *oke, ini berlebihan*.
“maukah kamu jadi pacarku, Pio?”
Yak, kalimat itu yang sukses keluar dari mulutnya yang masih caberawit itu sama kayak aku. Sontak aku terkejut haru. Cowok yang aku sukai juga menyukaiku, oh tidak bahkan lebih dari suka. Dia memintaku buat jadi pacarnya. Bagaimana ini? Hey Dana, ini masih semester awal kelas VII SMP. Gundah.
Tapi, bagaimana pun aku tetap menolaknya, dengan usaha dan tekadku untuk tidak mengenal “pacaran” dulu.
“ma-maaf Dana, aku m-mau tapi semester 2 aja. Gi-gimana?” bodohnya aku. Itukah yang disebut usaha untuk tidak mengenal pacaran? Hah, konyol sekali ini.
Dia hanya tersenyum manis sekali, sangat cool dan tetap terasa tenang. Jadi merasa aneh kenal dia. Ah sudahlah. Karakternya mungkin.
Semester 2 datang. Berpacaranlah kami. Seneng dan bahagia pasti. Namanya juga pacaran. Kebanyakan seneng tapi kalo udah sedih, pasti ngaret banget jadinya. Berbula-bulan deh. 3 tahun sudah kita pacaran. Sampai akhirnya, kita sama-sama lulus UN bareng. Tak dipungkiri juga kita akan satu sekolah lagi di SMA favoritku pula. Haaa, apa ini? Malu sekali diriku mengingat hal-hal yang selalu sama dengan tak sengaja. Namun, dari sinlah kegundahan dan kegelisaan terpampang jelas.
*Flashback off*
“Huff..” aku menghela nafas berat.
Kenapa coba, hal itu terngiang lagi di memoriku. Acara gowesku sambil liat llaut yang menenangkan jadi badmood. Kenapa bisa badmood? Yaa begitulah. Aku lagi gundah.
“besok hari pertama jadi putih abu-abu ini! Senangnya!” aku mencoba merefresh otakku. Hehehe. Puas melihat laut yang berombak tenang dan angin laut yang dingin-dingin sejuk. Aku pulang kerumah.
Keesokan hari...
Sampai di sekolah dengan diantar ayah untuk hari pertama, tambah dobel senengku.
                “makasih ayah..”
“oke Pio”
Nah, ini dia. Aku dikelas X-i. Dan... aku bareng Dana. Waow. Tripple deh senengku. Tapi, Cuma kita berdua yang masuk kelas itu, placement test. Ahh, malunya. Memang, sekolah favoritku itu diluar distrik, jauh dari rumahku pula. Bisa dibilang di kabupatennya.
“Okelah, mencari pengalaman baru ya harus bisa adaptasi dengan baik toh” semangatku dalam hati.
Ternyata, kelas ini sangat menyenangkan. Aku langsung dapat temen baru banyak banget. Lumayan seru, eh, seru banget malah. Sudah seminggu aku disini, tapi ada hal yang mengejutkanku. Tiba-tiba aku dipendah di kelas sebelah yang merupakan unggulan pertama. Otomatis aku berpisah dengan Dana dan juga sahabatku yang baru aku kenal namanya, Nella. Aku sangat benci dengan hal ini. Aku protes dengan segala emosiku, kenapa aku harus dipindah. Kelas ini sudah cukup membuatku nyaman. Aku menangis dalam diam. Aku diam di bangkuku yang sebelahan dengan Nella. Dana, hanya bisa melihatku dengan sendu dari jauh. Sekali lagi aku tidak mau!
“sudahla, Pio. Aku akan tetap jadi sahabatmu. Selama break sekolah kita akan tetap  bersama”
“iya aku tau Nell, tapi...”
“aku tahu, Dana akan baik-baik disini. Aku akan laporkan ke kamu jika dia mgapa-ngapain. Hahahaha, oke?” nella ketawa puas.
“hehehe.. baiklah” aku pun ikut ketawa garing dengan sedikit termehek-mehek.
Siang itu juga aku langsung pindah dengan teman-yeman lainnya ynag disebutkan oleh guru TIK ku. Huh, sungguh menyebalkan. Masih dendam nih. Liat saja, aku akan mencekikmu Pak, sudah membuatku beradaptasi untuk yang kedua kalinya. Ini sungguh merepotkan.
“Suasana yang sangat mencekam. Sungguh membuatku takut. Aura persaingan disini sangat kental. Menyengat hidung lalu ke paru-paru. Sangat menyesakkan. Kelas apaan ini? Unggulan sih iya, tapi gak segininya juga lah. Sambutan macam apa ini? Hahh, konyol. Kelas yang sungguh konyol. Mau membuat aku mati dalam perasaan individualis kelas ini, eh?” aku menggerutu dalam hati.
Semua penghuni kelas ini Cuma bisa menatapku dengan tatapan heran. Ya gimana enggak heran meraka, ingus dan jejak air mata di pipi putih mulusku ini kentara dengan jelas. Kalian berpikir aku cengeng, eh?
“sudahla.. sudah..” aku mengelus dada sambil beristighfar. Tak berapa lama aku sudah kembali senyum. Berpositive thinking itu memang perlu. Sudah tenang rasanya diriku.
Keesokan harinya..
“siapa namamu? Aku Aniq. Salam kenal yah. Sudahlah jangan nangis kayak gitu”
“aku Pio, iya makasih salam kenal juga”
Saat itu juga banyak yang berhambur menujuku. Tapi, ya hanya beberapa juga yang masih tetap di bangkunya masing-masing. Aku bisa memakluminya, namanya juga kelas individualis. Cih! Okelah. Kelas yang selalu bersama. *oke aku berbohong, hahah*
Semester awal sudah ku lalui dengan susah payah. Oke, itu bercanda. Aku hanya melewatinya sesuai sungai jernih yang mengalir pelan tapi pasti. Liburan sekolah. Ya sudah pastilah, aku juga menikmatinya. Sungguh senang terbebas dari kelas yang selalu membuatku suntuk setiap saat.
Liburan sudah usai. Oh ya bagaimana kabarku dengan Dana? Baik baik saja kok. Kita masih lanjut, masih. Tapi ada hal aneh yang terjadi dalam diriku, ahsudahlah...
 Senin pagi...
Pelajaran kimia yang sangat menyenangkan, karena gurunya merangkup walikelasku itu sungguh humoris. Kita dibuat ketawa. Tapi adakalanya juga kita harus serius. Sejenak aku dapat menghilangkan suntuk dan bosenku di kelas ini. Walikelasku ini sedang membicarakan koordinasi kelas, karena beliau menganggap kelas ini sangat individualis. Apa?? Walikelasku bilang begitu. KITA SEHATI BU!! Aku menang rasanya. Mereka yang individualis disindir oleh walikelasnya sendiri.
“HAHAHAHAHA!!! Rasain kalian!” aku ketawa sangat besar dalam hatiku yang mungil ini. Puas rasanya.
“ibu akan mengatur letak tempat duduk kalian. Bersiaplah untuk pindah!” seringainya, ah tidak. Senyumnya yang lembut.
Heheheheh, aku bergidik ngeri. Namun ada perasaan senang pula disini. Entah apa itu.
“anis pindah kesana...”
“inka kesana..”
“bla bla bla...”
*flashback on*
“kenapa kelas ini sangat membosankan bagiku!! Setan apa yang ada disini? Hahaha” innerku ngomel dengan abalnya.
Aku hanya memandang kelas ini dengan berpangku dagu di telapak tangan kananku. Bosan. Eh tapi, siapa dia? Aku memandangnya tanpa henti. Siapa dia itu? Siapa? Isshh! Innerku cerewet sekali. Bisakah kau rubah innerku ini yang satu ini Kami-sama??
Aku terus saja bertanya pada diriku sendiri. Ya tidak akan ada yang jawablah. Bodoh kan? Memang. Hehehe. Aku melihatnya dengan tatapan kagum. Gimana gak kagum cowok yang aku tatap ini sangat keren, gayanya kayak anak metropolitan, seperti remaja surabaya *oke ini berlebihan*. Tapi, aku kagum. Setauku, dia ini alim. Tatt agama bangat sampe-sampe jomblo. Iyah! Jomblo readers. Oh Kami-sama, siapakah malaikatmu yang sungguh kerennya minta ampun ini? Jawablah kumohon...
Aku tidak gila, terus-terusan bertanya pada diriku sendiri. Aku langsung aja ngibrit ke temen sebangku ku namanya, Icha. Aku kepoin dia tentang cowok terkeren menurutku itu. Di sampe sweatdrop readers. Hehehe. Hey, tapi ini salah innerku yang nyuruh aku buat cerewet. Dan akhirnya aku dapet info.
Dia itu namanya.......Qiqi. Wahh nama yang unyu. *maaf ini alay* pas ama karakternya yang cuek-cuek dingin. Entah kenapa aku langsung melting ama ni anak. Kenapa harus begini coba? Gak sadar, semenjak aku keliatannya suka ama tu anak, aku jadi mandang-mandang dia dari jauh. Suka banget ama kebiasaan kayak gitu. Entah kenapa lagi-lagi gitu. Apa ini suka pada pandangan pertama ?? ahh tidak tidak. Terus kalo bukan suka, apaan? Kagum? Kan hampir sama maksudnya. Terus ini perasaan apa?
Tersirat dipikiranku, apa ini seperti saat dimana dulu aku pertama kelas VII SMPA dan ketemu pandang ama Dana. Jadi, ini bagaikan de javu.
*Flashback off*
“Friza.. Frizaa... Frizaaaa...!” sang walikelas humoris itu ternyata membuyarkan lamunanku. Yampun jadi pasang muka bego nih. Malu banget.
“i-iya, Bu.. Maaf, ada apa Bu?”
“Friza, kamu pindah ke bangku sebelahnya Haqiqi!”
“w-what the hell, Bu??” *eh-eh, aku jadi gagap gini*
“sekarang nak!” ibu walkes itu malah segera menyuruhku dengan nada tinggi. Mungkin, geram kali ya, dipanggil berkali-kali gada sautan, eh disuruh pindah malah diem masih duduk anteng.
“ohh ibu, andaikan kau tau, aku duduk diam ini sedang berfikir apakah aku harus pindah atau tidak. Malu bu, sebelahan dengan cowok yang aku sukai. Pengertianlah bu..” innerku mencoba manja.
“ba-baik bu, saya akan pindah.”
Dan saat itu juga, semua temen yang duduk dibangku lamaku bersorak sorai ria. Seakan menyambut kedatangan pangeran William dan Kate Willson *oke ini terlalu dibuat-buat*. Jadi, mereka semua ini tau kalo aku ngecengin si Qiqi keren itu. Dasar!
“Pio, good luck ya duduk disana?!” mereka semua kompak nyorakinnya.
“Hey, jangan seperti itu, kalian terlalu berlebihan. Kalo semua tahu gimana? Hey. Aku malu.” Innerku mengomel di isyaratkan dengan tatapan mataku yang ingin membunuh telak mereka semua. Mampus aku di skakmat. Kulirik Qiqi sekilas, ternyata dia mendengarkan. Tapi apakah dia budeg? Temen-temen disini teriaknya bagaikan pake toa masjid. Hadu, apa dia itu ngalihkan pendengarannya dengan menatap buku yang ada di bangku bergaya anak kuliahan itu. Cih, dasar gak respek. Eh, tapi tapi, untung juga kalo dia gak denger teriakan mereka yang seperti melihat artis kesayangannya tampil sedetik di iklan. Oh Kami-sama bantulah aku.
Akhirnya dengan berat hati, malu, gugup, takut dan sebagainya aku beranikan diri meninggalkan mereka yang tetap masih heboh dengan teriakan masing-masing menuju bangku yang baru dengan surga dunia, malaikat tanpa sayap disebelah kiriku. Oh kami-sama, ini sungguh berlebihan.aku dudukkan pantatku di kursi bergaya kuliahan itu dengan hati-hati, sekilas melirik si cowok keren itu disampingku.
Kriieett~
Wodehell!! Bunyi apa ini? Kursi sialan, memalukan. Sontak semua pandangan mata tertuju padaku. Salah paham. Oke, aku dibuat malu untuk kedua kalinya. Oh tidak imejku rusak. *gigit-gigit kursi*
“HAHAHAAHAHAH KAMU KENTUT PIO??” salah seorang temen memprovokatori diriku ini. Cih! Aku akan membunuhmu nanti.
“eh-eh, endak endak! Ini kursinya yang udah reyot tau!”
Aku mengelak, sekilas kulirik lagi si cowok keren itu, masih dengan tampang datar dan keren, menurutku. Sungguh aku tak bermaksud mengganggumu,      Qi.
Setelah ribut dengan suasana yang sangat gaduh dan ribut itu. Bell pulang sekolah berbunyi. Sungguh aku merasa tertolong dengan bunyinya bel itu. Terimakasih banyak. Akhirnya, hari ini aku lalui dengan warna cerah yang berarti banyak tawa disana. Aku yakin, kau juga tertawa, namun kau tahan tawamu itu. Dasar jaim kau si cowok keren!
hari ini pun berlalu, dengan tergantinya matahari menjadi bulan yang memantulkan cahayanya. Terang terang redup. Hmm, bagaikan pertemananku denganmu. Sungguh penuh dengan misteri, apakah kau menerima pertemananku atau tidak. Jawabannya hanya waktu yang terus berjalan, tak pernah menampakkan waktu itu akan berhenti berdetak, kecuali battere jam dindingnya udah habis energinya *oke ini gaje*. Aku tidur malam ini dengan sebuah senyuman, karena berkat walikelasku aku semakin bisa mengenalmu dan membuatmu menjadi temanku. Itu dulu.
Keesokan hari..
Seperti biasa aku ke sekolah dengan giat dan semangat, ya kan ada moodboosternya. Jadi aku bisa pergi dan masuk gerbang sekolah dengan berseri-seri dan raut wajah segar bagai bunga mawar  yang berbalut embun pagi di mahkotanya.
Kriiinggg.. kriing..
Bel awal pelajaran berbunyi, hari ini tempat dudukku berpindah. Yap, disebelah cowok kecenganku itu. Ketika dia deteng dengan raut wajah yang datar dan semi monoton itu, membutnya tampak eren. Apalagi, rambutnya yang...err kusut bagai baju kusut yang belum disetrika. Wah, semacam ngejudge tapi itu semua bentuk pujianku ke dia. Dia tetep keren!
Aku diam seribu kata di tempat itu. Diam, seakan hanya suara lantang guru-guru yang menjelaskan pelajaran. Aku berusaha cuek, tapi tak bisa. Memang diproduksi oleh Kami-sama untuk bersikap hiperaktif, cerewet dan gak bisa diem, bahkan untuk menemukan posisi wenak buat duduk di kursi pun tak mampu. Susah sekali. Aku memulai percakapan.
“hehehe, ma-maaf keganggu. A-aku memang kayak gini” kataku gugup
Dan..
Oke seandainya aku bawa kamera yang siselipkan dimanapun asal dia tak tau dan kameraku menangkap siluetnya dengan jelas, aku akan sangat senang dan akan melihatnya kapanpun.
Dia tersenyum tipis sekali. Aku menganga dibuatnya. Aku melting di tempat ini. Sudahlah, hentikan senyumanmu yang tipis tak terlihat jika dari jauh itu. Kau membuatku salah tingkah.
“ee-eehehehehee....” aku tersenyum kecut. Cepat cepat, ku tundukkan kepalaku untuk menghalangi dia menatap wajahku yang semerah merona delima ini. Aku tersenyum lepas. Rasanya ini awal aku bisa berteman dengannya, dia tidak buruk untuk diajak berteman, meski dia akan selalu dan selalu dengan karakter khasnya, cuek.
Akhirnya, kita bisa bercanda sedikit demi sedikit. Dari kejadian itu, aku juga semakin akrab dengannya. Semakin hari, aku dan dia juga tertawa kecil-kecilan bareng. Seakan merayakan suatu hal yang hanya kita berdua saja yang tau. Ternyata, meskipun kelihatannya dia itu cuek dan penuh aura es (baca : dingin), tak aku sangka dia itu humoris banget. Memang sungguh susah ketebak.
3 bulan berlalu...
Saat itu jam terakhir kelas X-h, diisi dengan Bu Juz yang sangat penyabar dan sangat menyenangkan, guru matematika. Gimana gak nyaman cara ngajarnya kalo buktinya aku bisa lulusin ulangan harian matematika itu. Dan senengnya aku bisa duduk disitu, ternyata dia bisa pelajaran yang kaintannya dengan eksak. Matematika apalagi, pelajaran yang aku belum bisa kuasai itu, dia sangat suka. Satu lagi, ulangan harian kimia aja dia dapet perfect, satu nol nol, seratus.
Bertambah kekagumanku. Saat itu, Bu Juz membahas bangun ruang. Aku sih suka bangun ruang, tapi ada yag gak aku ngerti juga. Bu Juz berkeliling deret per deret bangku untuk memberitahuka contoh bangun ruang itu dan macam-macamnya.
Disitu juga, kita saling kasih penjelasan kalo salah satu diantara kami gak ada yang ngerti. Kegiatann positiv kan? Ketika disaat seperti itu, aku mengesampingkan perasaan dan mengutamakan pelajaran. Kita seakan berteman, tak lebih. Mungkin, akunya aja yang terlau berlebihan nanggepinnya dan jauh harapannya.
“kalo kayak gini, gimana itungnya??” aku nanya dengan penuh kepolosan (baca : keoonan).
“humm, kalo kayak gini, itungnya harus kayak gini.. bla..bla..dan bla..”
“wooh kereen, iya iya aku ngerti. Hohoho makasi,eh?” senyum lebar penuh arti kejelasan dalam otakku terpahat di wajah.
“Hn..” oke, selalu seperti itu, atau bisa jadi gak jawab sama sekali. Cuma, tersenyum ikhlas sekali.
Ketika ibu maematika itu membahas di buku paket. Nah, semua pada gelabakan, jarang-jarang sih ada yang punya. Kecuali gueh *readers : si author songong pek! Kita timpukin tomat aja—author : eeee :P masalabuatkalian*. Kebetulan atau keberuntungan aku yang punya buku, si cowok keren itu nebeng *plakk, nebeng??* buku aku, yaa aku kasih aja. Baik hati kan. Tapi aku sih yang nawarin. Cih~
“mau buku?” tanyaku.
“silahkan” tetap tampang flat. Cihh~ bilang iya boleh gitu kek sekali-sekali, innerku ngebacot.
“okey nih!” akhirnya aku bagi buku itu.  Karena kursi kami yang bergaya ala kursi kuliahan, mau gak mau aku yang megang buku itu ditangan kiriku. Tentu saja gak capek, malahan seneng *oke itu bohong*. Aku langsung angkat bicara,
“kenapa cewek yang harus megang buku? Respek kek. Capek ini ya” aku ngomel diselingi ketawa, pastinya.
“ya ya ya oke, mana.” Hoh akhirnya dia berkata lebih dari satu kata. Fufufufu. Aku menang. Dan, akhirnya dia yang megang buku paket sialan itu, baginya.
Entah saat apa, tiba-tiba aja kami ketawa lepas. Asyik dengan dunia kita sendiri. Kita mengabaikan dunia luar kita, sungguh saat itu aku ketawa sangat lepas. Mungkin ada sesuatu yang membuat kita ketawa bareng. Tanpa sadar, tawa kita disanggah oleh Bu Juz yang penyabar itu.
“loh..loh..Pio dan Qiqi ketawa-ketawa terus” ibu nyindir sambil ketawa kecil.
“ciyeee cinlok Bu!” semua temen nyorakin kita, seketika itu juga kelas ini seakan pasar hewan yang riuh dengan suara hewan ternak yang tega akan dijual majikannya untuk korban Idul Adha. Miris sekali.
Eh? Apa? Enggak. Kita lagi belajar bu, tapi sedikit ketawa lah bu.” Kataku mencoba membuat alasan. Tapi sayang, suara gaduh dikelas, tak dapat kusaingi kehebatan volume bass yang sudah maksimum*oke ini ngarang*.
“eh! Apa bu. Belajar kok” cowok keren ini bisa mengelak juga, eh?
Tapi, ibu matematika itu tetap saja menyorakin kita. Tentu saja dengan sindiran humornya. Tapi, kumohon. Hentikanlah. Aku seketika terdiam dalam pikiran dan keramaian kelas. Aku terhanyut dalam kesibukan pikiranku sendiri. Aku berfikir keras untuk berusaha menerawang apakah yang akan terjadi kedepannya. Aku merasakan hal yang tak nyaman nanti. Apakah dengan adanya kegaduhan ini dapat menyebabkan sesuatu yang tak aku inginkan terjadi nanti? Tidak. Ku mohon. Tetaplah seperti ini. Penuh dengan tawa yang lepas. Aku harap begitu.
Tapi untunglah, kejadian heboh dikelas itu tidak menyusutkan sikap respeknya buat “menjelaskan” pelajaran yang aku tak tahu. Tidak cuek lagi. Syukurlah, Kami-sama! Setidaknya dia tak langsung merubah sikap menjadi badmood gegara kehebohan tadi.
Namun, sebulan berlalu..
Apa yang aku takutkan ternyata memang terjadi, sebulan setelah itu. Dia kembali....cuek. keramahan yang dulu dia beri buat aku sebagai “teman sebangkunya” sudah hilang. Gak terlihat sama sekali. Humoris dalam dirinya juga sudah sirna, berganti tampang gak peduli lagi. Aku sangat ingin bertanya, tapi seakan terkunci rapat dan menyuruhku untuk tidak ajak bicara lagi.
“ada apa? Apa yang udah terjadi?” innerku berkata bingung dan risau. Kalimat kalimat pertanyaan itu terus saja di print out oleh otakku. Seketika itu, aku menjadi drop dan bingung menghadapi situasi yang sungguh menyesakkan bagi seorang perempuan jika menghadapii masalah yang datang tiba-tiba. Aku hanya mengurung diri dalam diam.
*flashback on*
“Pio, kalo dia udah berubah sikap tanpa ada sebab yang jelas, pasti dia tau kalo kamu suka dia. Jadi, pelan tapi pasti dia akan jaga jarak denganmu” salah satu temen karibnya, dan temenku juga memberikan wangsit *heleh opo tho* yang mungkin akan terjadi padaku.
Semua yang akan kita sembunyikan, sedalam apapun itu kau membenamkannya, pasti akan terlihat jejak-jejak pembenaman rahasia itu. Karena, waktulah yang menjawab.
*flashbak off*
Seketika itu juga aku lemas, aku sudah sangat takut melihat wajahnya kembali saat itu. Aku juga sudah mulai membiasakan diri dengan perubahan sikap yang bisa dibilang sangat tiba-tiba itu. Aku juga sudah sedikit demi sedikit menghindarkan percakapan dengannya, kecuali terpaksa. Aku membenamkan wajah di persilangan tangan dimeja. Aku rubuhkan kepalaku kearah sebaliknya dia duduk. Sangat sakit. Kenapa dia tahu? Apa salah kalo aku berperasaan lain,eh? Tapi, aku kira itu perasaan yang biasa, sangat biasa. Suka dan kagum. Salahkah?
Aku mencoba mengalihkan aliran otakku untuk tidak membahasnya.
“aaaaaahahahahaahahahahah... hiks” aku tertawa dalam pemikiranku yang...sedih.
aku hanya ingin meyakinkan kalo aku hanya niat berteman baik, seperti dia yang berteman baik sangat baik dan seru dengan temen yang lainnya. Memang, perasaanlah yang menghalangi semuanya menjadi tidak mulus. Tapi, siapa yang meminta perasaan itu ada? Perasaan itu ada dan datang dengan sendirinya. Aku pun tak memintanya. Hanya untuk berteman baik pun, aku harus memndam dalam-dalam perasaan sukaku ini. Ahahaha sangat konyol, aku masih satu SMA, sudah sebegini downnya perasaanku terhadap seseorang yang sepertinya “menolak” dengan halus itu. Tapi, tetap saja itu seperti ribuan jarum yang menusuk keluar dari dalam hatiku sendiri. Artinya, perasaanku lah yang merusak hubungan pertemananku sendiri.
Mungkin aku terlihat ceria saat berjalan pulang kerumah, tapi semua itu aku bisa menyembunyikannya. Karena aku bisa beracting. Hahaha. Semua yang dilakukan dengan mengandalkan akting kita, pasti akan menyakitkan diri kita sendiri.
Sampai dirumah..
“kenapa dengannya? Apakah salahku?” dengan langkah gontai aku membuka laptop yang sudah tersambung dengan layanan internet. Ku buka opera, mataku tertuju panggilan cepat Twitter.
“wahh, semua orang banyak yang membuat tweet hari ini!” aku tersenyum sayu.
.
.
.
DEGG!
A-H-A said
—sorry girl, i haven’t permitted with my mom until 18 years old—
“ohh... gitu” aku tersenyum miris melihatnya. Ahahaha. Apa-apaan aku ini, cengeng banget. ‘Pio, harapanmu itu terlalu jauh. Tidak usah memaksakan dirimu untuk sakit karena menunggu yang belum pasti.’ Innerku menyemangatiku dengan tegar.
Aku berfikir, agar tidak terjadi kesalahpahaman dia sehingga membuat hubungan pertemanan kita renggang. Aku segera mengirim pesan singkat ke nomornya.
“aku Cuma ingin berteman baik denganmu, gak lebih” kia-kira isi pesan singkatku seperti itu. Aku Cuma ingin menjaga pertemanan dari perasaan. Aku tidak mau menjadi seorang yang egois tumbuh dalm diriku. Aku pun, akan memendamnya dalam-dalam. Lupakan. Lupakan dia.
Keesokan harinya disekolah, seperti biasa kita tatap muka. Dan hanya tatapan datar dan tersirat sedikit keinginan untuk bisa menghindar dariku. *oke aku negative thinking sekarang* tapi, baiklah tetaplah seperti itu. Karena, aku juga akan melupakanmu sebagai seorang yang aku kagumin. Tapi, kita masih bisa sedikit bercanda, sedikit. Karena, sebatas teman sebangku.
“selamat tinggal buatmu, temen keren! Maaf jika aku akan melupakanmu.”
Kurasa itu yang aku ucapkan ketika penerimaan raport kenaikan kelas usai. Aku menatapnya dari kejauhan. Mungkin aku sempat bersyukur, banyak kejadian lucu yang membuatku senang.
“dan, terimakasih untukmu sudah membuat hari-hariku dalam kelas yang aku tempati ini menjadi ramai untukku, meskipun kalo kau tidak ada aku akan merasa sendiri, karena humormu tak terdengar di telingaku. Kau yang mengubah suasana yang menurutku sangat membosankan karena ini kelas unggulan, menjadi betah untukku. Semoga kita masih bisa berteman”
Itulah ucapanku dari kejauhan. Aku hanya bisa menatap punggungmu yang sepertinya perlahan menjauh dan menjauh dariku. Kaulah moodbooster-ku *bahasa kerennya di twitter rek*.
.
.
.
Kembali kesekolah setelah liburan panjang ini, membuatku sangat bosan lama-lama dirumah. Kesibukan seorang anak perempuan yang sungguh melelahkan. Sungguh semua terlalu sibuk untuk dibayangkan, sangat penat.
“Hey Pio, gimana liburanmu?” tanya Nella membuyarkan betapa penatnya kiburanku.
“aihhh, sangat melelahkan. Biasa perempuan, tapi habis itu ayah dan ibu ngajak aku jalan-jalan ke Malang, bosen ama kerjaan rumah”
“wahahahaha kamu mah mending bisa  jalan-jalan, aku stay at home” katanya sambil menunduk.
“hey, aku itu tau kamu yah, meski kamu gak jalan-jalan ama orang rumah. Kamu pasti keluar ama temen-temenmu” kataku menjulurkan lidah, mengejeknya.
“hahahaha kamu tau ajah Pio”
“aku kan sayang kamu sahabat!” dan kami tertawa berbarengan.
“eh Pio, gimana ama itu?”
“ahh Nella, kamu ingetin aku lagi. Yah sepertinya, kita akan sekelas lagi. Dan aku tetap berpisah denganmu” aku mencubit pipinya dan berlari meninggalkannya. Kita seakan bermain kejar-kejaran. Tak apalah, lebih baik aku mengalihkan pembicaraan dari pada harus mengingat itu lagi.
Namun, status twittermu masih tertempel jelas di data otakku untuk aku jadikan pertimbangan jika berteman denganmu. Semoga tak ada kejadian seperti dulu di kelas kita yang baru. Semoga...
.
.
.
FINE
Lanjut chapter selanjutnya................!!!!!!!!!!!!!!!




Kamis, 27 Desember 2012

KeLOLA.an gue

0 komentar
Kalian tau sodara sodara?! Gua kepagian Bung. Gua pikir gua masuk jam 7 selama uas. Takut telat. Gua rajin berangkat jam setengah 7 pas!
Udah punya pikiran takut telat gua.
Ah. Bodo.
Adek kelas gua, uda gada dipinggir jalan. Wah, dia ngedahuluin gua. Pikir gua jadi nambah suudzon.
Gua panik, tapi bentar. #GUBRAK !!
Gua bawa baca buku fisika ajah. Sampe digerbang.gua bayar ongkos ke angkotnya.
Trus, gua noleh n mangap !
Udah sepi, gua telat lagi.
Eh, tp lho masih ad yg duduk" megang hape.
LOH !
Gua nyadar kagak, gua tdur sambil jalan kgak?
Subhanallah. Astaghfirullahaladzim.
Gua liat parkiran. SEPI !
SEPI !
apaapaan ini, gua linglung !
Gua tanya tetangga kelasgua,
kita disconnect! Gara" gua juga kali yak yang belibet tanyanya pake panik lagi.
HADUH ! Kampret ! :D
gua masih ga ngeh.
Ga ngeh !
GAK NGEH SODARA !
Gua putus asa. Auk dah gelap.
Gua keinget sampe kelas, emang kelas gua tempatnya pencerahan #emang tempatnya kene cahaya matahari terus ! Gimana ga cerah woy !
Oke gua sadar.
Ternyata,
jam masuk seperti biasa, SETENGAH DELAPAN !
ASTAGHFIRULLAH.
Ternyata lagi,
gua lola 2 hari terakhir ini.
YA ALLAH ! :'(
gua kepagian. :-D hahaha
gpp, untungnya bisa belajar bareng isomul, temen gua tentang fisika sepuasnya sampe gua mimisan giran dan ga nyambung !!

Hahahaha

Rival gue :D (DOELOE)

0 komentar
12:27pm, Fri 30-11-2012

tumben,
pagi" bgt, tu anak uda n0ng0l dket gerbang.
Tambahan Sarapan pagi gua, ketemu tu anak.
Rasa.a mau meledug perut gua, kekenyangan liat tu anak.
Uda ada niatan ketemu gua kali yak.
Mastiin gua uda ptus apa belon (suudz0n bodo amat)

Senin, 03 September 2012

my own short story

1 komentar
Terimakasih.. inilah Hari Indahku
                Sinar matahari mencoba menyelinap masuk ke dalam kamarku, melewati lembaran-lembaran hijaunya selambu jendela kamarku. Ku  ijinkan kehangatannya memasuki kamarku yang dingin. Bagaikan dinginnyajam dinding menyapaku dengan pertunjukan detak detik kehidupannya yang terus berputar, menandakan sudah waktunya aku berbenah diri.
                “ouumm.. hari yang cerah diawal minggu ini, hari senin.”, pujiku.
                “hai Coco, pagi Deriz !” aku menyapa teman setiaku yang selalu menemaniku, my lovely puppet.
                “Pio, ayo mandi !” seru bundaku. Aku yang tadinya menatap cahaya hangat itu, tak sedikitpun aku ingin membuyarkan tatapan kedalam hangatnya cahaya itu. Namun, aku hanya menjawab,
                “iya, Bun…”
Dalam hati kecilku mencoba berharap, “hm.. semoga menjadi hari yang menyenangkan bagiku saat ini.”
                Oh ya, aku belum berikan identitasku. Namaku Friza Vioneta Virgaria. Panggil aja aku Pio (panggilan kecilku). Saat ini aku baru duduk di kelas pertama SMA, ya kelas 10. Aku punya kakak cewek yang sudah kuliah di UGM, jadi jarang ada dirumah. Dia itu, kakak yang paling aku sayang, namanya Pipit. Bundaku memberikan panggilan seperti itu, karena ingin kakakku tidak pendiam. Eh, ternyata dia pendiem banget.:D
                Jiahh, keenakan cerita-cerita nih. Udah dulu ya, harus cepat-cepat mandi nih takut kekunci gerbang sekolah. Hehehe…
                “Bunda, aku berangkaat !” seruku dari teras rumah.
                “Ayah udah nungguin nih, Bun..”lanjutku.
                “Pio, minum vitaminnya dulu”
(ooups aku lupa deh)
                “Ga’ usah Bun, pulang sekolah aja diminumnya!”
                “Tapi… ini..”
                Belum sempat Bunda menakarkan satu sendok teh vitamin itu, aku sudah menyabet tangannya untuk salam.
                “Aku berangkat, Assalaamu’alaikum..!”
“Wa.. Wa’alaikum salam, anak itu selalu lupa dengan vitaminnya, semoga baik-baik saja dia.”
“buat apa sih minum vitamin, aku kan sudah ABG, masih haruskah minum vitamin ?? enggaklah, pasti udah kuat kok. Hhaha..” curhatku dalam hati.
Bunda langsung mengirimkan pesan singkat ketika aku dalam perjalanan,
“Pio, pulang sekolah minum vitaminnya, ayah nanti ada rapat dan bunda pulang dari kantor agak telat, jadi jaga makanan dan minum obat serta vitamin ada di mbak Ijah.
Bunda”
                Inilah Bundaku, setiap aku udah nggak minum vitamin sebelum berangkat sekolah pasti deh always send me a message. Heran deh, hehehe. Ya namanya orang tua ya pastilah khawatir. Lagian juga jarang dirumah mereka. Tapi, khawatirnya tidak seperti ini juga, ya nggak…
***
Sampai di gerbang sekolah..
                “Makasih Yah, Assalamu’alaikum !” aku salim dengan Ayah.
                “Iya, Wa’alaikum salam. Pio, nanti Ayah ada rapat jadi pulang agak telat, Bunda juga.”
                “Iya Yah, Bunda udah SMS tadi.”
                Dialah Ayahku, tegas, keras namun baik dan perhatian. Tapi, sayang, aku gak seberapa dekat dengannya, meskipun begitu, dia tak kalah dengan Bundaku, dia lebih mengkhawatirkanku.     Hmm, Bunda juga pernah cerita, dulu Ayah menganakemaskan aku, dikit lebay ya tapi memang seperti itu kenyataannya. Dulu itu, aku selalu dilarang makan jajanan luar rumahlah, harus make alas didalam rumah lah. Nggak boleh keluar waktu maghrib tiba lah, dan apalah. Semuanya adalah pantangan-pantangan yang tidak boleh aku langgar. Tapi itu  dulu, 15 tahun lalu, hhehe..
                Gak nyangka, kebanyakan bernostalgia sendiri. Jadi senyum-senyum sendiri sampai aku tersandung batu besar di depan kelas.
                “Aduhh!” suaraku menggelegar (haha lebay)
“Assyem nih batu ko malang di tengah jalan sih, Aissh” terdengar mulutku ngomel-ngomel sendiri ke batu itu, kayak punya kelainan jiwa deh. Haha.
Tiba-tiba dua orang didepanku tertawa lebar selebar-lebarnya tanpa bergegas untuk menolongku.
“Hahaha.. mbak, jalan mau ke kelas disebelahnya batu itu, bukan batunya yang ngalangin jalan Anda.” Teriak sahabatku dengan nada-nada ngeledeknya yang khas.
Nah itu, dialah sahabatku namanya Nela, aku panggil dia Bundel, selain karena agak berisi lah dikit dari aku, dia juga dewasa banget orangnya. Hehehe.
“hahaha.. lah wong ada jalan enak minta yang berbatu. Ish ish ish. Aneh tenan”
Hmm, yang ini ni, sahabatku juga namanya ica’ yang biasa aku panggil Oma, wakwakwak. Selain karena wajahnya yang dewasa-dewasa gitu seperti panggilannya, tapi ada cerita tersendiri yang bersembunyi di balik nama samarannya itu. Gak perlu aku ceritain, ceritanya tidak mudah dimengerti.:D
“Heh,, kalian lo sadis (terdengar theme song Afgan, haha) sama aku. Malah ketawa, nggak cepet-cepet bantuin bangun. Kaki sang putri nanti membiru tahu.”
“Hhehe.. sini aku bantu bangun. Cup cup cup, jangan nangis gitu donk, kayak anak TK tahu.”
“wee.. mang aku nangis ?? aku bukan anak TK yoo..”
Bundel yang niat bantuin aku bangun, tapi niatnya kok gini yaa…
“eh eh eh, hih Bundel.. kok kaki ku yang di tarik, tangannya tahu ! ich Bundel !” ngomelku nggak jelas.
Temanku yang satu ini memang jahilnya kebangetan,
“hehehe, maaf Noci, bercanda..”
Sementara itu..
                “klik..klik..klik !”
                “ ich Oma, hape mulu yang di gebetin, cowok tuh yang harusnya digebet !”
“ah ini, manja deh. Bangun sendiri Noci, kayak anak batita yang belajar jalan ajah, jatuh masih minta dibangunin.”
Dia ini lagi bicara sama aku, tapi tatapannya terus saja tertuju pada hapenya itu. Hmm, dia ini Miss Facebook, pasti pagi-pagi udah FB-an ni anak.
“Aisshh, emang nyuruh itu gampang, tapi sakit tahu, ma !”
“hoo.. yelah yelah..” produksi ekspresi datarnya sudah keluar.
Hmm, Omaku yang ini memang pendiem tapi Cuma hape mulu yang dikerjain, nggak waktu dikelas, atau saat pelajaran, apa kata hati dia ajah.
Ya, inilah kami, selalu membuat kerusuhan sendiri yang bisa ngocok perut kami. Kayak iklannya Chitato tuh, live is never flat (bukan promosi, :D). seperti itulah kami. Geng kita ini aku sebut, chums choki choki sebab,  saat break sekolah kita selalu berburu cokelat pasta di kantin. Hahaha..
Sudah seperempat jam ribut nggak ada ujungnya. Bel sekolah berbunyi, upacara segera dimulai. Aku segera mengenakan atribut sekolah. Ketika, lagi sibuk-sibuknya make topi, ada seseorang yang gak sengaja menyenggolku.
“eh eh, maaf maaf.” Sahutku.
“santai aja lagi”
“hehe iya” aku nggak liat wajahnya, tapi aku kenal suara ini.
“pagi Pio ??” sapanya dengan senyum.
“eh, iya. Ternyata kamu tuh ndri’, iya pagi juga ! have a nice day yah !”
“have a nice monday too ! aku duluan ya..”
“ohh, i..iya”
Dia lantas meninggalkan aku dengan senyuman hangatnya. Bertemu dengannya sudah membuat hariku menyenangkan. Hmm, dialah kekaksihku, Adri. Aku biasa panggil dia Ndri’.
Kita berdua beda kelas, dia sekelas dengan Nela. Tapi, kelas kita bersebelahan. Dia ini, perhatian, penyayang tapi cuek. Cueknya ini lihat sikon juga sih, kalo marah sih dia cuek banget tapi basicly dia perhatian kok.
Diawal upacara, aku merasa telapak tanganku dingin seperti kalau saat musim hujan,
“kayaknya aku nggak enak badan”
 tapi hari ini cuaca cerah banget kok. Aku nggak menghiraukan itu. Tapi, di tengah upacara, kakiku gemetar tak dapat dikendalikan. I was so panic. Aku berusaha mengendalikannya untuk berhenti bergetar,sempat terhenti. Namun saat aku tidak mengendalikannya kakiku terus saja bergetar lebih parah dari sebelumnya. Aku bingung harus berbuat apa, lama kelamaan barisan belakang mengetahui kakiku bergetar. Mereka memaksaku untuk pergi ke  UKS. Tapi, aku menolaknya karena aku rasa ini hanya kecapekan saja. i think I’m ok. Aku takut, baru kali ini aku merasakannya. Aliran darah yang ku rasa tidak lancar di peredaran darah kakiku, membuatku merasakan ngilu yang amat sangat. Tapi. Aku harus tetap menahannya, aku tidak ingin pergi ke UKS.
I’m OK. pio nggak kenapa-kenapa” aku selalu berkata seperti itu agar aku bisa bersemangat.
Akhirnya, upacara selesai. Kekuatanku sudah habis karena menahan rasa sakit kakiku. Aku tak sanggup berjalan, aku duduk sebentar dibawah pohon dekat barisanku berada. Aku paksakan untuk berjalan menuju tempat duduk itu dengan tertatih-tatih, Bundel dan Oma melihatku dengan tatapan aneh dan penasaran apa yang terjadi denganku. Tapi, aku tidak ingin memberi tahunya akan keadaanku sekarang.
“Noci, kamu kenapa ? kok kamu pucat gitu ?”
Hah, apa ?? aku pucat ? aku tak mengetahuinya kalau aku pucat.
“ah ndak.. aku nggak apa-apa Bundel.” Aku berusaha meyakinkannya.
“kamu lo pucat banget, bener !” tambah Oma.
“haha, kalian bercanda, I’m Ok guys.”
“tapi, kenapa kamu tadi nggak ke Uks aja. Gemetar bangat tubuhmu ?!”
“buat apa, Bundel. Aku nggak apa-apa. Mungkin, kecapekan saja. biasalah artis dadakan !”aku berusaha mencairkan suasana dengan sedikit humorku.
“hmm, okelah. Kalo ada apa-apa lagi bilang ke kita”
“siip daah”, tapi kenyataannya kakiku masih terasa ngilu.
Tiba-tiba..
                “Pio, kamu nggak apa-apa ??”
                “eh Adri’, nggak. Aku nggak apa-apa”
                “ehh, Noci. Aku ma Oma mau ke kantin dulu ya.”
                “hmm, oke. Ntar aku titip choki-choki yaa..”
                “ssiap Cii”
Adri melanjutkan investigasinya kepadaku, “ tapi tadi, kamu gemetaran tahu, apakah gitu yang kamu bilang nggak apa-apa ??”
“Adri’, iyah aku nggak apa-apa”
“kata temenku juga, kamu pucet banget tadi ?!” dia semakin khawatir.
Aku hanya tersenyum, “Adri’, aku nggak apa-apa. Lihat, aku nggak pucet lagi kan ?”
“hmm, okelah kalo gitu. Tapi, kalo ada apa-apa lagi kamu harus ngasih tahu aku !”
“siap pak !” aku menghiburnya. “kalo sama anaknya TNI aku harus tegas nih, hehe.”
“pio-pio jangan bercanda, tapi, gimana gemetarnya udah hilang ?”
“iyah lumayan. Duduk sebentar udah pulih kembali kok, ndri’.”
“Alhamdulillah kalo gitu, udah bel nih, masuk kelas ya,Pio ..”
“oke Ndri !”
***
Dirumah…
                “assalam’alaikum..”
                “wa’alaikumsalam.. mbak Pio. Ibu sama Bapak belum pulang.”
                “iya mbak Ijah, Pio tahu. Pio mau ke kamar, ganti baju terus tidur”
“tapi mbak, kata Ibu, minum obat dan vitamin dulu, mm.. kayaknya mbak Pio kecapekan ya”
“hmm, iya ini. Tadi habis upacara.”
“tapi, mbak Pio nggak apa-apa kan ?”
“nggak kok, aku biasa aja. Udah mbak Jah, nanti aja minum vitaminnya, aku mau istirahat dulu”
“o.. o iya tapi mbak pio.”
“udah nanti aja mbak Jah”
Aku meninggalkan mbak ijah tanpa mendengarkan kata apa yang akan dia ucapkan. Kenapa mbak Ijah mengkhawatirkan aku seperti Bunda ma Ayah. wajarlah. Udah ahh, tidur aja hilangkan sakit kepalaku.
Ketika bangun tidur dan ingin mengambil air wudhu..
                Loh, obat sama vitamin sudah siap di meja kecil kamarku. Dan Bunda tiba-tiba masuk kamarku, terlihat wajah Bunda yang sepertinya sudah sangat khawatir akan keadaanku. Tapi, aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
                “Pio, udah bangun ?”
                “iyah Bund, loh kok Bunda sudah pulang ? katanya pulang telat ?”
                “nggak apa-apa, Bunda Cuma pengen nemenin Pio.”
                “hahaha, Bunda. Pio bukan anak kecil lagi, jadi Bunda nggak usah repot nemenin Pio”
                “tapi, kata Mbak Ijah, Pio kecapekan ?”
“iya, tadi habis upacara Bunda, ya tapi Pio nggak kenapa-kenapa kok Bun. Hmm, jadi penasaran kenapa Bunda khawatir gitu ?”
“ya Bunda khawatir aja sama Pio, kan Cuma Pio yang selalu nemenin Bunda”
“ah Bunda, kan ada kak Pipit juga”
“iyah tapi Pio yang ada di deket Bunda kan saat ini ?”
“he’em, Bunda. J ya sudah Pio mau ambil wudhu dulu”
“iyah nak.” Senyum keibuannya menghiasi wajahnya. “hmm, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Pio”
Aku heran dan jadi penasaran sendiri kok Bunda segitunya yang khawatir denganku. Padahal aku nggak kenapa-kenapa. Cuma kecapekan habis upacara saja, Bunda sudah mengkhawatirkanku, sampai-sampai kerjaan kantor pun ditinggalkan hanya untuk menemaniku dirumah. Ahh, sudahlah. Begitulah seorang Ibu terhadap anaknya.
***
jumat malam sabtu…
                Selama seminggu terakhir ini, aku merasa lelah. Malam ini, aku ingin mengistirahatkan tubuhku yang sepertinya meronta ingin merebahkan diri diatas tempat tidur. Tapi, rasa lelahku terbayar oleh adanya SMS dari Adri’. Aku sangat senang, sampai hilang rasa lelahku karena saking kangennya dengan kekasihku.
Tapi, memang rasa sakit dan lelah tidak dapat diganti oleh apapun. Tetap rasa lelah memaksa tubuhku untuk beristirahat sejenak. Tak seperti biasanya, aku tidak pernah merasakan hal ini. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit, sangat sangat sangat sakit. Seperti tertusuk benda tajam berkali-kali tanpa henti. Aku berusaha menahannya, tapi semakin aku tahan semakin sakit rasanya tusukan-tusukan itu.tak ada seorang pun dirumah yang mengetahui keadaanku saat ini. Tiba-tiba, Aku merasakan badanku lemas tak bertenaga. Aku tertidur sejenak.
Ketika terbangun, Adri mengirimkan pesannya sangat banyak kepadaku tadi, saat aku tertidur. Detik jam dinding memberitahukan bahwa aku masih harus tidur karena pukul 01.25 ayam jantan pun belum terdengar berkokok membangunkan setiap orang. Dan aku ingat, hari ini aku berolahraga, jadi harus berangkat pagi-pagi banget. Tapi aku menyempatkan untuk shalat tahajud sebentar. Aku berdoa..
“ Ya Allah, semoga hari ini hari yang menyenangkan untukku dan hari baik bagiku, amiin”
Aku kembali melanjutkan tidur. Ketika bangun tidur aku merasakan ada yang berbeda dari diriku. Hidungku tiba-tiba mampat dan tak bisa bernafas dengan lega. Selama ini aku tidak pernah merasakan hidungku mampat tiba-tiba, seperti orang asma. Padahal aku tidak sedang sakit flu ataupun pilek dan setahuku aku tidak punya penyakit asma. Tapi, Aku tidak menghiraukannya, mungkin memang aku lagi sakit sinus. Tapi lama kelamaan, rasa mampat dan susah bernafas itu hilang juga dengan sendirinya.
Pagi hari di sekolah..
                Karena Bunda ingin ikut mengantarkan aku, jadi Ayah mengantarkan aku dengan mobil. Meskipun di dalam mobil, Bunda masih menyuruhku untuk memakai jaket dan membawa jaket tebal itu saat disekolah. Karena olahraga kami jam 5 pagi jadi menurut Bunda, udara sangat dingin dia takut aku akan sakit jika terkena udara dingin. Padahal kan bagus ya, udara pagi itu. Hmm, Bunda Bunda..
                Aku menyampaikan salam kepada Ayah  Bundaku, dan mereka menjawabnya dengan senyuman yang dapat menghangatkan pagi ini yang sebenarnya tidak terlalu dingin. Namun, bagiku entah mengapa pagi ini sangatlah dingin. Tapi, aku tak menceritakannnya kepada mereka. Takutnya mereka malah melarangku untuk berolahraga.
                Aku sedikit menggigil ketika sampai disekolah. But, I don’t care about it. Ketika stretching, tiba-tiba hidungku mampat kembali tapi disertai juga rasa kepalaku yang sangat sakit seperti yang sebelumnya pernah aku rasakan itu.
                “aduuh !” aku meluapkan rasa sakitku dengan teriakan kecil yang aku pikir tak ada yang mendengarnya. Tapi, Bundel yang berbaris disebelahku mendengar teriakanku yang memang terlihat menahan sakit yang sangat itu.
                “loh, Noci. Kamu kenapa ? kok tiba-tiba pucet gitu wajahmu ?”
Aku hanya menggeleng karena aku tidak bisa berkata apa-apa, sakit itu membuatku tak bisa membicarakannya. Dengan wajah yang berusaha kubuat meyakinkan, akhirnya Bundel percaya juga.
Aku membiarkannya dan sambil terus beristighfar. Agak mendingan. Namun ketika guruku menyuruh kami semua berlari seperti jogging. Sakit kepala, hidung yang mampat dan nafasku yang cepat kembali lagi. Menjadi tak terkendali. Sangat berat.
 “sekarang kita coba latihan bermain volley ya ?” ajak guru olahragaku.
“ayo pak !!” serentak semua menjawab.
Aku pun terpilih menjadi anggota untuk memainkan permainan ini. Bundel yang tidak ikut, ternyata memperhatikanku sepertinya dia cemas, karena sejak jogging tadi kelihatannya Bundel sudah memperhatikanku. Hmm, tapi, tak apalah lagian aku sudah agak nyaman.
Selama pemanasan sebelum bermain, aku merasakan ada yang berbeda dariku. Kepalaku terasa sangat sakit kembali. Aku sebenarnya tidak kuat untuk menahannya, tapi apa mau dikata, waktu pemanasan sudah habis dan saatnya bertanding.
Karena serunya bermain, sampai-sampai aku lupa dengan rasa sakit kepalaku. Aku menjadi bersemangat untuk bermain. Selama permainan, salah seorang yang aku kenal suaranya berteriak kepadaku.
“Nociiiii … berhenti main !!!”
Aku menoleh, saat menoleh aku melihat ceceran darah segar berceceran di kerudungku dan di atas tanah permainan. Aku terkejut dan seketika aku lemas hingga membuatku ingin merebahkan diri sejenak. Aku jatuh pingsan…
30 menit kemudian…
                Ketika aku terbangun, kedua sahabatku dan kekasihku sudah berada disampingku sedang membersihkan darah yang masih memerahkan bagian hidungku.
                “oughh.. sakit kepalaku..”
                “pio, jangan bangun istirahat saja !” adri’ melarangku untuk bangun.
                “ada apa ini ? apakah ini darahku ?”
                “pio tadi kamu mimisan, banyak darah yang terjatuh dimana-mana.”
“aku tadi sudah bolak-balik memperingatkanmu untuk berhenti bermain, tapi kamu tidak mendengarnya. Saat kamu menoleh, kamu langsung jatuh pingsan.” Jelas Bundel.
“benarkah begitu ?”
“Pio, kamu ini kenapa ? akhir-akhir ini aku perhatikan tubuhmu tidak terlihat sehat. Ada apa sebenarnya ?” Tanya Adri penasaran.
“ aku pun nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan diriku”
Tiba-tiba..
                Suara itu,
                “Pio, Pio, nak kamu kenapa ?” Bundaku datang menghampiriku yang jelas terlihat sangat khawatir.
“hmm, Pio nggak apa-apa Bunda. Kok Ayah ma Bunda kesini kan mestinya ada di kantor?”
                “udah pio nggak usah tanyakan soal itu, Pio kenapa bisa mimisan ?”sahut ayah
                “ich Ayah, Pio nggak apa-apa lagi. Hanya kecapekan mungkin,Yah.”
                “udah Pio sekarang Ayah antarkan ke Rumah Sakit, ayah sudah minta ijin buat Pio”
“ich Ayah, Pio nggak mau pulang. Percaya deh sama Pio, ini Cuma kecapekan ajaJ Ayah dan Bunda jangan terlalu mengkhawatirkan Pio ya, disini Pio ada sahabat-sahabat dan kekasih Pio yang selalu nemenin Pio, Pio masih mau sekolah”
“hmm, apa boleh buat kalo Pio maksa kami, baiklah. Tapi, kalo ada apa-apa lagi Pio cepet-cepet telpon Ayah atau Bunda. Janji ??”
“janji ayah ! J
Sempat terfikir olehku, akankah aku mempunyai penyakit yang kronis ? hmm, tidak ,tidak. Aku hanya kecapekan. Aku berusaha berpositive thinking. “Ya..ya..ya..Pio gak papa”
***
Malam hari ini, aku langsung disuruh beristirahat oleh Ayah dan Bunda. Tapi, aku menyempatkan untuk menulis kejadian hari ini di Diary kecilku, Bookey.
sabtu ,18 Januari 2012
Apa yang telah terjadi pada diriku ? aku mimisan tiba-tiba. Aku takut. Aku sempat bernegative thinking, tapi aku tidak berani bilang kepada siapapun. Aku tak ingin membuat khawatir. Aku memang merasakan ada yang berbeda hidup dalam diriku. Jadi, aku mohon rahasiakanlah !
Sempat terfikir olehku, kenapa Bunda dan Ayah selalu mengkhawatirkan keadaanku. Mimisan sedikit saja kekhawatiran mereka semakin menjadi-jadi. Ada yang mereka sembunyikan. Aku juga merasa, dari dulu aku tidak pernah sakit-sakitan. Dan baru kali ini saja aku sangat sering mengalami pendarahan di hidung.
“astaghfirullahal’adzim..”
Tanpa aku sadari, darah segar itu mengucur dengan sendirinya. Aku cepat-cepat membersihkannya. Kehilangan darah membuatku lemas, aku langsung minum obat penambah darah agar aku tidak kehilangan banyak darah. Dan, membuatku mengistirahatkan sejenak mataku dan tubuhku. Sembari Aku selalu memikirkan rahasia apa yang mereka sembunyikan dariku.
Minggu malam senin…
Sempat terbawa mimpi, mimpiku disitu mata bagian kananku memerah dan semakin memerah hingga membesar dan membengkak. Aku terkejut sehingga membuatku terbangun. Dan saat itu juga, hidungku yang bagian kanan menjadi mampet. Aku melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Aku bergegas menuju kamar mandi. Dan setelah itu langsung cepat-cepat berlari menuju kamar.
Ketika ganti baju dan menatap kacaku. Aku terkejut mataku memerah sangat merah.
“astaghfirullah.. apakah ini mimpi semalam ? benarkah ini ?? kenapa cepat sekali mimpi itu terjadi padaku”
Aku gemetar dan sangat ketakutan. Aku khawatir dan terus menatap mata kananku yang merah seketika terasa ngilu juga dalam mataku. Aku hanya duduk termenung dan memikirkan apakah ini sebenarnya. Tanpa berfikir panjang, aku cepat-cepat berbenah dan memakai kacamata agak buram untuk mengecoh Bunda dan Ayah agar tidak mengetahui mataku.
“Pio, ayo makan !” suara bunda mengagetkanku.
“i..iya Bun..” aku langsung berlari ke meja makan sambil membetulkan kerudungku.
“maaf Pio telat, kerudung Pio susah banget diajak kompromi nih. :D”
“hehe, Pio-Pio, ada ada aja kamu, terus kenapa kok pake kacamata buram segala, ada fashion show disekolah ?”
“haha Ayah bisa aja, Pio janjian aja sama Nela dan Ica buat make kacamata, keren kan aku Yah”
“ahaha ada-ada saja kamu Pio. Ayo cepat makan yang banyak agar tidak lemas saat sekolah nanti”
“iya Ayah” senyum kebohongan itu harus muncul agar Ayah tidak mengetahuinya.
Pagi itu diperjalanan menuju sekolah..
                Pagi ini kabut menyelimuti seluruh jalanan. Kabut itu membuat sinarnya cahaya matahari sangat susah untuk menembus kabut tebal itu, sama dengan diriku yang tidak mendapatkan seberkas cahaya dalam alam penasaran ini. Aku terus saja memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Hmm, aku menjadi sakit kepala jika terlalu memikirkan itu.
                Ketika pelajaran berlangsung, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran. Aku terus saja memikirkan penyakit apa yang sebenarnya ada ditubuhku.
                “ough..” aku berteriak kecil. Tiba-tiba kepalaku sangat sakit. Aku menahannya, tapi sayang tetesan darah dari hidung itu tak bisa ku tahan. Oh tidak aku mimisan lagi. Aku cepat-cepat menghapusnya dari hidungku dengan tissyu.
                “Pak, saya ijin ke kamar mandi” sambil memegang hidung yang penuh darah, aku belum sempat mendengarkan ijin guruku aku sudah meninggalkan kelas dengan segera. Semua teman sekelasku heran melihatku, Ica pun mengikutiku. Ketika menuju pintu kamar mandi dengan jalan yang menghadap ke lantai, aku tak sengaja menabrak orang.
                “oh maaf mbak!”
                “Nocii.. kamu kah itu ? ada apa denganmu ?”
Hah, ternyata Bundel yang tak sengaja aku tabrak. “aku mimisan lagi Bund”
                “apa ?” Ica pun juga kaget mendengarnya yang sudah sejak tadi berada di sebelah Bundel.
                “Udah, kalian jangan telpon Ayahku dan jangan bilang ke sapa-sapa termasuk Adri”
                “tapi Noci kamu itu mimisan lagi matamu itu juga merah kan tapi kamu menutupinya dengan kacamata hitam itu kan!!”
                “UDAH, nggak usah bilang sapa-sapa” aku sedikit membentak agar mereka tak bercerita kesiapapun. Setelah selesai membersihkan darah itu aku langsung berlari meninggalkan mereka dan menuju ke kelas. Aku tak ingin mereka tahu jika aku sering sekali mimisan lagi akhir-akhir ini. Aku ingin menyendiri. Keegoisanku tumbuh karena aku sangat takut dengan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini.
                Jam istirahat aku habiskan di ruang computer, disana aku berusaha mencari apa yang menimpa diriku sebenarnya dengan gejala yang aku miliki. Mataku sangat merah dan kali ini membengkak perlahan-lahan. Sangat sakit. Aku berusaha mencarinya, dengan sedikit terkaget.
“Apa ? apa itu ? penyakit yang aku alami itu sudah kronis dan sudah memuncak saat ini ??! Rhabdomiosarcoma. Penyakit apa ini ? apa ? apa ini ?
Aku berlari menuju perpustakaan sekolah, dan menuju rak buku tentang macam-macam kanker untuk meyakinkan hal itu. Penyakitku itu termasuk kanker jaringan lunak. Apa yang terjadi. Ada apa ini. Aku menangis ketika membaca artikel itu. Aku terkena kanker. Tidak terfikir olehku, penyakit kronisku selama ini adalah kanker itu. Aku banyak beristighfar. Aku takut. Aku terkejut. Seketika lemas badanku. Aku menuju ruang kelas tanpa menggunakan kacamata itu. Dan terlihat jelas mataku membengkak sangat besar. Semua temanku terkejut. Tetapi untung, aku tidak menemui Adri seharian ini. Semoga dia tidak mengetahuinya. Tak kusangka, Ica diam-diam menelpon Ayahku dan sudah menyimpan nomornya seminggu yang lalu. Alhasil, ayah langsung menjemputku.
Sampai dirumah..
                “Pio.. nak kamu tidak apa-apa ? Matamu membengkak nak ?”
Ocehan Ayah tidak kugubris sama sekali. Aku marah, kenapa Ayah dan Bunda tidak bercerita dari awal tentang penyakitku yang kronis ini dan sekarang sudah menajdi akut. Aku terdiam duduk manis di sofa. Namun akhirnya..
                “Ayah kenapa ayah tidak bercerita bahwa aku mempunyai penyakit ini, penyakit ini sebenarnya sudah lama ku derita kan ? tapi kenapa Ayah dan Bunda tidak menceritakannya padaku dari awal, kenapa Ayah? Selama ini aku menahan rasa sakit yang menjalar di wajah kanan ku, aku susah bernafas dan seringkali mimisan Ayah!” aku membentak sembari menahan sakit mataku itu. Air mataku pun terjatuh.
                “maafkan Ayah dan Bunda, Pio. Ayah gak ingin anak Ayah jadi pemurung karena penyakit ini. Aku ingin melihat anak Ayah ceria bersama teman-teman Pio”
                “ayah salah, bukannya selama ini Pio ceria, tapi sebenarnya Ayah tidak tahu, aku menahan sakit di mataku yang membengkak ini Ayaah.” Aku menangis sejadi-jadinya.
                “Pio, pio maafkan Ayah nak. Ayah sangat menyesal tidak memberi tahu. Ayah takut Pio tidak ingin bersekolah dan selalu murung, tapi ayah salah ternyata anak Ayah ini adalah anak yang tangguh. Maafkan Ayah, pio”
                Aku tak bisa menjawab pernyataan ayah itu, tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sudah memaafkan ayah.
                “ayah sangat menyayangi Pio. Ayah tidak ingin kehilangan Pio” ayah meminta maaf sembari menangis dan memeluk aku. Tapi, apa yang dirasakan Ayah. Aku malah lemas tak bertenaga, karena aku kembali mimisan. Darahku berkucuran sangat banyak. Kemeja Ayah memerah karena darahku. Aku jatuh pingsan.
                “tiit.. tiiit.. tiit..”
Suara itu membuatku terbangun yang mengganggu tidurku. Dan, bau alcohol yang sangat menyengat menusuk hidungku.
                “Pio nak kamu sudah bangun ??”
                “Bunda, pio dimana.. kok Pio diinfus”
                “Pio dirumah sakit nak, tapi Pio udah enakan ?”
                “mata Pio sakit sekali Bund.”
                “sabar ya sayang, dokter berusaha untuk mengecilkan dan mengembalikan mata Pio seperti dulu lagi. Sabar ya nak. Pio harus kuat.”
ketika itu..
                “Bunda, Ayah mau bicara sebentar dengan Bunda”
                “iya Yah.” “Pio tunggu sebentar ya, ayah manggil Bunda”
                “iya Bund”
Wajah ayah kok kelihatan lesu begitu, dan ketika membuka pintu ayah hanya melihatku dengan mata yang sayu dan tatapan yang terlihat tidak tega melihat keadaanku. Aku membalas senyuman kepada Ayah. Ketika mereka bicara berdua, terdengar tangisan Bunda yang sedikit ditahan agar tidak mengeluarkan suara yang keras. Tapi aku tetap mendengar tangisan itu. Tak berapa lama, Bunda masuk ruanganku dengan mata yang sedikit sembab karena tangisan itu mungkin.
                “ada apa Bunda ko nangis ?”
                “ha, emangnya Bunda terlihat habis menangis ? ah ndak, Bunda nggak nangis.”
                “oh aku kira kenapa” aku tahu, sebenarnya mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi sudahlah, tidak ada yang perlu aku tahu, toh sekarang aku terkena penyakit yang ganas.
Senin pagi di rumah sakit..
                “Pio ayo makan bubur ayam kesukaan Pio” tawar Bundaku.
                “tapi ayah mana ? ayah sedang masuk kantor jadi nggak bisa nemenin Pio.”
Tiba-tiba..
 “aduh,, mata Pio sangat sakit Bunda.. dan Pio juga mimisan lagi”
Bundaku terkejut ketika sedang menuangkan air minum. Sekejap, Bunda langsung memanggil Dokter Ilham. Sakit itu memuatku tidak bisa menahannya, aku terus berteriak kesakitan. Tak lama Dokter pun datang dan membawaku keruangan yang tidak aku tahu. Aku terus berteriak kesakitan. Tak lama kemudian, suntikan jarum menusuk lengan atasku dan aku mulai tenang. Tapi tak lama, aku pun merasa menggigil dan menjadi sangat kedinginan. Aku berkata “dingiin.. dingiin..” tapi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Lama kelamaan rasa dingin itu, bertambah menjadi sangat dingin dan aku semakin menggigil. Namun beberaa saat kemudian aku mulai tenang kembali. Dan tak lama aku tersadar. Dan aku sudah berada kembali di ruangan inapku. Ternyata disana, sudah ada Adri, Nela, Ica dan teman sekelasku yang lain.

“hmm..’” aku perlahan membuka mataku.
“Pio udah sadar ?” tanyak Adri dengan senyumannya.
“adri, sejak kapan ?”
“baru aja, kamu nggak apa-apa kan ?”
“iya, aku agak baikan.”
Ternyata teman-temanku sedang menjengukku. Aku sangat senang mereka hadir menemaniku. Aku tidak ingin berada disini aku ingin belajar disekolah bertemu setiap hari dengan teman-temanku. Tapi apa daya, aku harus menjalani rawat inap disini.
Keesokan harinya..
                Tak kusangka, benjolan di mata  kananku bertambah besar dan tidak mengempis, rasa sakit mulai mendera. Aku kembali merasakan sakit yang kemarin masih tersimpan di memoriku. Bundaku mengetahuinya, serentak aku dibawa kembali untuk menjalankan proses kemoterapi yang memang harus dilakukan untuk menghilangkan kanker-kanker itu. Sangat kesakitan, namun ketika aku di kemo, rasa sakit itu hilang kembali dan aku merasa agak enakan.
                Pada saat itu juga, dokter sedang membicarakan sesuatu tentang kondisiku yang memang sudah sangat akut dan berada di stadium akhir. Sehingga harus dijalankan oprasi untuk menghilangkan sel-sel kanker itu. Tapi, Ayahku menolak dengan keras. Karena, ayah tidak tega membiarkan wajah anaknya yang harus diambil setengahnya dan akan menjadi cacat permanen, kecuali dilakukan oprasi plastic. Meskipun tawaran oprasi plastic, Ayahku bersikeras untuk tidak melakukan cara alternative itu untuk membunuh sel-sel kanker yang semakin ganas menyerang wajah kananku.
                Aku tak menyadarinya, bahwa rambutku berada diatas bantal. Rambutku rontok ? aku memegang kepalaku, ternyata sudah tidak ada lagi rambut yang tersisa di kepalaku. Aku terkejut. Aku menangis terisak. Bundaku mendengarnya. Membujukku dan meyakinkanku bahwa rambutku yang panjang lurus itu akan tumbuh lagi. Aku sebenarnya agak tenang, tapi aku tau rambut indah itu gak akan tumbuh lagi. Aku rasa karena obat keras saat kemoterapi itu yang membuat rambutku rontok tak bersisa.
                Selama seminggu aku harus menjalankan kemoterapi itu karena tidak ada jalan lagi untuk membunuh sel kanker itu selain dengan jalan oprasi yang tentu sangat ditolak keras oleh ayahku. Tapi perubahan yang signifikan sudah terjadi dalam hidupku, ternyata Allah masih memberiku kesempatan untuk bertemu dengan semua orang yang sangat aku sayangi. Kemoterapi yang rutin aku jalani hingga Kamis, ternyata berbuah manis. Dokter sudah menyatakan sel-sel kanker itu sudah lenyap. Dan hari Jumat, aku sudah berada di kamarku yang sanga aku rindukan. Tak lupa aku bersyukur kepada Tuhanku yang sangat aku sayangi.
                “Ya Allah, Alhamdulillah terimakasih ya Allah. Engkau masih memberiku kesempatan untuk berkumpul dengan orang yang aku sayangi. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah ! J
Hari Sabtu di sekolah..
                Semua teman menyambutku saat aku kembali kesekolah, termasuk Adri. Aku sangat merindukan dia dan teman-temanku. Tapi sayang, aku kembali kepada Adri dengan kepala yang tidak dihiasi rambut lurusku yang sangat disukai oleh Adri, namun Adri belum mengetahui hal itu aku harus menuembunyikannya karena aku tak ingin membuat Adri tambah bersedih karena rambutku yang hilang itu. Seharian itu, aku selalu bersama dengannya, dia bercerita banyak dan isinya cerita yang sangat lucu dan membuat aku tertawa. Seharian aku menjadi sangat bahagia bersamanya.
                Hari Minggu dia mengajakku untuk berjalan-jalan dan sebelumnya aku sudah meminta ijin kepada Ayah dan Bundaku. Ternyata mereka mengijinkanku. Aku sungguh senang seharian aku menghabiskan waktu dengannya, bercerita, bercengkrama dibawah pohon yang rindang. Dia membisikkanku sesuatu,
                “Pio, besok hari jadi kita”
                “apa ? benarkah itu ?” aku pura-pura terkejut. Sehingga dia mengira aku lupa dengan hari yang tentu sangat spesial untukku dan Adri yang tak mungkin aku melupakannya. Aku mulai mengguraunya.
                “benarkah itu Adri ? aku kayaknya lupa tuh. Sepertinya aku amnesia mendadak deh. hahaha”
                “ah Pio, masak kamu lupa sih ?” wajahnya tiba-tiba cuek dan kusut.
                “hehehe.. Adri- adri, mana mungkin sih aku lupa dengan hal itu ?”
                “ternyata kamu nggak lupa, Pio ?? waah kamu ngerjain aku nih, ntar aku balas kamu!”
                “waiissh, tenang Bray.. santai. Haha,, sayang sayang..”
                “emm, besok kita jalan-jalan lagi yuk Pio. Aku ajak kamu ketempat yang kamu suka.”
                “oh ya, beneran ? wah surprise nih. Oke deh.. siap Pak TNI !” aku meledeknya.
                “Ich Pio, yang TNI itu Ayahku bukannya aku tahu.”
                “hehehe, bercandaaa. Week !”
Malam hari ini, aku tidak bisa tidur, karena teringat hari ini yang sangat menyenangkan untukku. Waah.. aku sangat senang hidup normal kembali. Hmm, karena aku tidak boleh teralu capek, akhirnya aku tertidur.
                Tapi, aku tak menyangka akan bermimpi seperti yang pernah aku mimpikan. Sekarang dalam mimpiku, mata kiriku memerah dan membengkak seperi mata kananku. Tak kusangka, aku bermimpi sambil mengigau. Karena terkejut, aku pun terbangun.
                “tidak-tidak aku tidak sakit lagi.”
Aku mengeluarkan keringat dingin dan bergemetar seperti menggigil dan sangat ketakutan. Bundaku yang mendengarnya, lansung membuka kamarku dan melihat aku sedang menggigil.
                “kamu kenapa Pio ?”
                “Pio merasa sangat kedinginan Bunda. Gak tahan. Sangat dingin!”
                Bunda langsung memelukku erat dan menyelimuti aku agar tidak kedinginan dan menggigil. Tak lama, aku pun tertidur dalam pelukan hangatnya seorang Ibu.
                Pagi menyapaku dengan bunyi alarm. Aku capat-cepat melihat kekaca,  ternyata mata kiriku memerah lagi. Oh tidak… apa lagi ini, setelah mata kananku yang menonjol seperti monster, dan rambutku yang sudah meninggalkan kepalaku, ternyata sekarang, mataku kembali memerah dan parahnya lagi sel itu berpindah ke mata kiriku. Ya Allah cobaan apa lagi ini.
                Ayah dan Bundaku, mengetahuinya, lagi-lagi. Masih pagi, aku sudah dibawa kerumah sakit. Selama perjalanan kesana, ternyata aku mimisan lagi, cepat-cepat aku meminta tissyu yang berada di mobil.
                “Pio kamu mimisan lagi nak ?”
                ‘”iya Yah, tapi ayah setir saja dengan benar dan Bunda temani Ayah, Pio udah biasa, nggak apa-apa”
                “sabar ya Pio, sebentar lagi sampai”
                Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang menahan sakit. Sampai di rumah sakit, aku langsung dibawa oleh suster ke ruangan dimana aku dikemoterapi. Aku menjalankan prose situ, dingin menjalar disekujur tubuhku. Menggigil, itu pula yang aku rasakan. Tak lama, aku pun merasa tenang dan kembali keruangan inapku yang dulu. Ternyata, sel-sel kanker itu muncul lagi dan menggerogoti wajah bagian kiriku, tepatnya di mata kiri.
                Ya Allah, pa lagi ini. Saat ini aku punya janji untuk bersama dengan Adri merayakan Hari Jadi kami, 24 Januari 2012. Tapi, Allah berkehendak lain. Aku harus menjalankan proses ini untuk menghilangkan sel kanker ini dan berjuang meawan kematian. Karena, kanker ku saat ini sudah langsung mencapai tahap akhir atau stadium akhir. Aku haru berusaha untuk menghilangkannya dari dalam tubuhku ini. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan penyakit ini. Pakiranku tertuju lagi pada tanggal, 25 Januari  karena hari itu adalah hari Ulang tahu Adri. Aku ingin mengucapkan selamat secara langsung dan memberikan hadiah yang sudah aku siapkan saat aku kembali kerumah kemarin. Aku tidak akan melupakan semua hari tentang kita.
                Aku tak sadarkan diri, dan mengalami koma setelah menjalani kemoterapi. Karena, tubuhku tidak kuat lagi menahan obat-obat keras yang masuk kedalam tubuhku dan akhirnya aku koma. Adri pun tahu bahwa aku sedang koma, karena Bundaku menelponnya. Dia cepat-cepat datang kepadaku. Dia rela, tidak masuk sekolah demi aku. Tapi sayang, apa yang dibuatnya itu percuma, aku tidak tahu kapan aku sadar.
                Malam ini, adalah malam dimana besok Adri berulangtahun. Tapi, ternyata, dia tidak pulang, dan terus menunggui ku di rumah sakit. Aku tidak tega dengannya. Aku merasa kasian kepadanya, karena dia tidak beristirahat sekali demi menjagaku. Aku pun merasa disuruh untuk bangun dari istirahatku.
                “hmm J Adri kenapa kamu ada disini ??”
                “hah.. Pio kamu banguun ?? pio kamu kenapa ? jangn tidur lagi, aku ingin sama kamu. Aku mohon kamu jangan tidur dan pergi ninggalin aku, pio. Aku nggak bisa !” dia menagis sambil memelukku.
                “adri, tenanglah.. aku disini, aku nggak kemana-mana kok”
                “janji yaa..??”
                “iya aku janji. Kamu sudah makan belum, ini udah jam 10 malam”
                “halah, udah jangan pikirka aku. Aku baik-baik saja”
                “jangn gitu, kamu harus maem, jangan sampai sakit, Ndri.”
                “iya Pio sayang J aku menyayangimu.”
                “aku pun sayang juga denganmu”
                Aku tersenyum untuk memberitahu bahwa aku tidak kenapa-kenapa. Tapi, sebenarnya, aku sangat merasa kesakitan sebab sel-sel kanker itu mulai dengan ganasnya menggerogoti mataku. Sebenarnya tubuhku sangat lemas, tapi akumemaksanya untuk tidak tidur. Aku ingin bersama mereka.
                “pio kamu sudah sadar nak ?”
                “sudah Yah, ayah dan bunda sudah maem belum, jangan sampai nggak maem ya gara-gara Pio.”
                “iya nak, Bunda dan Ayah nggak akan lupa makan asal Pio sembuh kembali, Bunda sayaang pio”
                “ayah juga sayang Pio, makanya Pio harus kuat”
                “iya Ayah, Bunda.. J
                “Pio, kamu cepat sembuh ya..” mamanya Adri juga datang menjengukku.
                “iya tante makasih”
                “Piyooo…” suara itu tak terdengar asing di telingku.
                “kak Pipiit ! akhirnya kakak pulang juga. Piyo kangen ama Kakak tahu.”
                “Pio, kakak juga kangen banget ma Pio. Pio yang kuat ya. Harus sembuh demi Ayah, Bunda ma Kakak.”
                “iya kakak… aku juga harus sembuh!”
                “Nocii… aku kangen kamu”
                “haa, Bundel aku juga kangen kamu. Ko malem-malem kesini, jangan kayak gitu yaa, aku jadi repotin Bundel jauh-jauh dateng”
                “ah Nocii.. jangan gitu. Cepet sembuh ya”
                Hmm, aku tenang wajah mereka senang melihatku tersadar dari koma. Tapi, aku heran, kenapa mereka terlihat senang dan ceria. Aku tahu pasti agar aku tigak putus asa dan terus membuatku agar berusaha untuk sembuh. Namun, dokter berkata pada Ayahku yang sempat terdengar dari luar ruangan.
                “pak, ini suatu keajaiban. Masih sempat dia terbangun dari komanya. Sangat signifikan untuk terbangun dari komanya, tapi  Pio ini berbeda dia punya ambisi untuk sembuh dan membuat orang disekelilingnya merasa senang. Tapi, saya rasa dia hanya hidu untuk hari ini saja. karena, saya sudah mengecek bahwa, sel kankernya tidak bisa dibunuh dan tetap menggerogoti mata kiri, Pio. Pio sangat hebat dapat menahan rasa sakit yang sangat luar biasa itu.”
                “Iya Dokter, kami sekeluarga sudah mengikhlaskan Pio, kami tidak tega tetap membiarkan Pio tetap hdup, namu harus menahan rasa sakit yang amat sangat yang hanya bisa dirasakan oleh dirinya. Saya menyayanginya”
                “baik Pak Akbar, sabar dan ikhlaskan diaJ
Di dalam ruangan..
                 Aku pun  juga menyangka, aku terbangun dari tidurku hanya untuk berpamitan dengan mereka, terutama dengan Adri, kekasihku.
                “semuanya, boleh nggak Pio minta waktu sebentar buat bersama dengan Adri’ ?”
                “hmm, iya sayang, nggak apa-apa” dengan halusnya Bunda mengijinkanku.
                Akhirnya semua orang meninggalkan ruanganku, tinggal aku dan Adri yang berada dalam ruangan putih bersih itu.
                “Adri’, sekarang jam 11.30 malam, apa kamu nggak ngantuk ?”
                “ ndak Pio, aku nggak ngantuk sama sekali. Pio, kamu nggak apa-apa kan?”
                “nggak Adri, aku nggak apa-apa. Adri, maaf ya, tadi aku nggak bisa jalan-jalan sama kamu, sebenernya aku ingin banget rayain hari jadi kita. Tapi, aku membatalkan semuanya.”
                “Pio, udahlah, aku nggak apa kok, lagian uda aku seharian udah sama kamu kan ?”
                “iya Ndri’, makasih banyak yaa”
                Tiba-tiba, hidung kiriku mampat dan mataku terasa sangat sakit. Tapi, aku tidak ingin menampakkannya didepan Adri’. Aku mencoba bangun untuk mengambil sesuatu di dalam laci.
                “eh Pio kamu ngapain jangan bangun dari tempat tidur.”
                “apaan sih, aku tuh nggak apa-apa tahu” sedikit bercanda. “Emm, ini kado ultahmu Adri’, Met Ultah ya.. maaf ngucapin duluan sebelum waktunya, besok.”
                “ya Allah, Pio, aku nggak butuh kadomu, aku butuh kamu buat selalu bersamaku”
                “Adri’, panjang umur ya, sehat selalu, jangan telat maem dan selalu inget sama Allah, percaya deh, Allah selalu menjaga kita, aku dan kamu, Ndri’.”aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku tau sebentar lagi aku akan meninggalkannya.
                Tiba-tiba aku tak bisa menahan sakitnya mataku yang sudah sangat membesar dan sakit yang tak tertahan. Sakit sangat sakit, aku berteriak kesakitan.
                “Pio kamu kenapa ?”
                “nggak gak apa-apa. Adri aku sangat sayang dengan mu. Dan, Terimakasih.. inilah hari Indahku bersamamu Ndri’...”
                “Pio, Pio.. banguun..”
                Aku sudah tak bisa menahan rasa sakit yang amat sangat ini. Aku ingin menyudahi perangku dengan sel kanker ganas itu. Akhirnya aku pun tak sadarkan diri dan saat itu tangan Adri menggenggam erat tanganku.
                “aku pun juga menyayangimu, Pio. J
                Semua orang, Ayah, Bunda, Kak Pipit, Dokter Ilham dan yang lainnya hanya dapat melihat dari luar ruangan. Sel ganas ini sudah terlalu ganas dan kebal terhadap obat kemoterapi. Dan, Dokter Ilham tak bisa berbuat banyak. Ayah dan Bunda sudah ikhlas melepaskan kepergianku.
                Akhirnya, usailah sudah perjuanganku melawan sel kanker ganas ini. Aku pun tidak ingin meninggalkan sedikit kesedihan diwajah mereka yang menyayangiku. Karena, aku tak ingin melihat wajah sedih mereka saat ku tinggal pergi.
                Hari yang indah untukku…
                J
***
                 







TAMAT